Oleh: Ahmad Farkhan Abdau
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA GONTOR

afi.unida.gontor.ac.id. Hiruk pikuk kehidupan dunia dewasa ini telah banyak mengakibatkan kemerosotan moral dan juga akhlak manusia, baik muda maupun dewasa. Itulah yang menjadi problematika masyarakat modern sekarang. Tentu bebrapa fakta ini terkait adanya beberapa faktor;  salah satunya adalah hilangnya kesadaran manusia dari nilai-nilai spiritualitas. Spiritualitas Islam dalam tradisi ilmu disebut juga Tasawwuf.

Jika kita berbicara mengenai tasawwuf, maka pada hakikatnya, Tasawwuf merupakan inti dari hukum islam  yang itu sangat berkaitan dengan akhlak. Menurut Hamka, dalam bukunya, ia menyebutkan mengenai “Tasawwuf Modern”, yaitu suatu konsep yang mengajarkan agar jiwa manusia keluar dari budi pekerti yang tercela, dan masuk pada budi pekerti yang terpuji. Maksudnya disini, manusia haruslah membersihkan jiwa, mendidik  dan mempertinggi budi pekertinya dan melawan serta menghilangkan sifat sifat feodalisme, materialisme, dan memerangi hawa nafsu.

Hamka juga menjelaskan bahwa manusia harus senantiasa memilik worldview yang terpancar dari Al-Qur’an dan juga Al-Hadits yang terimplementasi dalam kehidupan. Dua hal tersebutlah yang memang menjadi landasan utama dalam menjalankan “Tasawwuf Modern” zaman ini.

Dalam memperdalam mengenai hubungan antara Tasawwuf dan juga Akhlak, Maka umat Islam haruslah mengenai esensi dalam Tasawwuf yang positif tentunya, terkhusus untuk hal-hal yang  berkaitan dengan Tasawwuf Modern.

Para Ahli, Ulama’, termasuk didalamnya Hamka, pun telah sepakat bahwa Tasawwuf Modern ini didasari oleh asas Moralitas dan akhlak menurut ajaran Islam. Banyak sekali ayat-ayat dan hadist nabi yang berkaitan dengan Akhlak, Baik akhlak antar manusia, maupun akhlak manusia kepada Tuhannya. Iniliah yang menguatkan bahwa akhlak islami inilah yang seharusnya menjadi landasan manusia dalam menjalani kehidupan.

Hamka pun juga menerangkan, bahwa Tasawwuf Akhlaki yang modern ini akan membawa manusia dalam kesederhanaan, dan tentunya akan memberikan atau mungkin memperbarui visi dan misi manusia dalam mencapai kebahagiaan hakiki, yaitu melihat dunia sebagai ladang untuk menabur benih-benih yang akan dipanen kelak di Akhirat.

2 Comments

  1. Pingback: Menimbang Pendekatan Apologetis dalam Pengembangan Sains Islam | | Aqidah dan Filsafat Islam

  2. Pingback: Belajar Epistemologi Tauhid dari Buya Hamka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *