Oleh: Moh. Isom Mudin
Kepala Prodi. Aqidah dan Filsafat Islam

Gambar ilustrasi

afi.unida.gontor.ac.id – Ahli Tata Negara abad ke empat Hijriyah; Abu bakar at-Thurthusi  menuliskan bab ke-41 dalam karya monumentalnya ‘Sirâj al-Mulûk’ (lentera pemerintahan) dengan judul ’kamâ takûnû yuwalla ‘alaikum’; terjemahan bebasnya adalah seorang yang akan memimpin kalian adalah potret dari diri kalian sendiri. Jika rakyat bermental pencuri, maka bisa jadi pemimin yang terpilih cenderung berjiwa korupsi. Namun, jika rakyat bersifat jujur, maka kemungkinan besar akan dipimpin seorang yang berbudi luhur. Tokoh yang lahir diantara kota Valencia dan Cordoba tersebut menghadirkan fakta-fakta menarik bagaiman tingkah polah rakyat ternyata berdampak kepada  terpiliihnya seorang pemimpin. Lebih jauh dari itu, sikap meraka juga berpengaruh terhadap kondisi pemerintahan.

Dinar emas yang dicetak Umayyah pada 695 H

Diantara kisah yang menarik untuk disimak adalah adalah percakapan satu Khalifah dinasti Umayyah; Abdul Malik bin Marwan dengan rakyatnya. Ada segolongan masyarakat yang tidak puas dengan pemerintahannya. Walaupun sebenarnya sejarah sudah mencatat Abdul Malik Bin marwah mengukir prestasi dalam masa khidmahnya di berbagai bidang. Diantaranya, ia adalah khalifah pertama yang mencetak uang dinar, penerjemahan buku-buku dari bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa arab. Bahasa Arab secara tertulis menjadi bahasa resmi. Namun, menurut kaca mata mereka; kekhalifahan penerus Marwan al-Hakam ini masih jauh dari kekhalifahan Khalifah Empat.

Melihat kritikan ini, beliau segera menggelar pidato kenegaraan. Dalam orasinya beliau berkata:

“Wahai rakyat, kalian menginginkan kita mengikuti pemerintahan seperti Abu Bakar dan Umar. Namun, kalian enggan berisikap kepada kami dan kepada diri kalian sendiri seperti yang telah mereka berdua lakukan, Kita bersama-sama memohon kepada Allah agar kita bisa saling tolong menolong’. Sang Khalifah menggambarkan bahwa jika menginginkan kekhalifahan seperti Abu bakar dan Umar, maka seluruh komponen masyarakat yang ada harus mengikuti sepak terjang keduanya. Dalam bahasa lain ‘Jangan mengharapkan pemerintahan baik jika rakyatnya tidak baik”.

Baca juga: Sekilas Tentang Makna Faqih 

Fakta kedua yang dihidangkan oleh at-Tharthusi juga tak kalah memikat. Kejadian yang hampir sama juga menimpa Khalifah Ali bin Abi Thalib yang mendapatkan sorotan tajam dari seorang warga bernama Abidah as-Salmany. Dia melihat banyaknya rakyat yang tidak patuh kepada Ali dan Utsman Bin Affan sehingga banyak terjadi pemberontakan dari beberapa kalangan. Menurutnya, pemberontakan ini  karena kesalahan Khlifah Utsman dan Ali. Tentu, kejadian ini tidak ditemukan pada dua dekade Abu Bakar dan Umar Bin Khattab.

Dengan diplomatis dan bijak, Ali menjawab ‘Dahulu, pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah orang-orang seperti saya dan Utsman, namun pada pemerintahan saya, yang menjadi rakyat adalah orang-orang seperti anda’. Jawaban cerdas ini membuat Abidah tertegun. Hal ini mengindikasikan, bahwa sebaik-baik aparatur pemerintahan, walau seperti Utsman dan Ali kalau tidak dibarengi rakyat yang baik, maka suasana bangsa yang kondusif akan sulit digapai.

Baca juga:  Pelepah Kurma Untuk Dunia; Refleksi Sirah Nabawi 

Dari dua kisah teladan tadi bisa ditarik benang merah bahwa sebagai berikut. Pertama, untuk membentuk bangsa yang makmur perlu adanya kerja sama antara pemimpin pemerintahan dan rakyat yang dipimpin. Maka, rakyat tidak boleh terlalu menjadikan pemimpin itu sebagai biang keladi ketidakstabilan.

Dari rakyatlah semuanya harus dimulai untuk perubahan, sekaligus pelaksanaan yang baik dari para pimpinan. Kedua, pentingnya dialog antara rakyat dan pemerintah. Kepala pemerintah tidak perlu risau dengan suara-suara rakyat. Sikap Ali Bin Abi Thalib dan Abdul Malik bin marwan perlu dijadikan teladan. Pun demikian, walaupun rakyat diperkenankan mengkritik. Namun, kritik ini harus cerdas yang penuh adab. Bukan asal berbicara apalagi yang anarkis.

Nampaknya, Allah telah memberikan sinyal yang samar dalam al-Qur`an tetang sikap yang rakyat yang sangat menentukan terhadap kepemimpinan sebagaimana telah disebutkan. ‘“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebahagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan”. (an-Naml: 129).

Baca juga: Suhrawardi Dan Hikmah Al-Isyraq 

Imam as-Suyuthi mengartikan kata ‘nuwally’ dengan ‘wilayah’ yang berarti pemerintahan. Maknanya adalah pemerintahan dzalim itu adalah miniatur rakyat dzalim. Imam Fakhruddin ar-Razy juga mengungkapkan bahwa jika masyarakat berbuat kedzaliman, maka Allah akan mengirimkan para penguasa yang dzalim seperti halnya mereka. Jika, mereka ingin merubah menjadi lebih baik, maka mereka harus meninggalkan kedzaliman tersebut. Sebaliknya, banyak sinyalemen Allah yang menunjukkan rakyat yang baik akan membentuk Negara dan pemerintahan yang baik dan penuh berkah.

Sebagai perumpamaan, negara yang baik akan menumbuhkan tumbuhan subur, tanah yang tandus akan menumbuhkan tanaman merana (al-A`raf: 58). Allah juga akan membukakan pintu barakah dari langit dan bumi jika masyarakat suatu negara beriman dan bertakwa, namun jika mendustakan petunjuk ini, maka kesengsaraan itu karena ulah mereka sendiri (al-A`raf: 96).

Selanjutnya, bagaimana rakyat dan pemerintah negeri tecinta kita, Indonesia?. bagaimana nasib bangsa Indonesia ke depan?. Dari manakah harus membenahi?. Bagaimanakah seharusnya pemerintah dan rakyak bersikap?. Jika ingin pemimpin adil, maka analisa Abu bakar at-Tharthusi bisa dijadikan renungan dan acuan. Wallah a`alam.

7 Comments

  1. Pingback: Makna Sains Islam dan Agenda Islamisasi Ilmu – Aqidah and Islamic Philoshophy

  2. Pingback: Manhaj al-Fikri – Aqidah and Islamic Philoshophy

  3. Pingback: Ingin menulis tugas akhir tuntas berkualitas?, inilah tips mahal dari murid bimbingan al-Attas | | Aqidah and Islamic Philoshophy

  4. Pingback: Para Suami, Di mata Para Istri | | Aqidah dan Filsafat Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *