Oleh: Muhammad Abdul Aziz
Mahasiswa Doktoral IIUM Malaysia

Siapa pun yang minimal agak lama mengenal Pak Dihya, kiranya pasti tidak akan asing dengan kutipan ini:

“The secret of life and the essence of it is movement. I exist so long as I move, when I cease to move, I shall cease to be.”

Dr. Dihyatun Masqon, M.A.

Disampaikannya kata ini. berkali-kali. Dalam satu perjumpaan motivasi. Dalam kelas. Dalam seminar. Dalam jurnal-jurnal yang ditulisnya. Biasanya beliau akan mengartikulasikannya kata per-kata. Meski per-kata, hal tersebut tidak lantas menghilangkan kefasihan dalam pengucapannya. ‘Exist’ tidak akan terbaca ‘eksis’, tapi ‘ekzis’. Dan ketika sampai pada ‘cease’, suara beliau akan menekan dalam, diiringi gerakan telunjuk yang jatuh ke bawah.

Dalam. Sedalam makna yang tersirat. Bahwa satu ciri utama kehidupan adalah bergerak (movement). Yang hidup mesti bergerak. Karenanya, berhenti merupakan satu tanda kematian. Malas tertindas. Lambat tertinggal. Berhenti mati.

Yang menjadikan pesan Pak Dihya punya daya tarik bukan hanya pada substansi perkataan itu sendiri. Lain itu, nampak nyata bahwa udara-udara yang berhembus di kerongkongan beliau, lalu meliuk dan menyelinap di sela-sela gigi, itu semua berhulu dari sanubari yang dalam. Jelas benar bahwa beliau tidak hanya berbicara dengan mulut. Tapi juga dengan hati.

Suaranya tegas. Garis-garis wajahnya saling tarik menarik menyebar. Lalu sekuntum senyum berpendar menyembul di kedua bibirnya. Tentu saja, seperti kata Mario Teguh, sesuatu yang timbul dari kedalaman, maka pengaruh yang ditimbulkannya pun akan menjadi dalam pula.

Sedemikian sering beliau menekankan “movement” dalam kutipan di atas, sehingga terbit dalam hati kami bahwa pesan itu tidak hanya ucapan hati dan lisannya. Tapi sudah benar-benar mendarah-daging dalam laku beliau.

Memang demikian. Kesan umum yang kami tangkap dari beliau adalah: enerjik, dinamis, aktif, dan positif. Dalam deret usia yang menjelang puluhan enam, pengabdian beliau kepada Gontor, terutama di wilayah Universitas Darussalam, nyaris tanpa cacat. Bepergian. Menyambung tali silaturrahim. Ke dalam dan luar negeri. Beliaulah Menteri Luar Negeri-nya UNIDA. Bahkan Gontor secara umum. Siapa saja tamu kehormatan dari luar negeri, beliau akan berada di garda terdepan. Bersama-sama para Pimpinan Pondok tentunya.

Jari-jari tangannya akan meraih si tamu tersebut. Didekapnya. Diajaknya berbicara Bahasa Arab dengan uslub hampir sebagaimana orang Arab berbicara. Dekat. Dekat sekali. Meskipun – boleh jadi – beliau pun belum mengenal dekat si tamu tersebut. Pandai benar beliau meraih hati seorang mitra bicara.

Memang berat badan beliau semakin berkurang, namun berat yang ditimbulkan oleh kepribadiannya semakin bertambah. Dan ini semua sesungguhnya adalah penjelmaan dari “movement” itu sendiri.

Pertanyaannya; milik siapakah gerangan pesan di atas?

Muhammad Iqbal. Inilah dia orangnya. Seorang intelektual raksasa dari Pakistan. Awalnya saya optimis bahwa perkataan ini pastilah ia sampaikan dalam salah satu master piece-nya, “The Reconstruction of Religious Thought in Islam”. Kubuka Google. Kudownload berupa-rupa versi dari kitab tersebut.

Nothing.

Kutipan di atas memang ada dan berhubungan dengan Iqbal, tapi bukan dalam “The Reconstrution” tersebut. Bahkan Pak Dihya sendiri, dalam satu jurnalnya, mengutipnya dari rujukan sekunder, yaitu “The History of Muslim Philosophy”. Karya Mian Mohammad Syarif alias M.M. Sharif. Bung Sharif mengutipnya dari salah satu karya Iqbal berjudul Bang-i Dara (The Call of Marching Bell), halaman 15.

Karya yang satu ini muncul pada tahun 1924, sekian tahun sebelum The Reconstruction diterbitkan. Dari sini, kita mampu menangkap bahwa salah satu gugusan terbesar dari ide besar Iqbal adalah obsesinya untuk melakukan reformasi dalam diri umat Islam. Ia menganalisa dan akhirnya berhasil mengidentifikasi apa yang menjadi permasalahan sebenarnya dalam diri umat Islam. Setelah itu, ia berhasil memetakan dari mana seharusnya usaha reformasi ini mesti dilakukan.

Bagi Iqbal, diri manusia itulah yang mesti diperbaiki dulu. Setelah problem individual selesai, barulah usaha perbaikan sosial dapat dilaksanakan. Reformasi sosial akan berjalan nihil tanpa ada perhatian pendahuluan terhadap setiap individu tersebut. Setiap satu dari rakyat suatu negara adalah anggota dan penyokong negara tersebut. Membangun negara sembari menegasikan pembangunan karakter para penyusun negara tersebut adalah mimpi di siang bolong.

Refleksinya tentang urgensi membangun kepribadian individual ini kemudian tersublim dalam antologi syair terkenalnya yang berjudul Asrar-i- Khudi (Secret of the Self). Terbit pertama kali pada 1915.

Dengan menelisik rangkaian tahun di mana karya-karyanya dipublikasikan, kita akan mengetahui grand theory yang sebenarnya dimaksud oleh Iqbal. Setelah menekankan pembangunan diri di awal-awal karyanya, pada 1930, Iqbal menerbitkan karya utamanya “The Reconstruction of Religious Thought in Islam” (RRTI).  Buku ini dapat dibaca sebagai salah satu tonggak utama yang ia pancangkan. Pada tahapan ini, ia menyerukan untuk mengeksaminasi kembali dasar-dasar filosofis ajaran Islam. Pendek kata, selain diri, reformasi harus bermula dari pokok-pokok ajaran agama: Ushuluddin.

Asumsi di atas akan menemukan momentumnya jika kita menyejajarkan RRTI dengan fakta lain bahwa beliau juga menulis satu karya lain dalam bidang Usul al-Fiqh. Meski memang belum selesai. Judulnya “Reconstruction of Islamic Jurisprudence” (RIJ). Dalam satu karyanya yang lain, disebutkan:

“Today, Islam’s greatest need is the reconstruction of the Islamic law and its re-codification in such a way that it may provide the Islamic answer to the hundreds of thousands of new questions that have been posed by the modern economic, political, social, national and international developments.”

Apa yang paling dibutuhkan Islam hari ini, kata Iqbal, adalah rekonstruksi dan rekodifikasi hukum-hukum Islam sekaligus prinsipnya. Sehingga, Islam sebagai sebuah agama yang paripurna akan mampu menjawab pelbagai persoalan hidup yang mengitarinya. Baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan hubungan internasional.

Memang terlalu dini jika kita menyimpulkan bahwa seluruh karya Iqbal adalah satu kesatuan ide yang terstruktur menurut satuan waktu. Sebab, semakin bertambah umur seseorang, semakin matang ia berfikir. Dan ketika ia semakin matang, semakin juga ia mampu mengidentifikasi dan  mengevaluasi kesalahan masa lalunya.

Namun hal ini tentu sangat boleh jadi tidak berlaku linier. Pasalnya, dalam kasus Iqbal, ketika menulis RRTI, sang penulis sudah berumur 53 tahun. Satu fase di mana ia sudah menapaki kedewasaaan berfikir. Dan lagi, RRTI sendiri merupakan karya terbesarnya. Karena itu, sangat besar kemungkinan bahwa penulisan RIJ sudah direncanakan sedari awal sebagai kelanjutan dari yang pertama.

Dari sini, kita tahu bahwa proyek tersebut bergerak dari ushuluddin (RRTI), melalui usul al-Fiqh (RIJ), dan pada akhirnya akan berbuah ke fiqh. Proyek dalam tiga stasiun ini sangat sulit terlaksana kecuali terlibat di dalamnya apa yang disebut sebagai “Theory of Movement”.

6 Comments

  1. Pingback: Waktu: Sebuah Janji | Universitas Darussalam Gontor

  2. Pingback: Dr. Kholid Muslih, M.A: Menjadikan Al-qur’an sebagai lifestyle – Aqidah and Islamic Thought

  3. Pingback: Asal Usul Dan Substansi Filsafat Islam – Aqidah and Islamic Thought

  4. Pingback: Kebebasan Memilih – Aqidah and Islamic Philoshophy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *