Oleh: Moh. Isom Mudin
Dosen Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id. Quba, Senin 8 Rabi`ul awwal tahun 14 dari kenabian tidak akan pernah terlupakan umat Islam. Setelah melaksanakan perjalan yang cukup menegangkan, melelahkan, juga penuh rintangan. Saat peluh masih membasahi wajah dan dahaga masih belum enyah, inisiatif pertama yang ada dalam fikiran Nabi Muhammad saw adalah membangun tempat Ibadah. Sebenarnya, hanya empat hari singgah di dusun ini, waktu yang cukup singkat. Namun, masjid Quba menjadi menjadi saksi bisu, bahwa tempat ibadah adalah pertama dan utama yang mesti diperhitungkan

Tanpak kini Masjid Quba: masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah

Juga, Jum`at Rabi`ul Awwal 1 H, awal Sang ‘purnama’ menyinari peradaban Islam. Tepat di atas tanah kembar yatim Sahl dan Suhail, didirikan bangunan sederhana, Masjid Nabawi. Sekali lagi, rumah sebagai tempat Ibadah adalah prioritas utama yang terlintas dalam fikiran beliau pertama kali. Nabi sendirilah yang mencari batu-batu sekaligus peletakanya. Satu syai`r  Rasul memompa semangat “Inilah kerja yang lebih menyanjung dan menyucikan-Nya”. Para sahabat pun meyambut, “jika kita duduk saja dan Rasul kerja, ini tersesat namanya” (Rahiq al-Makhtum, 217 ).

Masjid Nabawi atau Al-Masjid an-Nabawī, terletak di pusat kota Madinah di Arab Saudi

Sidik punya selidik, rupanya ada agenda besar dibalik pendirian Masjid itu. Bukan hanya shalat berjama`ah, beri`tikaf dan membaca al-Qur`an saja yang dilakukan. Ternyatam, di sanalah pusat pembicaraan, diskusi dan dan aksi berkelas dilakukan. Konsultasi ekonomi dan sosial. Santunan sosial bagi yang membutuhkan. Penyelenggaraan pendidikan dan halaqah pertama. Auala penerimaan tamu utusan dari semenanjung arab. Pusat komando militer. Rumah sakit dan balai pengobatan perang. Persidangan perdamaian atau perselisahan. Menjadi rumah tahanan (Wawasanal-Qur`an, 462).

Cerita dari masjid pelepah kurma tidak mengada-ngada dan benar adanya. Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikanya, kitab Shahih bukhari cukup untuk merangkumnya. Bagimana Rasul membagikan harta dari Bahrain secara adil (Hadis ke 421). Menyelesaikan konflik rumah tangga (423), konflik hutang ka`ab Bin Malik dan keponakanya. Dibalik tutup surban Nabi, siti Fatimah menyaksikan latihan pedang para sahabat (454). Perawatan korban terluka dalam perang khandaq (166). Menahan tahanan dari Nejd, tsumamah bin Ushul di depan pelataran yang akhirnya masuk Islam. Bahkan kalau beliau tidak sungkan kepada Nabi Sulaiman, Jin Ifrit yang hendak menggangunya itu pasti ditahan dan jadi bahan tertawaan anak-anak (461). Semua aktifitas ini berada di dalam masjid.

Fungsi ini tidak hanya berhenti ketika Rasul ada, aset berharga ini dilanjutkan para khalifah setelahnya. Ruangan masjid menjadi tempat pembaitan estafet kepemimpinan, juga kantor administrasi Negara. Disamping panglima perang, Khalifah itu adalah para Imam shalat, juga khatib yang mengemukakan pandangan politiknya di atas mimbar. Bahkan Umar bin Khattab mengomando pasukan yang terjepit di atas mimbar. Katanya, ‘Ya Sariyyah, al Jabal’, (Pasukan, Naik gunung !). Tanpa menara penangkap sinyal, suara di Madinah ini terdengar jelas di Pintu Nahawand Persia.

Yatsrib telah berubah. Dari perkampungan menjadi pusat kota yang penuh tatanan, menjadi sebuah pusat peradaban, Madinah. Bermula dari desa menjadi Negara kota (city state). Pendudukanya beralih dari ‘badâwi’ (berpindah pindah tidak teratur seperti gurn pasir, ‘kasar’) menjadi ‘hadlâri’ (pola menetap dan teratur). Dari fanaitisme suku menjadi loyalitas nyawa kepada agama. Penduduknya makmur dan dipenuhi rahmat Allah. hingga beberapa tahun setelahnya, Madinah sanggup menggeser peran Konstantinopel, Ibu kota Romawi bikinan Kaisar Constanstin. Semua berawal dari serambi dan mimbar.   

Peran masjid terus digalakkan pada masa keemasan. Salah  satu contohnya adalah didirikan balai pengobatan gratis untuk umat salah satu fasilitas masjid. Diceritakan oleh sejarawan al-Maqrizy, bahwa Ibn Toulan membangun klinik pengobatan di dekat tempat wudlu pada masjid yang dibangunya di Mesir, lengkap dengan obat-obatan dan personaliaya. Setiap hari jum`at, di datangkan dokter-dokter ahli yang dipersiapkan untuk membantu urusan kesehatan umat muslim setelah melaksanakan shalat Jum`at. (Min Rawa`ai Hadlaratina, 222).

Dari sejarah yang ada, isu pembangunan mental masjid ternyata lebih diutamakan dari pembangunan fisik. Mental masjid adalalah bagaimana menjadikan masjid itu makmur, selain pusat ibadah mahdlhah  juga menjadi pusat kegiatan keagamaan untuk kemajuan Islam. Fisik itu hanyalah symbol bukan substansi, walaupun penting namun bukan yang paling utama. Berlebih-lebihan dalam membangun tembok ternyata tidak dipuji, malahan termasuk malapetaka sebagai tanda hari Qiyamat.

Syaikh Ramadhan al-Buthy (w. 2013) menangkap adanya inspirasi dari jiwa masjid (rûh al-masjîd wa wahyih) dalam pembentukan peradaban. Beliau mengatakan dalam bukunya ‘fiqh sirah nabawiyah; “Masjid merupakan asas utama dan terpenting bagi pembentukan masyarakat Islam. Karena masyarakat muslim tidak akan terbentuk dengan kuat dan teratur kecuali berkomitmen terhadap system aqidah dan tatanan Islam. hal ini tidak dapat ditumbuhkan kecuali melalui jiwa dan inspirasi masjid”.

Nampak jelas, masjid di zaman Rasulullah dan para Khalifah mempunyai peran sentral dalam membangun peradaban. Membentuk kemajuan diberbagai bidang; Aqidah, Syari`ah, ilmiyyah, Mu`amalah bahkan siyasah (politik). Asas taqwa adalah akar penegakanya. Tidak berlebihan untuk bisa menyimpulkan bahwa Masjid waktu itu telah melebihi fungsi gedung putih Amerika sekarang. Cukup menakjubkan, Bukan !??

4 Comments

  1. Pingback: Resep Thurthusi Untuk Negeri – Aqidah and Islamic Philoshophy

  2. Pingback: Mahasantri punya panggilan istimewa untuk para pendidiknya – Aqidah and Islamic Philoshophy

  3. Pingback: Ayahanda Tercinta: Kita diterjang Tsunami Dhahir dan Batin – Aqidah and Islamic Philoshophy

  4. Pingback: Tetap Survive! Inspirasi Hidup Sehat dengan Tradisi Adat Rasul di Zaman Teknologi – Aqidah and Islamic Philoshophy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *