Oleh: M. Faqih Nidzom
Dosen Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id, Pada tanggal 23-12-2018, penulis diminta teman-teman Indonesia Tanpa JIL (ITJ) Surabaya untuk berbagi ilmu terkait Islamic Worldview dan Konsep Tuhan dalam Islam di Sekolah Pemikiran Islam yang mereka selenggarakan. Dalam prolog, penulis menyampaikan kepada peserta bahwa diantara ciri utama ulama dan intelek di sepanjang sejarahnya adalah memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Mereka hadir untuk umat, merespon tantangan-tantangan yang ada, dan memberikan solusi dan jawaban yang relevan, dengan bekal otoritas dan adab keilmuan yang mereka miliki.

Kita lihat bagaimana karya-karya produktif mereka dalam rangka itu. Kita tengok sejarah bagaimana para ahli Hadis, fiqih, tafsir, kalam, tasawuf, filsafat dsb, dengan karya gemilangnya, merespon tantangan ummat, dan memberikan jawabannya. Maka kami yakin, sekolah pemikiran inipun hadir dalam rangka tersebut, mencetak kader-kader ulama-intelek yang otoritatif.

Lalu kami sampaikan analisa Syekh Ali an-Nadwi, sebagaimana diuraikan Dr. Adian Husaini dalam buku 10 Kuliah Agama Islam, bahwa diantara tantangan yang dihadapi umat adalah tantangan keimanan, yang saat ini datang dengan bentuk yang berbeda. Dulu, tantangan iman datang berupa ancaman fisik dan mudah dikenali. Kaum muslim dipaksa meninggalkan agama mereka. Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabbah, dll merasakan itu. Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, memberikan tekanan iman yang berat kepada muslimin di Granada. Hanya ada tiga pilihan; masuk Kristen secara paksa, keluar dari Spanyol tanpa harta benda, atau dibunuh.

Kini, walaupun ancaman fisik masih ada di beberapa tempat, tapi di Indonesia khususnya, tantangannya berbeda, yaitu hegemoni dan cengkeraman peradaban Barat berupa ide-ide liberal, sekuler, materialistis dsb. Dan kesemuanya ini, ada di sekitar kita, melalui media, kultur budaya, pendidikan, dst. Belum lagi dari internal; ada tantangan aqidah dan aliran kepercayaan yang menyimpang. Tantangan seperti ini cukup sulit dikenali, karena masuknya dengan halus dan tidak terasa.

Ini sebagaimana disinyalir dalam al-Qur’an:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap nabi-nabi itu musuh, yaitu setan-setan –dari jenis- manusia dan jin, mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah untuk menipu.”
(Q.S. al-An’am; 112).

Ya, tiap masa ada tantangan keimanan bagi masing-masing umat, dengan bentuk berbeda-beda, sebagaimana para Nabi dulu mengalaminya. Nah tantangan keimanan kita aktual ini adalah aqidah dan pemikiran, dimana kita dituntut untuk memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan meresponnya. Dan mengkaji konsep Tuhan dalam Islam secara komprehensif, seperti kajian kita kali ini, menemukan urgensinya. Ya, itu karena kedudukan konsep Tuhan yang tinggi dalam aqidah dan struktur bangunan Worldview Islam.

Ya, tiap masa ada tantangan keimanan bagi masing-masing umat, dengan bentuk berbeda-beda, sebagaimana para Nabi dulu mengalaminya. Nah tantangan keimanan kita aktual ini adalah aqidah dan pemikiran, dimana kita dituntut untuk memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan meresponnya. Dan mengkaji konsep Tuhan dalam Islam secara komprehensif, seperti kajian kita kali ini, menemukan urgensinya. Ya, itu karena kedudukan konsep Tuhan yang tinggi dalam aqidah dan struktur bangunan Worldview Islam.

Bahkan filosof Barat seperti Thomas F. Wall pun mengakui, dimana konsep Tuhan ini menjadi elemen terpenting dalam worldview manapun. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sangat mungkin kita percaya bahwa disana ada arti dan tujuan hidup. Dan jika kita konsisten kita akan percaya bahwa sumber moralitas adalah kehendak Tuhan dan Tuhan adalah nilai tertinggi.

Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitab al-Ibadah fi al-Islam pun mengingatkan, bahwa sejatinya, sepanjang sejarahnya, bagaimana manusia menjalani kehidupan ini sangat tergantung bagaimana ia menjawab tiga pertanyaan berikut; 1. Siapa saya? Yang berimplikasi pada pertanyaan berikutnya; saya diciptakan atau tidak? Siapa yang menciptakan? terdiri atas apa saya? Dst. 2. Akan kemana saya? Dan berimplikasi pada pertanyaan; apa ada kehidupan setelah kematian? Adakah pertanggungjawaban? 3. Mengapa saya diciptakan? Mengapa berbeda dengan makhluk-makhluk lain? Untuk makan minum saja kah? Untuk main-main? Atau untuk apa, dan bagaimana mesti menjalaninya?

Pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya inilah yang kemudian melahirkan konsep-konsep, yang tentu akan berbeda-beda antara agama satu dengan yang lain, atau aliran kepercayaan satu dengan lainnya. Dalam Islam, jawaban itu sudah terangkum dalam Aqidah, Syariah dan Akhlak.

Setelah menyampaikan prolog diatas, penulis memaparkan pembahasan tentang konsep Tuhan tulisan Dr. M. Kholid Muslih yang terangkum dalam buku “Worldview Islam; Pembahasan tentang Konsep-Konsep Kunci dalam Islam”. Mengutip kitab Faishal at-Tafriqah baina al-Imān wa az-Zandaqah karya Imam al-Ghazali, beliau menyebutkan adanya lima macam wujud yaitu: pertama: wujūd dzatii (wujud yang ada dengan sendirinya, tanpa membutuhkan lainnya untuk ada), kedua: wujūd hissi (wujud fisik yang dapat diindera dengan nyata oleh indera), ketiga: wujūd khoyali (wujud yang tidak ada dalam alam nyata, hanya ada di dalam alam pikiran) seperti wujud lautan dengan air susu, keempat: wujūd aqli (wujud spiritual yang ada dalam akal pikiran) seperti wujud spiritual dari tangan Tuhan yaitu hakekat makna yang terkandung dari tangan yaitu kekuatan, dan kelima: wujūd syibhi (wujud yang tidak sebenarnya, bukan yang asli, hanya menyerupai yang asli atau yang sebenarnya) seperti wujud kenikmatan di surga yang digambarkan menyerupai apa yang ada di dunia.

Nah, wujud Tuhan, karena ia metafisis dan non empiris (ghaibi), ia mempunyai metode dan alat ukur yang bisa digunakan untuk menakar validitas kebenarannya. Pertama, dengan Informasi yang dibawa oleh seseorang yang bisa dibuktikan bahwa ia adalah benar-benar utusan Tuhan melalui alat bukti yang disebut “mu’jizat”. Dalam kajian epistemologi Islam, sumber ini disebut dengan khabar shadiq. Mu’jizat adalah hal-hal diluar kebiasaan yang muncul dari seorang yang mengaku dirinya utusan Tuhan untuk membawa berita dan pesan-pesan-Nya. Kebenaran mu’jizat dibuktikan dengan ketidak berdayaan manusia untuk menandingi atau menghadirkan hal serupa. Dengan mu’jizat seakan Tuhan mengatakan:

“Aku mengutus seorang utusan yang akan menyampaikan informasi dan pesan-pesan-Ku. Tanda kebenaran atau kejujuran utusan-Ku itu adalah “mu’jizat” yang tidak bisa kalian tandingi atau hadirkan hal semisal”.

Jika kebenaran mu’jizat yang dibawa oleh seorang Rasul tersebut dapat dibuktikan secara logis dan rasional, maka segala informasi yang dibawanya adalah benar adanya berasal dari Tuhan. Oleh karenanya harus diterima sebagai kebenaran, meski terkadang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran disebabkan karena memang termasuk metafisik.

Kedua: alat ukur rasional-logis (dalil ‘aqly). Alat ukur ini juga harus bertumpu kepada sandaran yang disebut al-ilmu adh-dharūri atau al-badīhi (aksioma) yang tidak lagi membutuhkan atau tidak bertumpu pada sandaran lagi yang berupa (dalil/argumentasi, penentu atau pembenar). Disinilah peran para mutakallim dan filosof muslim sangat berperan.

Selain menggunakan dalil naqly, mereka menggunakan dalil ‘aqly (argumentasi rasional-logis) untuk membuktikan kewujudan Tuhan. Diantaranya adalah argumen kosmologis dengan menyandarkan pada penciptaan alam sebagai realitas semesta, dilihat dari sebab dan geraknya, Argumen ontologis yang berdasar pada konsep wujud, dan argumen teleologis, yang berdasar pada kemestian adanya tujuan dalam penciptaan. (Uraian lebih jauh tentang argumentasi rasional menurut para mutakallimun dan filosof muslim bisa dilihat misalnya di: M. Said Ramadlan al-Buthi, Kubra Yaqiniyyat al-Kauniyyah; Wujud al-Kholiq wa Wadhifat al-Makhluq, (Damasqus: Dar al-Fikr, Pengulangan Cet. VIII, 1997), hal. 79-96. Bisa juga di Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan; Panduan memahami Tuhan , Alam dan Manusia, (Bandung: Mizan, 2017), hal. 15-25).

Kemudian pembahasan penulis lanjutkan dengan al-asma’ wa-s-sifat Allah swt, dengan beberapa silang pendapat para mutakallim tentangnya, serta relevansinya dengan konteks kehidupan kita sehari-hari. Begitu juga pembahasan tentang spektrum konsep Tauhid dan pengaruhnya pada diri seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir, untuk lebih mengelaborasi konsep Tauhid, kami menyampaikan pemaparan intelektual muslim terkenal asal Pakistan, Ismail Raji al-Faruqi di salah satu karya monumentalnya, Tauhid; Its Implication for Thought and Life. Ia menyebut, Tauhid akan membentuk pandangan hidup dan visi tentang realitas dan kebenaran, tentang waktu, sejarah manusia dengan beberapa prinsip, yaitu konsep Maha Pencipta dan Ciptaannya, konsep penciptaan manusia, jin dan alam semesta serta tujuannya, hubungan manusia dan alam, serta konsep hubungan manusia dan manusia lainnya, sebagai tanggungjawab kemanusiaan (moral, sosial).

Dari konsep tauhid sebagai landasan pandangan hidup ini, al-Faruqi mengelaborasinya menjadi intisari peradaban Islam. Ini bisa dimengerti karena peradaban adalah hasil kerja sekumpulan manusia atau individu-individu pembentuknya.

Secara metodologis, ia gambarkan prinsip kesatuan, rasionalitas dan toleransi yang terkandung dalam spektrum tauhid. Ini tentu sangat mendukung perubahan sosial karena diantara ajaran Islam berbicara tentang itu. Dan akhirnya akan mampu mengembangkan keilmuan dan produktifitas tinggi dalam berbagai bidang, alih-alih mengekangnya, sebagaimana di dunia Barat-Kristen.

Adapun dari dimensi isi peradaban, al-Faruqi memaparkan tauhid ini sebagai prinsip mendasar bagi bangunan metafisika, etika, aksiologi (tata nilai), masyarakat, dan estetika (nilai seni dan keindahan). (lebih jauh, bisa dibaca karyanya Tauhid; Its Implication for Thought and Life, dan buku Atlas Budaya Islam).

Ini selaras dengan ungkapan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi bahwa Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam telah sempurna sejak selesainya tanzil. Dalam buku Misykat-nya beliau menyebutkan, Kalam dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim dan filosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan dengan metode yang sesuai dengan umat dan zamannya. Penjelasan al-Qur’an dan hadith cukup untuk membangun peradaban. Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks al-Qur’an tidak bermasalah. Kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview). Juga, Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri.

Lebih jauh beliau menyebut: “Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat. Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus.”

Akhirnya, sebagai refleksi untuk seluruh peserta, kami sampaikan relevansi mengkaji karya-karya intelektual muslim terkait dengan tauhid dan peradaban, sehingga kita sebagai generasi muslim memiliki modal yang kokoh untuk membangunnya kembali. Setidaknya, dengan belajar prinsip-prinsip diatas, kita semakin bangga dengan sejarah dan identitas kita sendiri.

Akhirnya, sebagai refleksi untuk seluruh peserta, penulis sampaikan relevansi mengkaji karya-karya intelektual muslim terkait dengan tauhid dan peradaban, sehingga kita sebagai generasi muslim memiliki modal yang kokoh untuk membangunnya kembali. Setidaknya, dengan belajar prinsip-prinsip diatas, kita semakin bangga dengan sejarah dan identitas kita sendiri.

Syukur pula, jika dengan kebanggaan itu ghirah kita semakin kuat, dan semakin semangat untuk melanjutkan kerja-kerja peradaban, sesuai dengan kapasitas masing-masing, dan kesemuanya dengan landasan tauhid dan worldview yang benar. Dan setidaknya, sekolah pemikiran yang diselenggarakan ITJ Surabaya ini adalah langkah strategis untuk memulainya. Wallahu A’lam

One Comment

  1. Pingback: Makna Sains Islam dan Agenda Islamisasi Ilmu – Aqidah and Islamic Philoshophy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *