afi.unida.gontor.ac.id – Gontor Ponorogo , Ahad 26 Jumadis tsani 1440 H- 3 Maret 2019. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ayahanda; KH. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh civitas akademika Universitas Darussalam Gontor dalam rapat terbuka dalam rangka wisuda sarjana dan pasca sarjana angkatan ke-XXXII. Beliau menyampaikan bahwa saat ini umat Islam di Indonesia tengah diterjang gelombang besar yang disebut ‘Tsunami Dhahir dan Tsunami Bathin’.

Baca juga : Gontor & Nilainya: Intervensi & Kepercayaan kepada Guru

Di beberapa tahun ini, Indonesia dilanda berbagai macam bencana yang meluluh lantakkan beberapa daerah, ribuan nyawa hilang, kerugian mencapai triliuan. Tsunami menghantam pantai, perumahan dan bangunan fisik lainya. Inilah yang beliau sebut sebagai ‘tsunami dhahir’. Namun, yang lebih dahsyat dari itu adalah “tsunami batin” yang menerjang mental umat Islam. Maka, sudah menjadi kewajiban untuk melakukan langkah preventif.  Beliau menyatakan;

“ Tsunami bathinmenerjang nilai-nilai kemanusiaan, manusia kehilangan Nurani,,, bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia, kalau manusia sempurna, bahwa (kepada) tsunami ini, kita bertanggung jawab untuk secara preventif atau represif lillah ta`la..”

Istilah ‘tsunami’ ini sebelumnya juga digunakan oleh mantan ketua KPK Bambang Widjojanto dalam orasi ilmiahnya di acara yang sama. Beliau menyatakan bahwa saat ini dunia, khususnya indonesia sedang dalam masa ‘tsunami lain’ atau  ‘distruption era’ di berbagai bidang. Namun, titik tekan term yang digunakan KH. Hasan sahal terletak pada wilayah mentalitas ummat.  

Baca juga: Pelepah Kurma Untuk Dunia; Refleksi Sirah Nabawi

Selain memakai perumpamaan tsunami, beliau Ayahanda juga menggunakan istilah ‘polusi’ untuk menggambarkan kondisi Islam di Indonesia saat ini. Layaknya udara yang sudah tidak bersih lagi, agama dan akhlak sudah terkena polusi yang tidak layak dihirup karena kotor. Karenanya perlu hati-hati. Penyebabnya adalah adanya pemikiran meyimpang seperti liberalisme sekularisme yang menafsirkan Islam secara serampangan.  Sehingga mengakibatkan degradasi akhlak  yang luar biasa.

“Sekarang terjadi polusi agama, polusi akhlak, agama tercemar, akhlak tercemar, dhahiran wa bathinan, agama nggak karu-karuan, islam dan keislaman dipolusikan”. Tsunami Bathin



Beliau menambahkan, bahwa ummat Islam di Indonesia hari ini tidak bisa bersatu dalam menghadapi peroalan ummat dan bangsa, terpecah-pecah dalam berbagai aspek kehidupan yang selanjutkan hanya akan melahirkan dua kelompok saja. Yang pertama adalah mereka yang menang ataupun kalah akan tetap terhormat karena berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam. Yang kedua, kalah atau menang sama saja tidak terhormat. Maka, harapan beliau kepada seluruh civiatas akademika masuk kedalam golongan yang pertama.

rep. Moh. Isom mudin

5 Comments

  1. Pingback: Kiai Hasan: Wisuda UNIDA Gontor dan Keabadian Cita-cita Gontor | Universitas Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *