Oleh : Muhammad Faqih Nidzom, M.Ud.
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Pada hari Sabtu, 9 Maret 2019, penulis mendapatkan pengalaman berkesan. Bapak Rektor Unida Gontor memberi penulis amanat untuk mengisi kajian tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan di hadapan dosen, mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Ushuluddin Institut Dirosat Islamiyah al-Amien (IDIA) Prenduan, Sumenep di Ruang Multimedia Gedung Baru lantai III.

Penulis menyampaikan banyak hal seputar gagasan islamisasi ilmu; dari urgensi dan relevansinya, metodenya, dan agenda Unida Gontor ke depan. Beberapa poinnya bisa dilihat di tautan berikut:

Kembali ke judul, barangkali ia juga muncul di benak kita. Sekilas seperti pertanyaan sederhana, tapi menjawabnya memerlukan pemikiran dan perenungan. Walaupun terkesan subyektif, penulis akan memaparkan beberapa poin jawabannya, yang setidaknya akan menjadi bahan renungan untuk segenap pembaca dan mahasiswa yang tertarik dengan diskursus ini. Secara sadar atau tidak, selain wawasan dan perspektif yang luas, mata kuliah ini mengajarkan kita banyak hal, berikut diantaranya.

Baca juga: Sekilas Tentang Makna Faqih

Pertama, para pengusungnya, utamanya Prof. Naquib al-Attas, mengajarkan kita sikap kritis dan selektif; tidak asal terima (taken for granted) sains yang sedang berkembang, dengan semua asumsi, metodologi dan teorinya, juga tidak membuang semuanya, seolah-olah tidak ada satupun kebenaran universal yang bisa kita ambil dari orang lain.

Senada dengan itu, bisa kita simak ungkapan Seyyed Hossein Nasr yang terkenal ini, “Tidak pernah ada sains yang diserap ke dalam sebuah peradaban tanpa penolakan sedikit pun. Mirip dengan tubuh kita. Kalau kita cuma makan saja, tetapi badan kita tidak mengeluarkan sesuatu, maka dalam beberapa hari saja, kita akan mati. Sebagian makanan perlu diserap, sebagian lagi harus dibuang.”

Bahkan, di Barat yang notabene tempat lahirnya sains modern saja, dengan mudah kita temukan sikap ini, sehingga melahirkan pemikiran, mazhab, metode dan teori yang berbeda dari saintis sebelumnya. Sila baca literatur tentang Filsafat Ilmu. Nah sekarang, apakah kita sebagai muslim asal telan semua sains mereka? Tentu tidak.

Kedua, dari sikap di atas, akan merangsang kita melahirkan karya-karya produktif. Inilah respon yang elegan. Bayangkan kalau semua saintis tidak ada sikap kritis, apa ilmu pengetahuan akan berkembang? Alih-alih, justru akan jumud dan stagnan. Betapa, tulisan-tulisan mereka bisa kita baca hingga sekarang.

Karya-karya dalam bidang ini diantaranya dari para tokoh par-excelence seperti al-Attas, al-Faruqi, Nasr, Kamal Hasan dan lainnya. Belum lagi karya para murid mereka, yang menjelaskan, menjabarkan, dan menggunakan teori mereka sebagai metode dan perspektif dalam penelitian, sehingga semakin memperkokoh gagasan masing-masing sebagai paradigma keilmuan. Dan tak kalah pentingnya, gagasan ini mengajarkan kita bagaimana mengidentifikasi masalah hingga ke akarnya, untuk kemudian memberikan tawaran solusi dengan cermat dan tepat

Ketiga, perlunya bekal dalam sikap kritis. Utamanya berupa semangat dalam berilmu sampai memiliki otoritas di bidangnya, serta bekal adab yang lengkap. Bagaimana kita merespon sebuah tantangan jika tanpa bekal ilmu? Atau, elokkah kita berilmu tapi mengkritik dengan tanpa adab?

Dalam konteks islamisasi ilmu, sebagai sebuah gerakan dan upaya, bekalnya tentu pemahaman yang baik akan Islam dengan berbagai cakupannya, dan ilmu pengetahuan kontemporer yang hendak diislamkan, dengan perangkat epistemologi Islam yang kokoh.

“Proses islamisasi itu melibatkan proses konseptual, maka diperlukan pemahaman yang mendalam tentang hakikat, jiwa dan sifat-sifat Islam sebagai agama, kultur, tamaddun (peradaban), dan juga tentang kultur dan peradaban Barat”. Demikian Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan dalam berbagai seminar dan diskusi kelas.

Baca juga: INSISTS dan Gagasan Islamisasi Ilmu

Ketiga poin di atas, jika kita telaah, telah diajarkan dengan baik oleh para ulama dan saintis kita. Baik di ilmu-ilmu agama, utamanya ‘Ulūm al-Hadīs, ‘Ilm al-Kalām, al-Fiqh, dan lainnya. Begitu hati-hatinya mereka menyeleksi, menganalisa, dsn merespon dengan kritik tajam, dengan bekal keilmuan masing-masing.

Di bidang sains, Ibnu Sina dengan bekal epistemologi Islamnya, bukan sekadar mengulang karya filosof Yunani dalam Filsafat dan kedokteran, tapi juga secara kreatif-inovatif menghasilkan karya yang benar-benar baru. Imam al-Ghazali, tokoh generasi berikutnya, pun tetap mengkritik beberapa aspek dalam pemikiran Ibnu Sina dengan Tahāfut al-Falāsifah, terutama benih-benih saintisme yang harus dihindari oleh setiap muslim. Ibnu Rusyd, generasi setelahnya, juga menyanggah beberapa argumentasi dari kritik al-Ghazāli terhadap para filosof dengan Tahāfut at-Tahāfut, dan begitu seterusnya.

Keempat, atau terakhir dalam artikel ini, manfaat belajar Islamisasi Ilmu adalah lahirnya kesadaran bahwa islamisasi memang kewajiban dan tugas kita bersama sebagai muslim. Berkaca dari tugas yang diemban Nabi saw, yaitu mengislamkan seluruh aspek kehidupan jahiliyah; dari aqidah, syariah, hukum, adat-budaya, akhlak dan lainnya. Begitu juga para ulama sebagai pewaris Nabi, dimanapun ia berada, tugas utamanya adalah islamisasi. Bukankah dimanapun kita berpijak, disitulah kita bertanggungjawab atas keislamannya.

Maka tak ubahnya kita, sebagai seorang muslim yang terjun di dunia keilmuan, tugas kita adalah islamisasi ilmu, dimulai dengan ilmu yang ada pada hati dan akal pikiran kita, kemudian bergerak ke islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Wallāhu A’lam.


8 Comments

  1. Pingback: Kunjungan IDIA Prenduan ke UNIDA | Aqidah and Islamic Philoshophy

  2. Pingback: Shohibul Mujtaba: Benarkah Ilmu Pengetahuan (Sains) itu Netral? | Aqidah and Islamic Philoshophy

  3. Pingback: Mendefinisikan dan Memetakan Ilmu dalam Islam | | Aqidah dan Filsafat Islam

  4. Pingback: Menimbang Pendekatan Apologetis dalam Pengembangan Sains Islam | | Aqidah dan Filsafat Islam

  5. Pingback: Sains Islam sebagai “shibghah” Umat - Aqidah dan Filsafat Islam

  6. Pingback: Para Suami, Di mata Para Istri

  7. Pingback: Mengkaji Asas Peradaban Ilmu dari Ismail Raji al-Faruqi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *