Pertahankan Nilai Pesantren, Prodi AFI-FU terapkan pola kepengasuhan 24 Jam

Pertahankan Nilai Pesantren, Prodi AFI-FU terapkan pola kepengasuhan 24 Jam

afi.unida.gontor.ac.id. UNIDA Gontor adalah kampus berbasis sistem pesantren; yang mempraktekan secara langsung pendidikan 24 jam. Pendidikan 24 jam ini tidak hanya bertitik fokus kepada hal-hal yang bersifat akademik semata, akan tetapi seluruh lini kehidupan mahasiswa diliputi dengan nuansa mendidik dan terdidik secara all out.

Berdasarkan hal ini maka, bagian kepengasuhan dalam fungsionaris prodi menyusun serta mengaktifkan peran dan fungsi dosen wali dengan arahan kaprodi AFI-FU. Dosen wali mempunyai peran yang penting dalam pemantauan perkembangan karakter dan mental mahasiswa dalam ranah akademik dan non-akademik.

Pola asuh dan pola didik kita adalah pesantren. Maka dari itu meningkatkan ibadah dan ruh ubudiyah adalah prioritas dalam pendidikan pesantren. Dosen wali tidak hanya memperhatikan bagaimana perkembangan akademik para mahasiswa, akan tetapi dosen wali juga berperan penting dalam pendalaman spiritual mahasiswa. Tahsin qiro’ah, Tahfidz Al-Qur’an, tausiyah dan dzikir ma’tsurat bahkan beberapa dosen kerap mengawal dan menerapkan ibadah-ibadah wajib dan sunnah bersama mahasiswa.

Pola didik pesantren ini bertujuan agar mahasiswa erat dengan identitasnya sebagai santri, atau lebih akrab disebut mahasantri; santri yang ada ditingkatan mahasiswa atau mahasiswa dengan mental pejuang seorang santri. Maka, UNIDA Gontor tidak hanya mencetak para akademisi yang aktif di ranah akademik saja, akan tetapi juga menjadi seorang individu yang siap menjadi kader-kader umat. Hal ini didukung dengan output UNIDA Gontor; seorang mahasiswa yang aktif di berbagai karya tulis, penelitian juga perkuliahan dan sanggup menjadi seorang imam sholat jum’at, khotib bahkan mahasiswa mampu menghafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Pendidikan berbasis pesantren ini menciptakan lingkungan kondusif dalam pengembangan karakter dan mental mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya mempunyai kurikulum didalam kelas saja, akan tetapi juga kurikulum didalam kelas saja. Maka, hal ini membuat mereka terdidik 24 jam; yang mengakibatkan proses pendidikan menjadi utuh serta meningkatkan kualitas output dan outcome melalui mekanisme yang ditentukan.

Karakter, moralitas dan mentalitas mahasiswa adalah titik pusat dari objek proses pendidikan 24 jam ini. Hal inilah yang menjadikan bimbingan konseling mahasiswa dapat dilakukan sewaktu-waktu antara dosen wali dan mahasiswa. Sistem yang mewajibkan mahasiswa dan beberapa dosen tinggal didalam asrama, menjadikan bimbingan konseling akan lebih mudah dilaksanakan. Dosen wali bisa sewaktu-waktu melakukan bimbingan konseling di masjid selepas shalat berjama’ah, atau pagi dan sore selepas olahraga bahkan tahajud bersama bisa menjadi salah satu bentuk konseling antar dosen dan mahasiswa.

Seperti yang telah dipraktikan dan menjadi pegangan di Pondok Modern Darussalam Gontor, bahwa “at-thoriqoh ahammu min maddah, wa mudarris ahammu min thoriqoh, wa ruhu-l mudarris ahammu min mudarris nafsahu” .

Maka, jiwa seorang dosen adalah hal paling penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran mahasiswa. Dosen tidak hanya berperan penting didalam kelas saja, akan tetapi selama 24 jam dosen menjadi figur pendidik bagi seorang mahasiswa. Maka dari itu, ketauladanan dosen dalam bersikap, berbicara, berpakaian bahkan bersosial media turut menjadi bahan perhatian khusus bagi UNIDA Gontor.

Program studi AFI menyadari pentingnya wujud ruh atau jiwa dosen dalam proses pendidikan mahasiswa. Maka, evaluasi dan rapat internal antar dosen wali menjadi salah satu program rutin didalam operasional program studi. Para dosen wali melaporkan perkembangan mahasiswa-mahasiswa bimbingannya, kendala bahkan pencapaian prestasinya. Hal ini berdampak positif dalam peningkatan mutu kinerja dan mekanisme proses pendidikan 24 jam dalam sistem asrama.

Terlepas dari semua usaha dan operasional prodi, bapak rektor kerap menegaskan bahwa pembentukan karakter dan mental yang bermutu dipengaruhi besar oleh faktor supra-rasional atau kerap kami sebut faktor X, (read:keberkahan). Maka doa dan peningkatan ubudiyah menjadi salah satu unsur penting dalam proses pendidikan ala pesantren.
Pen: Ustadzah. Nabila Huringin

8 Comments

  1. Pingback: Dr. Kholid Muslih, M.A: Menjadikan Al-qur’an sebagai lifestyle – Aqidah and Islamic Thought

  2. Pingback: PETIKAN HIKMAH dari MABIT AFI – Aqidah and Islamic Philoshophy

  3. Pingback: Kunjungan IDIA Prenduan ke UNIDA | Aqidah and Islamic Philoshophy

  4. Pingback: Jadi Mahasiswa Ushuluddin Ideal, ini Kiat dari Bapak Dekan dan Ka Prodi | | Aqidah and Islamic Philoshophy

  5. Pingback: SAKRALITAS PROSES EVALUASI AKADEMIK : BUKTI KULIAHMU ITU TIDAK MAIN-MAIN - Aqidah dan Filsafat Islam

  6. Pingback: Mahasantri dan Demokrasi di PEMILU 2019

  7. Pingback: Eratkan Tali Ukhwah, AFI UNIDA Punya Caranya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *