Dr. Kholid Muslih, M.A: Menjadikan Al-qur’an sebagai lifestyle

Dr. Kholid Muslih, M.A: Menjadikan Al-qur’an sebagai lifestyle

afi.unida.gontor.ac.id.UNIDA gontor adalah salah satu perguruan tinggi yang menekankan faktor ubudiyah menjadi faktor kesuksesan dalam ranah akademik dan non akademik. Pihak perguruan tinggi berusaha mengupayakan prosedur dan mekanisme untuk mengarahkan seluruh sivitas akademika agar menggiatkan lingkungan ubudiyah yang kondusif.

Dr. Kholid Muslih, M.A sebagai direktur markaz AlQur’an adalah salah satu figur yang berusaha membangun peradaban UNIDA dengan nuansa-nuansa AlQur’an disetiap unsur dan elemennya. Seperti yang beliau sampaikan didepan para muhafdiz saat acara rapat koordinasi dan evaluasi tahifdz, Rabu (20/2)

Baca Juga: Pertahankan Nilai Pesantren, Prodi AFI-FU terapkan pola kepengasuhan 24 Jam 

“Sumber daya manusia akan merubah peradaban, karena manusia adalah pewarna peradaban yang diwarnai oleh budaya, sementara budaya terjadi dengan rumusan: etika, seni dan logika yang diarahkan oleh ilmu” ujarnya

Dr. Kholid menegaskan bahwa budaya AlQur’an akan merubah sistem kehidupan yang bertolak belakang dari Alqur’an. Gaya hidup, karakter, mental, sifat bahkan kebiasaan yang bertolakbelakang dari esensi alqur’an akan tergantikan dengan cahaya alqur’an. Karena ilmu itu adalah nuur dan alqur’an adalah sumber dari cahaya itu sendiri. Maka Alqur’an terkait erat dengan prestasi akademik bahkan non-akademik.

Suasana ta’lim yang dipimpin langsung oleh Direktur Islamisasi UNIDA Gontor, Dr. Kholid Muslih, M.A.

Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa yang berakhlak dan berprestasi mempunyai hubungan yang erat dengan Alqur’an. Karena Alqur’an telah menjadi lifestyle dalam alam bawah sadarnya.

Budaya Alqur’an ini akan mengubah mindset tahfidz Alqur’an menjadi sebuah keterpanggilan, bukan lagi beban, kewajiban atau bahkan penuh keterpaksaan. Karenanya, Dr. Kholid menegaskan bahwa untuk mencapai level keterpanggilan ini membutuhkan proses yang luarbiasa.

Baca Juga: Sanad Filosofis antara Dr. Dihya dan Sir Muhammad Iqbal

Muhafidz diarahkan untuk aktif mengkoordinir dan mengarahkan hafalan mahasiswa. Krestifitas pun diperlukan dalam rangka mensukseskan program tahfidz ini.

“Kita sedang ada didalam proses membangun islamic society”, tutur beliau menyimpulkan sambutan rapat evaluasi tersebut. (Nabila)
Pen: Ustadzah. Nabila Huringin

5 Comments

  1. Pingback: Waktu: Sebuah Janji | Universitas Darussalam Gontor

  2. Pingback: Implentasi Hafalan Qur’an Disisi Spiritual Mahasiswi Guru – Aqidah and Islamic Philoshophy

  3. Pingback: Sakralitas Proses Evaluasi Akademik : Bukti Kuliahmu Itu Tidak Main-Main - Aqidah dan Filsafat Islam

  4. Pingback: Bekali Staf Baru Pusat Al-Qur'an, Ustadz Mujtaba: "Organisasi Kita ini Istimewa!"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *