Oleh: Muhammad Faqih Nidzom
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Dalam dua catatan sebelumnya, penulis telah memaparkan uraian Dr. Syamsuddin Arif tentang urgensi islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, sebagaimana digagas oleh Prof. Al-Attas. Silakan baca di tautan berikut:

Pada sesi berikutnya penulis menguraikan penjelasan Direktur INSISTS Jakarta ini terkait apa sebenarnya yang dimaksud dengan sains Islam dan apa ukuran dan indikator sains itu disebut Islami. Gagasan para tokoh seperti Alparslan, Adi Setia, George Saliba dan lainnya bisa dilihat di:

http://afi.unida.gontor.ac.id/makna-sains-islam-dan-agenda-islamisasi-ilmu/

Dengan mengkaji gagasan Islamisasi ilmu al-Attas dan para muridnya, berikut defisini, metode dan agendanya di atas, kita telah masuk ke salah satu pendekatan Islamisasi ilmu, yaitu pendekatan filosofis, atau pendekatan epistemologis, seperti disebut Prof. Wan Daud dan diamini oleh Dr. Budi Handrianto. Bisa kita mengerti, karena konsep ini memang menyentuh akar permasalahan dalam sains.

Di sesi ketiga ini, Dr. Syam mengenalkan beberapa pendekatan lain dalam Islamisasi ilmu. Diantaranya adalah; pendekatan historis, pendekatan apologetis-justifikasi, pendekatan praktis, pendekatan edukatif, dan pendekatan gerakan sosial-politik.

Pendekatan historis secara sederhana bisa disebut dengan studi tentang sejarah keilmuan. Dr. Adi Setia melihatnya sebagai salah satu makna sains Islam, yaitu disiplin ilmu yang mengkaji sejarah perkembangan sains dan teknologi dalam peradaban islam serta kaitannya dengan perkembangan sains dan teknologi di dunia barat. Perkembangan ini menjadikan Sains Islam sebagai salah satu cabang dari sejarah Sains (history of sciences) yang lebih luas.

Baca juga: Belajar Islamisasi Ilmu, Apa Manfaatnya?

Terkait agenda dalam pendekatan ini, Dr. Syam menyebut diantaranya; mengkaji karya ilmiah dan mengungkap fakta-fakta sains Islam serta kontribusi para saintis Muslim masa lalu, sebagaimana telah banyak dilakukan oleh para peneliti, baik dari Islam maupun tokoh-tokoh Barat.

Dr. Adi memberi beberapa contoh karya hasil penelitian dalam kateri ini, seperti; George Saliba dengan bukunya Islamic Science and the Making of the European Renaissance, Donald R.Hill dengan Islamic Science and Engineering, Noor Zakiyah binti Saparmin dengan Qutb al-Dīn al- Shīrāzi’s Nihāyat al-Idrāk fi Dināyat al-Aflāk, Nurdeng Duerseh dengan Al-Biruni’s Fihrist al-Razi’s Biodata and his Medico-Philosophical and Educational Contributions, dan banyak lagi lainnya. (Lihat di buku Islamic Science: Paradigma, Fakta dan Agenda, hal. 44-46)

Secara lebih konkrit dan sederhana, Dr. Syam  menyarankan agar ada mahasiswa di bidang kedokteran misalnya, yang meneliti satu pohon atau tanaman yang disebutkan Ibnu Sina dalam al-Qānūn fi-t-Tibb, digunakan untuk mengobati apa dan bagaimana metodenya. Begitu juga dengan mahasiswa di jurusan lain, bisa menerapkan pendekatan ini untuk penelitiannya.

Pendekatan berikutnya, apologetis. Pendekatan ini biasanya digunakan oleh kalangan modernis, dengan semangat bahwa Islam senantiasa relevan dengan perkembangan zaman dan sains-teknologi. Metodenya adalah mencocokkan fakta ilmiah modern dan temuan-temuannya dengan ayat al-Qurān dan Hadits, dan karenanya, ia juga sering disebut dengan justifikasi, ayatisasi, rasionalisasi, atau dengan istilah lainnya.

Pendekatan ini dipopulerkan oleh Maurice Bucaille, dengan yang sudah diterjemahkan menjadi Bible, Qur’ān dan Sains Modern. Selain itu, diantara karya yang termasuk kategori ini adalah Design in Nature karya Harun Yahya dan Ayat-ayat Semesta oleh Agus Purwanto.

Baca juga: INSISTS dan Gagasan Islamisasi Ilmu

Dr. Budi Handrianto menambahkan seperti Dimensi Sains al-Qur’ān: Menggali Ilmu Pengetahuan  dari Al-Qur’an  karya Prof. Ahmad Fuad Pasya, Ensiklopediana Ilmu dalam Al-Qur’an: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al-Qur’ān karya Afzalur Rahman, Shuwar min Tasbīhil Kāinat Lillāhi karya Dr. Zaghlūl An-Najjār, serta buku-buku lain yang serupa. (Lihat di Budi Handrianto, Islamisasi Sains: Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern, hal. 167-171).

Meski cukup popular dan mudah diterima oleh masyarakat awam, menurut Dr. Syams pendekatan ini harus dilihat secara kritis. Sejatinya, ia justru mengasumsikan adanya kontradiksi antara agama dan sains, sehingga berusaha untuk merasionalkannya secara terburu-buru.

Selain itu, ia bermakna bahwa kebenaran sains modern ini netral, bisa diterima mentah-mentah dan berlaku secara universal, dan untuk itu, menjustifikasinya dengan ayat tidak bermasalah.

Ini tentu keliru, apalagi dilihat dari perspektif Islamisasi ilmu al-Attas. Dan tak ketinggalan, Ziauddin Sardar pun memberi kritik serupa, dengan menyebut praktek seperti itu justru amat berbahaya karena teori ilmu pengetahuan dapat berubah setiap saat, sementara al-Qurān tidak boleh berubah. Jadi, hemat penulis, pendekatan ini tidak direkomendasikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, karena masih diperlukan upaya lanjutan berupa kemampuan konseptualisasi dengan bekal epistemologis yang mumpuni.

Baca juga: Ustadz. Shohibul Mujtaba: Benarkah Ilmu Pengetahuan (Sains) itu Netral?

Pendekatan berikutnya adalah pendekatan praktis. Lahan penelitian yang banyak dan bisa dimasuki dengan pendekatan ini adalah jurusan teknologi informasi, teknologi industri, farmasi, gizi, dan semisalnya. Metodenya adalah dengan mengembangkan produk konsumsi dari sains dan teknologi yang berbasis Maqāshid Syarī’ah. Rumusan maqashid, seperti yang kita pelajari, adalah kemaslahatan berupa terjaganya agama, jiwa, akal, keturunan dan harta manusia.

Contoh sederhana di bidang farmasi-gizi adalah obat-obatan, dimana ia banyak dibutuhkan manusia. Islamisasinya dengan  memperhatikan bahan pokok dan tambahannya (dari sisi halal dan thayyib-nya), prosesnya, alat-alat dan teknologi yang digunakan, keselamatan dan keamanan selama prosesnya, pemasarannya, dan begitu seterusnya.

Di bidang TI, pendekatan ini bisa dilakukan dengan rekayasa produk teknologi, seperti membuat aplikasi berbasis maqashid tadi. Baru-baru ini, beberapa mahasiswa Unida Gontor dalam skripsinya telah menerapkan. Ada yang membuat aplikasi pembagian Mawaris, aplikasi pengajaran Tamrin Lughoh berbasis Android, dan banyak lagi. Pendekatan ini juga menghendaki kerjasama dan integrasi antar fakultas, seperti Fakultas Syari’ah dengan Fakultas Saintek dan lainnya.

Pendekatan berikutnya, edukatif. Pendekatan ini bisa dilakukan dengan merevisi kurikulum pengajaran dan membuat buku teks alternatif yang islami, sebagai cerminan dari Islamic Worldview, baik di tingkat Sekolah Dasar (SD), Menengah (SMP), bahkan tingkat Atas (SMA). Di level Perguruan tinggi, contoh kongkrit telah diberikan oleh ISTAC Malaysia di bawah Prof. al-Attas, UIKA Bogor, Unida Gontor, dan lainnya.

Di lembaga penelitian, bisa kita saksikan gegap gempita islamisasi ilmu lewat International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang didirikan oleh Ismail Raji al-Faruqi, dengan fokus pada produksi buku-buku ajar kampus yang Islami, khususnya pada bidang Sosial-Humaniora.

Untuk mewujudkannya, al-Faruqi menawarkan 12 langkah praktis, yaitu: 1. Penguasan disiplin ilmu modern: prinsip metodolog, masalah, tema dan perkembangannya, 2. Survei disiplin ilmu, 3. Penguasaan khazanah Islam ontologi, 4. Penguasaan khazanah ilmiah Islam: analisis, 5. Penentuan relevansi Islamyang khas terhadap disiplin disiplin ilmu, 6. Penilaian secara kritis terhadap disiplin keilmuan modern dan tingkat perkembangannya di masa kini, 7. Penilaian secara kritis terhadap khazanah Islam dan tingkat perkembangannya dewasa ini, 8. Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam, 9. Survei permasalahan yang dihadapi manusia, 10. Analisis dan sintesis kreatif, 11. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam, dan 12. Penyebarluasan ilmu yang sudah diislamkan. (Lihat al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, hal. 98-99)

Baca juga: Asal Usul Dan Substansi Filsafat Islam

Pendekatan ini juga bisa diaplikasikan menjadi gerakan intelektual di luar kampus. Dalam hal ini INSISTS Jakarta dijadikan model ideal. Selain workshop seminar tentang peradaban Islam, INSISTS menyelenggarakan kajian dwi-mingguan secara konsisten dengan tema beragam, serta rangkaian sekolah pemikiran.

Apalagi jejaring intelektual INSISTS di berbagai daerah seperti INPAS Surabaya, PIMPIN Bandung, PSPI Solo, MIUMI dan lainnya turut menyemarakkan bidang ini. (Simak kiprah lengkapnya di Tiar Anwar Bahtiar, Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia, hal. 198-238)

Adapun Pendekatan terakhir, pendekatan gerakan sosial-politik. Ini seperti ditunjukkan oleh berbagai lembaga agama-kemasyarakatan seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, atau partai politik seperti Masyumi, PKS, PBB dan lainnya. Belakangan juga bermunculan komunitas Islami yang layak disebut, seperti AILA.

Demikian uraian singkat tentang beberapa pendekatan dalam Islamisasi Ilmu. Jika kita telaah, setidaknya menurut hemat penulis, beberapa pendekatan yang diutarakan oleh Dr. Syam ini memang sebagai tawaran, dalam arti kita bisa memilih manapun -selain apologetis-, sesuai dengan kapasitas keilmuan dan ruang gerak kita. Dengan asumsi bahwa islamisasi ilmu merupakan tugas dan gerakan bersama, bukan hanya individu, dan siapapun bisa bergerak dalam gagasan ini, dimana pun dan kapan pun.

Dengan demikian, harapan bahwa gagasan ini bukan sekadar menjadi wacana para elitis yang terkesan melangit akan terealisasi, dengan membumikannya menjadi aksi nyata dalam berbagai bidang. Jadi, beberapa tawaran pendekatan ini bisa kita maknai sebagai semacam pembagian tugas, yang kesemuanya tetap mengukuhkan islamisasi ilmu dengan Islamic Worldview-nya sebagai paradigma keilmuan. Wallāhu A’lam.

Artikel lainnya:

3 Comments

  1. Pingback: Para Suami, Di mata Para Istri | | Aqidah dan Filsafat Islam

  2. Pingback: Menimbang Pendekatan Apologetis dalam Pengembangan Sains Islam | | Aqidah dan Filsafat Islam

  3. Pingback: Acatalepsy - Aqidah dan Filsafat Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *