Oleh: M. Faqih Nidzom
Dosen Universitas Darussalam Gontor

afi.unifa.gontor.ac.id. Seorang ulama besar abad ke-3 Hijriah yang juga dikenal sebagai Sufi, al-Hakim at-Tirmidzi, memiliki kebiasaan yang unik dalam menulis. Dalam kitab Bayán al-Farq baina as-Sadr wa-l-Qalb wa-l-Lubb wa-l-Fuád misalnya, sering sekali ia memulai paragraf dengan ungkapan bernada doa, “zádakallahu fiqhan fi-d-Diin”, yang kurang lebih artinya “Semoga Allah menambahkanmu fiqih atau pemahaman dalam agama”. Apa makna fiqih, sehingga at-Tirmidzi berdoa agar ia ditambahkan untuk para pembaca karyanya?

Syekh Abdul Karim Zaidan dalam al-Madkhal Lidirasati as-Syari’ah-nya menjelaskan dengan gamblang. Secara etimologis, fiqih berarti mengerti sesuatu dan memahaminya. Sebagaimana kita mengerti perkataan seseorang. Dalam al-Qur’an disebut: “Mereka berkata, Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti apa yang kau ucapkan.” (qálū ya Syu’aibu mà nafqahu katsíran mimmá taqūlu) QS. Hud: 91.

Lanjutnya, secara terminologis, Fiqih berarti semua hukum/ ketetapan agama yang dibawa oleh Syariat Islam, baik itu yang berkenaan dengan perkara Aqidah, akhlak, ibadah ritual, maupun ibadah sosial (muamalah).

Imam Abu Hanifah mendefinisikan Fiqih Islam sebagai berikut: pengetahuan diri seseorang akan hak dan kewajibannya (sebagai manusia). Definisi ini juga menyiratkan makna Fiqih yang luas, yang mencangkup beberapa aspek.

Pertama, aqidah; seperti kewajiban beriman kepada Allah dan rukun-rukun iman yg lain sebagai konsekuensinya. Kedua, aspek akhlak; seperti berkata baik dan jujur, menghormati tamu, dst. Ketiga, aspek ibadah ritual; seperti kewajiban sholat, puasa, dst. Serta aspek ibadah sosial; seperti praktek jual-beli, dan banyak lagi.

Dari perspektif ini, kita bisa memaknai bahwa perintah Allah swt kepada kita untuk bertafaqquh fi ad-Diin (QS. At-Taubah: 122) berarti berusaha mengerti dan memahami agama Islam dengan segala aspeknya, dengan makna dan cakupannya yang luas.

Begitu juga dengan hadis Rasulullah saw.:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Ia menjadikannya faqih dalam agama”

HR. Muttafaq ‘alaihi

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menegaskan; faqih dalam agama disini dimaksudkan faqih terhadap tujuan utama diutusnya Rasul oleh Allah swt, yaitu apa-apa yang menjadi kewajiban tiap individu untuk mengimani dan mengamalkannya dengan sepenuh hati.

Dari sini bisa kita tangkap maksud doa at-Tirmidzi kepada setiap pembaca kitabnya. Yakni harapan agar mereka menjadi orang yang selalu bertambah ilmu dan pemahaman dalam agama, dan mengamalkannya dengan baik, dan menjadi orang yang mengerti apa hak dan kewajibannya sebagai manusia, serta bagaimana ia menjalaninya. Disini tentu adalah dengan jalan dan ketentuan (ahkám) yang telah Allah swt tentukan, yaitu berupa aqidah, akhlak, syariah yang meliputi ibadah ritual dan sosial.

Dengan berkembangnya zaman dan pesatnya tradisi intelektual dalam peradaban Islam, istilah Fiqih memiliki maknanya yang baru. Ketika menjadi sebuah disiplin ilmu, ia kemudian dipahami secara terminologis. Bisa kita lihat misalnya di Madkhal li Dirásah as-Syaríah karya Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih diartikan menjadi sebuah disiplin ilmu yang berbicara tentang hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan syariat praktis (‘amaly) yang tetap atas apa-apa yang semestinya dilakukan setiap muslim yang telah dikenai beban syariat, yang dimana hukum-hukum itu tersarikan dari dalil-dalilnya yang terperinci. Ketentuan hukum itu berupa kewajiban, keharaman, sunnah, makruh, mubah, sah atau batal, dst.

Dan ilmu ini tidak lahir kecuali dengan jalan menganalisa dan berijtihad dengan syarat-syarat yang kompleks, sehingga seorang faqih akan mengeluarkan suatu hukum dari dalil-dalil yang ada, dengan metode-metode tertentu. Jika perkara tersebut tertulis dalam nash atau teks, maka yang digunakan adalah metode kebahasaan, jika tidak ada maka dengan pertimbangan maqashid as-Syaríah, dengan pembahasan yang cukup panjang. (Lihat misalnya di Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushuli-l-Fiqh, hal. 140-210).

Dengan makna Fiqih yang baru ini, faqih berarti orang yang ahli dalam bidang fiqih, yang memiliki kualifikasi ketat untuk mampu mengeluarkan suatu hukum tertentu dari dalilnya yang terperinci, dg jalan ijtihad yang ketat pula. Dengan begitu, ada beberapa aspek yang kemudian keluar dari cakupan Fiqih, yaitu aspek aqidah dan aspek akhlak. Karena yang masuk cakupan Fiqih yang baru adalah hukum-hukum praktis berupa ibadah sehari-hari, dan dengan cara ijtihad seperti disebut diatas.

Adapun pada perkembangan kemudian ada ilmu tersendiri yang membahas tentang aqidah dan akhlak. Untuk yang pertama ada ilmu Kalam, Ushuluddin dsb. Adapun untuk yang kedua ada Ilmu Tasawuf, Ilmu Tarbiyah dsb.

Maka, secara sederhana dapat kita pahami, Faqih dengan makna aslinya maupun makna yang baru, tidak mudah bagi tiap orang untuk memperoleh predikat itu. Karena ia adalah kehendak Allah berupa kebaikan bagi hamba-Nya yang terpilih, dengan usaha kuat dari hamba tersebut. Menjadi Faqih dalam maknanya yang baru memiliki prasyarat yang tidak sederhana, apalagi untuk menjadi Faqih dengan makna awalnya yang luas. Untuk itulah ulama kita, Hakim at-Tirmidzi mendoakan kita, “zádakallahu fiqhan fi-d-Diin”. Wallahu a’lam.

6 Comments

  1. Pingback: Resep Thurthusi Untuk Negeri – Aqidah and Islamic Philoshophy

  2. Pingback: Mahasantri punya panggilan istimewa untuk para pendidiknya – Aqidah and Islamic Philoshophy

  3. Pingback: Makna Sains Islam dan Agenda Islamisasi Ilmu – Aqidah and Islamic Philoshophy

  4. Pingback: Belajar Islamisasi Ilmu, Apa Manfaatnya? | | Aqidah and Islamic Philoshophy

  5. Pingback: Ragam Pendekatan dalam Islamisasi Ilmu | | Aqidah and Islamic Philoshophy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *