afi.unida.gontor.ac.id. Hari Jum’at (15/03/2019) menjadi agenda rutin bagi para mahasiswa UNIDA Gontor untuk melaksanakan kajian Islamisasi mingguan. Kali ini, ada yang berbeda dengan kajian Islamisasi sebelumnya, kajian kali ini mengulas tentang permasalahan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif, dalam suatu kajian melalui vidio singkat berdurasi 29 menit.

al-Ustadz. Shohibul Mujtaba, M.Ag. dalam kajian mingguan Islamisasi UNIDA Gontor

Pada sesi pembukaan al-Ustadz. Shohibul Mujtaba, M.Ag. selaku wakil direktur Markaz Qur’an UNIDA Gontor, sekaligus Dosen Muda Prodi Aqidah dan Filsafat Islam dan pakar dibidang ilmu kalam, membuka dengan sebuah pertanyaan kecil, Benarkah Ilmu Pengetahuan (Sains) itu Netral?. Dengan gaya bicara yang khas, beliau menunjuk salah seorang mahasiswa untuk memberikan jawaban.

Namun sepertinya jawaban dipaparkan belum memuaskan, kemudian beliau menyarankan untuk menyimak dan menemukan jawabannya dari sebuah vidio kajian singkat Dr. Syamsuddin Arif.

Baca juga: Makna Sains Islam dan Agenda Islamisasi Ilmu

Pada pemaparan yang disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif, dapat disimpulkan sebagai berikut: Berangkat dari sebuah pertanyaan: Apakah ada yang disebut ilmu pengetahuan Islami (Islamisasi ilmu pengetahuan)?

Terdapat dua pemahaman untuk menjawab pertanyaan di atas, mazhab pertama: yakni, orang-orang yang mengingkari adanya sains Islam/Islamisasi ilmu pengetahuan. Alasan kenapa mereka menolak sains islam;

Pertama, Sains itu netral dan bebas nilai, tidak ada warna ideologi dan tidak memiliki unsur-unsur (Science is neutral). Sains yang dimaksudkan bukan tentang nilai baik/buruk, benar/salah atau matematik, akan tetapi tentang ideologi dan tidak adanya unsur nilai yang terkandung didalamnya.Kedua, Ilmu itu universal (secara menyeluruh, terdapat dimana-mana dan tidak berpihak).Ketiga, Sains atau ilmu berbeda dengan agama dan agama tidak berkaitan dengan sains.

Baca juga: Belajar Islamisasi Ilmu, Apa Manfaatnya?

Lalu, mazhab kedua: yakni, orang-orang yang menentang pernyataan bahwa sains/ilmu Islam tidak ada. Padahal sains Islam itu ada nyatanya, karna memang ada ilmu yang Islami. Dalilnya:

Pertama, Science is not neutral, karena sains membawa dan mengandung nilai-nilai didalamnya. Karena tidak adanya satupun ilmu yang lepas dari sebuah kepentingan dan kepentingan inilah yang mempengaruhi ideologi atau worldview (cara pandang) seseorang.Kedua, Sains tidak universal secara keseluruhan.Ketiga, Sains berhubungan dengan agama dan agama terhubung dengan sains. Karena agama juga menggunakan sains (bukan hanya sebagai ritual semata).

Kemudian Dr. Syamsuddin Arif menimpali bahwa didalam buku “Knowledge and Human Interests”, yang ditulis oleh: Jurgen Habermas banyak mengulas tentang bantahan terhadap orang-orang yang masih menganggap sains/ilmu itu netral dan pemahaman-pemahaman seputar ilmu pengetahuan.

Baca juga: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi M.A M.Phil : Problem Konsep Ilmu merupakan Tantangan Generasi Millenial

Benarkah Ilmu itu netral?

Menurut Dr. Syamsudin Arif, pandangan ini sangat tergesa-gesa. Karena mengatakan sains/ilmu tidak mengandung nilai apapun. Maka dapat dikatakan bahwa Ilmu itu mengandung sebuah kepentingan dan serat akan nilai dan tidak akan pernah lepas dari ideologi.

Sedangkan pandangan sains itu universal (ada dimana-mana dengan pemahaman yang sama). Maka ini tidak tepat, karena sains tidak universal secara keseluruhan. Permisalannya, pemahaman sains di Barat dengan pemahaman sains di Timur tentu berbeda dan sains juga banyak dipengaruhi oleh worldview (cara pandang) dari seseorang yang memiliki banyak kepentingan didalamnya.

Sains berhubungan dengan agama dan agama memiliki hubungan dengan sains. Kalau ada yang mengatakan bahwa sains tidak berhubungan dengan agama, mungkin itu berlaku untuk agama lainnya, namun tidak dengan agama Islam, didalam Islam ada banyak pemahaman tentang sains (faktanya, terdapat banyak ayat al-Quran yang menjelaskan tentang sains).
Rep. Joko Kurniawan

Berita Lainnya:

4 Comments

  1. Pingback: Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi terhadap aksi terorisme di New Zealand | | Aqidah and Islamic Philoshophy

  2. Pingback: Mahasiswa AFI, Menjadi 10 Penembak Terbaik Pada Latihan Menembak Nasional | | Aqidah and Islamic Philoshophy

  3. Pingback: SUMBER-SUMBER PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF AL-FARABI DAN IBN RUSYD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *