Mau Berinteraksi dengan Al-Qur’an?, ini tingkatan-tingkatannya

Mau Berinteraksi dengan Al-Qur’an?, ini tingkatan-tingkatannya

afi.unida.gontor.ac.id. Senin malam 4 Maret 2018, Keluarga Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor melaksanakan Malam Bina Iman dan Taqwa atau MABIT di Markaz Siroh Universutas Darussalam Gontor. Kegiatan ini dimotori oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi.

Dalam MABIT ini para peserta berfokus pada peningkatan pembacaan Al-Qur’an yang tujuan akhirnya adalah memperbaiki ibadah. Untuk menuju hal ini Asatidz mendampingi mahasiswa dengan memberi perhatian dan bibingan kepada mahasiswa. Bahkan bimbingan dari Asatidz ini sudah dilakukan dalam keseharian mahasiswa karena sistem pendidikan di Universitas Darussalam Gontor adalah sistem pendidikan 24 jam dikelas ataupun di dalam kelas.

Lihat : Pertahankan Nilai Pesantren, Prodi AFI-FU terapkan pola kepengasuhan 24 Jam

Pada kesempatan kali ini Al-Ustadz Shohibul Mujtaba, M.Ud. menyampaikan bahwa dalam hidup kita akan menempuh jalan menuju Allah, untuk itu kita sebagai manusia membutuhkan petunjuk yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai petunjuk ini haruslah dipelajari, dipahami, dan diamalkan.

Dalam hal ini membaca Al-Qur’an bermakna luas sekali jika bertujuan untuk mendapat petunjuk Allah dan inilah titik awal untuk membaca berinteraksi dengan Al-Qu’an. Interaksi dalam Al-Qur’an ada bermacam-macam. Salah satunya adalah membaca Al-Qur’an menurut Fahmi Islam ada talafudz, tafahhum, tadabbur, tafakhur, takhosub, dan tanfid.

Al-Ustadz Shohibul Mujtaba menjelaskan tilawatu talafudz sebagaiacuan dan tolak ukur bacaan kita. tilawatu talafudz ada dua; dari sisi kulaitas dan sisi kualitas. Dari sisi kuantitas, jika kita mejadikan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sebagai teladan maka mereka rata-rata menghatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari, bahkan ada sahabat yang bisa lebih dari itu ada yang 5 hari, 3 hari.

Rasulullah SAW membatasi pada 3 hari, karena ditakutkan akan menyebabkan ketidaknikmatan dalam membaca Al-Qu’an, atau bosan dengan Al-Qur’an ataupun membacanya yang kurang baik.

Namun banyak dari sahabat yang menghatamkan Al-Qur’an hanya sehari contohnya adalah Utsman bin Affan R.A dan Imam Syafi’ie yang menghatamkan Al-Qur’an 60 kali dala satu bulan Ramadhan.

Tentang kuantitas membaca Al-Qur’an, beliau menegaskan bahwa semakin banyak yang kita baca dari Al-Qu’an maka semakin banyak waktu kita. Tidak usah takut akan kehabisan waktu. Justru dari membaca itu waktu kita akan dilongorkan oleh Allah SWT. Sebagai contoh nyata adalah; pada malam turunnya Al-Qur’an yang satu malam seperti seribu bulan.

Lihat : Konsep Taqwa dalam Al-Qur’an

Beliau menambahkan dari sisi kulaitas bacaan, terkait hal ini kelancaran dalam membaca Al-Qur’an. Kelancaran ini meliputi tajwid, makhraj, sifat huruf dan cobalah untuk menigkatkan bacaannya dalam mengetahui sanad keriwayatan dalam makhraj, tajwid. Berusahalah untuk mendapat guru yang mempunyai sanad kepada Rasulullah SAW dalam membaca Al-Qur’an.

Inilah satu sisi berinteraksi Al-Qur’an yang luas. Baru satu sisi saja sudah luas. Maka masyaAllah jika kita mempelajari, menghayati, bahkan bisa mengamalkan Al-Qur’an ini dan bisa berda’wah dengannya. Sungguh nikmat yang tiada tara dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Semoga kegiatan semacam ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa dalam mempelajari Al-Qur’an dan meningkatkan iman dan taqwa kepada Sang Khaliq.

One comment

  1. Pingback: Implentasi Hafalan Qur’an Disisi Spiritual Mahasiswi Guru – Aqidah and Islamic Philoshophy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *