afi.unida.gontor.ac.id. Ponorogo, 12/03/19. Tugas akhir merupakan mahakarya seorang mahasiswa, maka sudah selayaknya dikerjakan tingkat keseriusan di atas rata-rata. Namun, hal itu keseriusan itu perlu ditata dengan sebaik-baiknya. Di salah satu kelas materi Islamisasi Ilmu pengetahun kontemporer Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Dr. Hamid membagikan Tips bagaimana langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Langkah ini telah beliau jalankan selama mengerjakan Disertasi berkualitas bertajuk “Kausalitas al_Ghazali” dibawah bimbingan pemikir besar, Prof. Sayyid Muhammad Naquib al-Attas.

Pertama, koleksi data. Tahap ini dilaksanakan sebelum memilih judul, setidaknya ditempuh dalam satu tahun. Prinsipnya adalah memiliki semua literatur yang diminati baik berupa buku, disertasi, makalah, atau jurnal terbaru. Terkadang ada judul buku yang kurang relevan, tapi kutipan penting di dalamnyalah yang bisa dijadikan rujukan. “Pokoknya saya minati, saya miliki”, kata beliau lulusan ISTAC ini.

Baca juga: Manhaj al-Fikri

Kedua, membaca cepat secara terstruktur alias “skimming” (membaca cepat sambil mengambil sesuatu). Diharapkan dari model pembacaan ini, akan menemukan tema menarik yang bisa diangkat menjadi judul. Hindari membaca sambil menulis dalam waktu yang sama, karena membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih banyak.  Pengalaman beliau “satu hari bisa tidak menghasilkan satu paragrafpun”.

Ketiga, mengumpulkan kutipan-kutipan penting terkait dengan tema, lalu mengklasifikanya. Kumpulan kutipan ini selanjutnya akan sangat membantu kerangka penyusunan judul pada setiap Bab atau Sub Bab. Perlu juga membaca satu tema dari berbagai tokoh, sehingga menemukan isu menarik. Langkah ini menjadi kunci kesuksesan dalam kualifikasi dan ujian Proposal, utamanya untuk meyakinkan alasan, masalah, dan signifikansi judul yang dipilih. Sehingga sampai pada kesimpulan “Tidak ada seorangpun yang bisa menyangkal pentingtnnya judul”, statement pamungkas beliau pada langkah ini.

Keempat, proses penyusunan tulisan dari kutipan yang telah terkumpulkan yang biasa disebut “writing up”. Penulisan ini tidak mesti sesuai urutan bab yang direncanakan, boleh dilakukan tidak teratur. Terkadang pula, ada beberapa kutipan yang tidak dipakai. Tulisan ini selanjutnya menjadi draf pertama yang harus senantiasa direvisi menjadi draf kedua, ketiga dst. Jika sudah “fix”, maka sesegera mungkin diajukan ke pembimbing. Namun, jika belum sempurna diusakan disempurnakan agar draf yang diajukan tidak “menyiksa” pembimbing.

Baca juga: Resep Thurthusi Untuk Negeri

Langkah ini memakan tenaga dan waktu lebih lama dibanding yang lain, karena akan ada perjuangan revisi terus menerus dari pembimbing. Banyak orang yang gagal, karena tidak sabar dengan ‘masyaqah’ menulis ketahanan sebagai mahasiswa benar-benar diuji pada tahap ini. Maka, kata beliau “sebenarnya tugas akhir itu adalah hasil kerja mahasiswa dan pembimbing”.

Kelima, memberikan pendahuluan pada setiap bab yang berisi kilas balik bab sebelumnya dan gambaran umum tema bab yang akan ditulis. Juga, memerberikan kesimpulan di akhir setiap pembahasan.

Keenam, Pengecekan footnote, numbering, bahasa, translitrasi, bibliografi dan hal lain terkait tekhnis penulisan mulai pendahuluan hingga rujukan. Maka, jida sudah selesai maka tugas akhir siap untuk diujikan.

Baca juga: Jadi Mahasiswa Ushuluddin Ideal, ini Kiat dari Bapak Dekan dan Ka Prodi

Karena langkah inilah, seorang ilmuan besar seperti SMN al-Attas memberikan statement luar biasa atas karya Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi tentang Kausalitas Imam Al-Ghazaly.

Kata beliau meriwayatkan komentar al-Attas; “(This is very important issue, i will supervise my self)’, seorang al-Attas menganggap itu penting, bagaimana ???.. selain itu tak penting (ha ha ha ha, tawa kagum mahsiswa)maka anda orang penting”.
Rep: Moh. Isom Mudin

Selamat menikmati indahnya menulis tugas akhir !!

8 Comments

  1. Pingback: Shohibul Mujtaba: Benarkah Ilmu Pengetahuan (Sains) itu Netral? | Aqidah and Islamic Philoshophy

  2. Pingback: Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi terhadap aksi terorisme di New Zealand | | Aqidah and Islamic Philoshophy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *