Suhrawardi Dan Hikmah Al-Isyraq

Suhrawardi Dan Hikmah Al-Isyraq

Oleh: Yongki Sutoyo
Mahasiswa Pascasarjana Prodi AFI Unida Gontor

afi.unida.gontor.ac.id. Para pengkaji filsafat Islam, terutama orientalis Barat mengira, bahwa tradisi filsafat Islam telah mati pasca wafatnya Ibnu Rusyd. Namun, klaim semacam itu jelas keliru dan telah dibantah oleh pengkaji Filsafat Islam pasca Ibnu Rusyd seperti Henry Corbin, Seyyed Hosein Nasr, dan Hossein Ziai. Salah satu tokoh penting yang menjadi objek kajian Henry Corbin, Seyyed Hosein Nasr, dan Hossein Ziai ialah Suhrawardi. Suhrawardi adalah pendiri mazhab Iluminasi yang dianggap melanjutkan tradisi Filsafat Islam pasca Ibn Rusyd.

Shahab al-Din Suhrawardi adalah seorang filsuf dan arif terkemuka, sekaligus pendiri mazhab iluminasi dalam filsafat Islam

Syihab Al-Din Yahya ibn Habasyi Ibn Amirak Abu Al-Futuh Suhrawardi, atau lebih dikenal dengan Syihab Al-Din Suhrawardi, merupakan Guru Ilmuninasi (Syaikh Al-Isyraq), sebuah sebutan bagi posisinya sebagai pendiri mazhab baru yang berbeda dengan mazhab Paripatetik.  Suhrawardi dilahirkan di Suhrawad sekitar tahun 550 H, dan di bunuh di Halb (Aleppo), atas perintah Shalahuddin al-Ayyubi, tahun 578 H. Karena itulah dia digelari al-Maqtul (yang dibunuh), sebagai pembedaan dengan dua sufi lainnya, yaitu Abu al-Najid al-Suhrawardi (meniggal tahun 563 H) dan Abu Hafsh Syihabuddin al-Suhrawardi al-baghdadi (meniggal tahun 632 H), penyusun kitab Awarif al-ma’arif.

Karya utama Suhrawardi, Hikmat al-Isyraq ini, dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berkaitan dengan kritik dan revisi atas logika Peripatetik. Bagian kedua membahas persoalan fisika dan metafisika, khususnya doktrin atas metafisika cahaya yang menjadi landasan utama filsafat iluminasi.  Dalam bagian pembukaan, Suhrawardi menceritakan bahwa sahabat-sahabatnya telah memintanya untuk menulis sebuah buku tentang “…pengalaman yang saya peroleh dengan intuisi saya selama masa khalwat dan kontemplasi..”.  Buku ini adalah bentuk dan metode lain yang lebih dekat pada metode Paripatetik, di samping lebih sistematis, prinsipil dan memudahkan pemahaman.  Suhrawardi menambahkan bahwa dia tidak mendapatkan metodenya dari perenungan—dalam arti kontemplasi raional, tetapi dengan cara lain, dan setelah itu dia berupaya memberikan bukti rasional untuk menjelaskan metodennya.

Gambar Ilustrasi

Perhatian mendasar dari kritik Suhrawardi terhadap kaum Paripatetik adalah untuk mencapai penyederhanaan kompleksitas dari logika Aristotelian. Ini karena dia mengkritik ahli logika Peripatetik (terutama Ibnu Sina) yang menggunakan logika Aristotelian untuk sampai pada apa yang mereka sebut sebagai kebenaran metafisik dengan metode yang tidak tepat. Suhrawardi secara efektif mengatakan bahwa metode tersebut sama dengan obskurantisme.  Sebagaimana ditegaskan oleh John Walbridge:

“Perlakuan logika dalam karya-karya mazhab paripatetis tidak jauh dari menjadi parodi logika tradisional…. Suhrawardi memang mengembara dari neologismenya yang sederhana, kembali ke terminologi logis standar yang ia pelajari di mana sebagian pernyataan-pernyataannya dapat ditelusuri pada karya Al-Isharat Ibnu Sina. Tetapi ia telah menegaskan: kasus sederhana dalam logika sudah jelas, dan siapa pun yang cerdas dapat mengurangi kasus yang rumit menjadi yang sederhana dengan menggunakan akal sehatnya.”

Bagi Suhrawardi, untuk sampai pada kebenaran metafisik, metode rasional-diskursif, sebagai yang digunakan oleh kaum Paripatetik, akan mengalami kecacatan. Ini karena kebenaran metafisik berada diluar jangkauan rasio. Ia hanya bisa diperoleh dengan, pertama-tama melakukan upaya penyadaran diri. Sebab bagi Suhrawardi pengetahuan hakiki tentang seuatu—dalam hal ini kebenaran metafisik—baru dapat diperoleh, dengan terlebih dulu subjek menyadari tentang ke-diri-annya. Kemudian setelah itu, subjek yang telah menyadari tentang ke-diri-annya itu dapat menjalin hubungan langsung dengan objek pengetahuan. Dengan demikian baik subjek maupun objek pengetahuan diyaratkan harus sama-sama hadir.  Dari sini, apa yang disebut oleh kaum Paripatetis sebagai kebenaran metafisik itu baru dapat diperoleh.

Metode perolehan pengetahuan ala Suhrawardi yang mensyaratkan kehadiran subjek dan objek pengetahuan didasarkan pada uraiannya tentang Cahaya dan Herarkinya. Bagi Suhrawardi, pengetahuan bukanlah sekedar teori yang diyakini melainkan perpindahan ruhani secara praktis dari alam kegelapan yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan merupakan sesuatu yang mustahil ke cahaya yang bersifat akali yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan dicapai bersama-sama.  Karena itu, menurut madzhab isyraqi, pengetahuan diperoleh melalui penyinaran langsung dari substansi cahaya atau Nur al-Anwar.  Karena memperoleh pengetahuan adalah juga memperoleh kebahagiaan, maka setiap hirarki cahaya akan berusaha menuju dan mendekati Sumber Cahaya. Proses ini digambarkan oleh Ian R. Netton sebagai hubungan hirarki Cahaya yang lebih rendah yang menunjukkan kerinduan pada Cahaya yang lebih tinggi, sebuah proses di mana “semua hal ingin kembali kepada Sumber Cahaya”.

Tema ini, tentu saja, dianggap terlalu romantis  oleh kaum materialis. Namun Suhrawardi telah memberikan format yang rasional untuk tema-temanya dalam Hikmat al-Ishraq, dan menegaskan bahwa teks tersebut tidak dimaksudkan untuk para sarjana yang tidak memiliki orientasi mistik-teosofis. Sebagaimana yang ia sampaikan:

“Kami hanya mengusulkan untuk membahas buku ini dan simbol-simbolnya dengan mereka yang secara serius terlibat dalam upaya atau pencarian mistik-teosofis…. Siapa pun yang hanya ingin mempelajari pemikiran rasional diskursif dapat mengikuti jalur Peripatetik.”

Ini karena, inti ajaran falsafat iluminasi (Isyraqi) adalah cahaya, dari sifat dan penyebaran cahaya. Tuhan adalah Cahaya yang disebut Suhrawardi sebagai Nur al-Anwar; Cahaya sebagai penggerak utama alam semesta, sedangkan alam semesta merupakan sebuah proses penyinaran raksasa, di mana semua wujud bermula dan berasal dari Prinsip Utama Yang Esa (Tunggal). Cahaya ini adalah sumber segala sumber, dan tak ada yang bisa menyamakan kedudukan Cahaya ini, Cahaya merupakan esensi yang paling terang dan paling nyata, sehingga mustahil bila ada sesuatu yang lebih terang dan lebih jelas dari cahaya. Pendapat ini sama dengan pemikiran Ibn Sina tentang Wajib al-Wujud. Suhrawardi juga berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat diliputi aksiden (‘ardh) ataupun substansi (jauhar), karena dapat mengurangi Keesaan Tuhan. Maka dari itu, Cahaya Pertama mesti Satu (Esa, Tunggal), baik dzat maupun sifat-Nya. Wallahu A’lam

2 Comments

  1. Pingback: Resep Thurthusi Untuk Negeri – Aqidah and Islamic Philoshophy

  2. Pingback: Makna Sains Islam dan Agenda Islamisasi Ilmu – Aqidah and Islamic Philoshophy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *