Mahasantri punya panggilan istimewa untuk para pendidiknya

Mahasantri punya panggilan istimewa untuk para pendidiknya

“Tradisi pesantren itu memanggil guru bukan dengan sebutan ‘bapak’ tapi dengan ‘ustadz’, bukan dengan ‘ibu’ tapi dengan ‘ustadzah’,


Baca juga : Mahasantri Gontor Mencoba Jadi Diplomat Sehari

jelas Al-ustadz Isom Mudin selaku Kepala Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam pada saat pergantian pengurus himpunan mahasiswa prodi pada hari Kamis (28/2), tentang panggilan istimewa para santri



afi.unida.gontor.ac.id – Beliau menyampaikan apa yang selalu ditekankan oleh para jajaran Rektor Universitas Darussalam Gontor selaku pimpinan universitas berbasis pesantren. Karena terminologi ustadz dan ustadzah tidak hanya bermaknakan guru, pengajar ataupun dosen. Akan tetapi didalamnya terdapat makna kemuliaan dan penghormatan kepada seorang pendidik. Maka, sungguh hal yang aneh jika seorang Mahasantri tidak membiasakan diri dengan panggilan istimewa ustadz ataupun ustadzah.

Hubungan yang terjalin antara mahasiswa dan dosen di Universitas Darussalam Gontor tidak hanya sebatas guru dan murid ataupun pengajar dan yang diajar; akan tetapi seperti keluarga yang terikat secara ideologis. Kehidupan asrama telah menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Hubungan keluarga ideologis ini akan menciptakan kepedulian, perhatian bahkan menguatkan basis ukhuwah islamiyah. 

Baca juga: Sekilas Tentang Makna Faqih

Mahasiswa tidak hanya menghormati dosen ketika jam perkuliahan saja; begitu juga dosen tidak hanya mendidik dan mengajar didalam kelas saja. Akan tetapi selama 24 jam adalah proses saling belajar, mendidik, menghargai dan menghormati. 

Baca juga: Pelepah Kurma Untuk Dunia; Refleksi Sirah Nabawi

Maka, panggilan ustadz dan ustadzah tidak akan pernah berlebihan dalam lingkungan Universitas berbasiskan pesantren. Bahkan hal yang aneh jika tradisi ini tidak digiatkan dilingkungan pesantren.

Hal ini juga sering diingatkan oleh bapak rektor didalam banyak even formal ataupun non-formal. Beliau secara tidak langsung mengatakan bahwa panggilan ustadz dan ustadzah mencerminkan moralitas, akhlak dan unggah ungguh seorang santri yang notabene dalam tingkatan mahasiswa.

Berdasarkan hal ini, maka dosen, guru dan pendidik berperan penting dalam pendisiplinan dan pembiasaan tradisi-tradisi pesantren. Hal yang tersulit dari sebuah tradisi adalah mempertahankan values-nya

Pen: Nabila Huringiin

Berita terkait:

Masih Enggan Berdakwah? Baca ini!
Media Menjadi Rujukan Keislaman yang diperhitungkan; Mahasiswi AFI Pelajari Model Dakwah Radio Muslim Surabaya
Organisasi, Sarana Pendidikan total 24 Jam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *