Oleh: Muhammad Faqih Nidzom
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gontor

Sebuah pengalaman berharga, ketika penulis mendapat kesempatan menimba ilmu dari pakar Filsafat Islam jebolan ISTAC Malaysia, Dr. Syamsuddin Arif. Pada hari Sabtu, 23-2-2019, beliau menyampaikan kuliah tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer di hadapan mahasiswa Doktoral Unida Gontor. Artikel ini merupakan catatan singkat penulis dari hasil pemaparan Dr. Syam di kelas.

Dalam catatan sebelumnya, penulis telah memaparkan uraian Dr. Syam tentang urgensi islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, sebagaimana digagas oleh Prof. Al-Attas. Disini penulis terlebih dahulu mengajak pembaca untuk membuka tautan berikut:

Pada sesi kedua ini diskusi semakin menarik. Direktur INSISTS Jakarta ini memulai dengan mengikat poin terpenting dari tema sebelumnya, bahwa gagasan Islamisasi ilmu ini juga bermakna upaya sungguh-sungguh ilmuan muslim untuk melahirkan sains yang Islami, seperti Filsafat Islam, Ekonomi Islam dan lainnya yang sudah banyak diakui belakangan ini. Namun ia kemudian melemparkan pertanyaan, apa sebenarnya yang dimaksud dengan sains Islam? Apa ukuran dan indikator sains itu disebut Islami? Apa pula yang membedakannya dengan sains yang tidak Islami?

Baca juga: Worldview Islam dan Konsep Tuhan

Menurut al-Attas, pra-syarat utama yang harus dipenuhi oleh siapapun yang ingin merealisasikan islamisasi ilmu adalah kemampuan mengidentifikasi worldview Islam serta mampu memahami budaya dan peradaban Barat sekaligus.

Untuk itu, Prof. Alparslan Acikgence, intelektual Turki yang juga sahabat al-Attas, memberikan definisi menarik untuk sains Islam, sebagai penjabaran dari pra-syarat islamisasi ilmu yang disebut al-Attas. Makna sains Islam menurutnya adalah disiplin ilmu yang memancarkan Worldview Islam, dimana unsur dan komponen utamanya adalah hal-hal prinsip Islam berupa bangunan metafisika (konsep Tuhan, konsep agama dsb), epistemologi (konsep ilmu dan kebenaran), hukum (Fiqih, Maqashid Syariah), dan aksiologi berupa adab-etika (tata nilai kebajikan, konsep baik dan buruk, akhlak sehari-hari, dan lainnya).

Ilustrasi: perkembangan sains pada masa ke-emasan Islam

Dari sini bisa segera kita ketahui, bahwa pra-syarat sains disebut Islami adalah jika terpenuhinya unsur dan nilai-nilai Islami tadi dalam pengembangan ilmu, baik dari filsafat, konsep, dan metodologinya, bahkan tujuan kegunaannya. Demikian itu, masih menurut Alparslan, karena Islam memang telah memberikan ketetapan kepada pemeluknya berupa aturan dan arahan yang komprehensif, mencangkup seluruh aspek kehidupan manusia. Maka, Islam pun sejatinya juga telah memberikan pedoman dan panduan kepada kita bagaimana seharusnya berilmu dan mengembangkan keilmuan.

Selanjutnya, ia menegaskan:

“Just as the Islamic Revelation determines the social, polotical, economic, cultural, and artistic life of the Muslim civilization, it also gives direction to its understanding of nature and its scientific study”

Lihat di Alparslan Acikgence, Islamic Science towards Definition

Definisi sains di atas, jika kita telaah, merupakan kelanjutan dari definisi Worldview Islamnya, yaitu sebagai visi Islami tentang realitas dan kebenaran, berupa kesatuan pemikiran yang arsitektonik, yang berperan sebagai asas yang tidak nampak (non-observable) bagi semua perilaku manusia, termasuk aktifitas ilmiah dan teknologi. Setiap aktifitas itu akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya. Definisi juga dikutip oleh Dr. Hamid Fahmy dalam beberapa kesempatan, terutama ketika menjelaskan tentang Worldview Islam sebagai asas bagi epistemologi dan Islamisasi Ilmu. (misalnya dalam buku Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya, hal. 13)

Baca juga: INSISTS dan Gagasan Islamisasi Ilmu

Tidak berlebihan, ketika Prof. Wan Daud menegaskan kembali bahwa gagasan al-Attas ini sebagai ”revolusi epistemologis”, sebagaimana ia kutip dari al-Attas sendiri. Sebab menurutnya, ia hadir di saat umat muslim berada pada kelesuan dalam berbagai bidang, hingga akhirnya membangkitkan gelora intelektual yang luar biasa di berbagai belahan dunia.

Prof. Wan Daud menyebut:

“at the time when Muslims are visibly vulnerable in all areas of collective life, the issue of Islamization of contemporary knowledge is really an ’epistemological revolution’, as al-Attas call it, which erupted like a wild fire blazing across the seas from Kuala Lumpur to Plainfield, Indiana, to many centres of learning across the globe”

Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of SMN al-Attas

Salah satu murid al-Attas yg lain, Dr. Adi Setia dalam artikelnya menulis, pendekatan al-Attas ini termasuk makna yang kedua dari Tiga Makna Sains Islam yang ia paparkan. Disini sains Islam diartikan sebagai sebuah disiplin ilmu dalam bidang filsafat sains dan filsafat Islam yang merumuskan konsep, filsafat dan metodologi sains yang telah, sedang atau yang semestinya memandu kegiatan sains dalam peradaban Islam. Pengertian ini menjadikan sains islam sebagai salah satu cabang bidang falsafat sains, sejarah pemikiran dan filsafat secara umum. (Lihat di buku Islamic Science: Paradigma, Fakta dan Agenda, hal. 45-46)

Baca juga: Kepedulian Islam akan nilai-nilai Estetika

Selain beberapa karya al-Attas, dan khususnya Islam and Philosophy of Science, Adi Setia juga menyebut beberapa karya lain yang termasuk kategori ini. Diantaranya; Classification of Knowledge in Islam dan The History and Philosophy of Science karya Osman Bakar, The Physical Theory of Kalam karya Alnoor Dhanani, Knowledge Triumphant karya Franz Rosenthal, dan semisalnya. Dalam artikel lain, saya (penulis) juga menyebut buku Kausalitas: Hukum Alam atau Tuhan karya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Ibna Sina’s Cosmology yang merupakan disertasi Dr. Syamsuddin Arif juga bisa menggunakan pendekatan filosofis ini.

Ilustrasi: Perkembangan sains dalam dunia Islam

Dari uraian singkat di atas, kita pun bisa melihat tantangan dan peluang dalam islamisasi ilmu dengan makna ini. Terkait agendanya, Dr. Adi menganjurkan bagi siapapun yang ingin mengaplikasikannya dengan baik dan bertanggungjawab, maka ia perlu menelaah sejarah pemikiran filsafat dalam Islam dari sumber aslinya (sumber Arab-Islam/Melayu-Jawi-Islam atau terjemahan langsung dari sumber Arab atau sumber Jawi, termasuk sumber Farsi, Turki Uthmaniyyah dan Urdu). Setidaknya sebagaimana telah dicontohkan oleh beberapa sarjana kenamaan di atas.

Dengan kurang lebih sama, Dr. Hamid dalam salah satu sesi perkuliahan juga menyampaikan tawaran di bidang ini. Penelitian sarjana ke depan bisa diarahkan untuk rekonseptualisasi satu topik tertentu, yang akan memberi kontribusi pada pengembangan ilmu-ilmu modern ke depan. Misalnya, sebagaimana telah beliau lakukan, menelaah konsep kausalitas Imam al-Ghazali untuk sains alam, konsep jiwa Islam untuk Psikologi, konsep baik dan buruk untuk ilmu-ilmu sosial, dan seterusnya. Selain itu, menurut beliau, bisa juga dengan integrasi satu konsep dari dua perspektif; Barat dan Islam, atau secara serius melakukan islamisasi dengan menemukan teori baru dalam bidang keilmuan tertentu, sesuai minat dan kepakaran peneliti.

Baca juga: Suhrawardi Dan Hikmah Al-Isyraq

Adapun Dr. Syam menyoroti agenda di bidang ini dengan melihat karya utama al-Attas, Islam and Philosophy of Science, atau Islam dan Filsafat Sains dalam terjemahan Indonesia-nya. Jika al-Attas telah memulainya dengan pondasi kokoh bagi bangunan keilmuan secara umum, maka tugas kita, menurut Dr. Syam, adalah melanjutkan karya tersebut dengan lebih terperinci. Misalnya, dengan mememaparkan gagasan Islam dan Filsafat Sains Alam, Islam dan Filsafat Sains Sosial, bahkan lebih menjurus pada program studi tertentu yang ada di Unida Gontor, seperti Islam dan Filsafat Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, Manajemen, Ilmu Gizi, Farmasi, dan lain sebagainya.

Selain makna di atas, Dr. Syam juga menyebutkan makna yang diketengahkan oleh George Saliba, seorang guru besar Arabic and Islamic Science dari Columbia University. Dalam bukunya Islamic Science and the Making of the European Renaissance ia menyebut, sains Islam adalah disiplin-disiplin ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam Peradaban Islam antara abad 7 hingga 16 M, terutama pada masa-masa keemasan Islam. Terkadang ia juga dikenal sebagai sains Arab, karena sebagian besar karya tersebut memang menggunakan Bahasa Arab, yang dimana ia merupakan ciri dari Peradaban Islam.

Menurut Dr. Syam, makna yang diberikan Saliba ini perlu diberikan catatan khusus. Pendeketan Saliba terlalu berpusat pada aspek geografis dan kronologis. Ini tentu berimplikasi pada sesuatu yang paradoks, dimana di satu sisi ia setuju dengan istilah sains Islam, namun tidak setuju dengan gagasan islamisasi sains. Selain itu, nampak bahwa Saliba melewatkan gagasan islamisasi ilmu sebagai proyek epistemologis. Lahan kritik akan semakin kita temukan ketika membaca ide Saliba ini dari perspektif al-Attas dan Alparslan.

Baca juga: Sekilas Tentang Makna Faqih

Untuk menambah wawasan dan memperluas perspektif, Dr. Syam juga menyampaikan makna lain dari sains Islam yang diungkapkan Adi Setia. Jika makna pertama berdasarkan pendekatan historis, dan kedua filosofis, maka makna ketiga cukup menarik dan terkesan visioner. Ia menulis bahwa makna sains Islam adalah disiplin ilmu yang mengkaji perumusan kembali Sains Islam sebagai proyek penelitian (research program) jangka panjang yang bersifat tajribi (eksperimental), ‘amali (practical) dan indrawi (empirical) yang bertujuan melaksanakan tata nilai ilmu dan tata nilai adab islami dalam semua kegiatan sains dan teknologi masa kini.

Ini bermakna usaha bersungguh-sungguh oleh saintis yang bercita-cita tinggi untuk memadukan secara kritis semua kegiatan sains dalam kerangka worldview Islam, serta berupaya menjelaskan implikasi epistemologis, metodologis dan aksiologis yang bakal terhasil dari proses pemaduan kritis tersebut terhadap praktik sains kontemporer. (Lihat dalam Islamic Science: Paradigma, Fakta dan Agenda, hal. 47-48)

Sekilas, makna ini mirip dengan pemaparan Alparslan. Namun, lebih jauh, Adi Setia menegaskan, pengertian ketiga ini menjadikan Sains Islam sebagai suatu kerangka atau paradigma baru, dan metodologi penelitian baru, bagi semua kegiatan sains masa kini. Hal ini demi terbentuknya sains dan teknologi yang merealisasikan worldview Islam di dunia nyata, baik di dalam penerapan sains dan teknologi, khususnya, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini, tambahnya, worldview Islam dirumuskan kembali sebagai kerangka induk yang mendasari pembangunan dan pengubahan teori dalam kegiatan sains Islam, serta perumusan tata nilai yang mengilhami kegiatan itu.

Demikian pemaparan singkat mengenai makna sains Islam menurut Alparslan, yang merupakan penjabaran dari gagasan al-Attas, serta menurut George Saliba dan Adi Setia.

Bisa kita lihat, ketika para tokoh memberikan suatu makna untuk sains Islam, maka sekaligus ia berimplikasi pada tawaran pendekatan yang bisa diambil oleh peneliti berikutnya, dengan melihat tantangan dan peluang yang ada. Setidaknya, catatan singkat ini juga sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan terkait ukuran dan indikator sains itu disebut Islami, dan apa yang membedakannya dengan sains yang tidak Islami. Wallāhu A’lam.

Artikel Lainnya:

6 Comments

  1. Pingback: Belajar Islamisasi Ilmu, Apa Manfaatnya? | Aqidah and Islamic Philoshophy

  2. Pingback: Shohibul Mujtaba: Benarkah Ilmu Pengetahuan (Sains) itu Netral? | Aqidah and Islamic Philoshophy

  3. Pingback: Ragam Pendekatan dalam Islamisasi Ilmu | | Aqidah and Islamic Philoshophy

  4. Pingback: Menimbang Pendekatan Apologetis dalam Pengembangan Sains Islam | | Aqidah dan Filsafat Islam

  5. Pingback: Sains Islam sebagai “shibghah” Umat - Aqidah dan Filsafat Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *