Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi terhadap aksi terorisme di New Zealand

Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi terhadap aksi terorisme di New Zealand

afi.unida.gontor.ac.id. Peristiwa teror yang terjadi di New Zealand pada hari Jum’at 15-Maret-2019 sangat menggemparkan dunia, pasalnya negara New Zealand yang terkenal sebagai negara yang aman, mencoretkan catatan terburuk dalam sepanjang sejarah New Zealand berdiri, dengan aksi pembantaian umat muslim yang hendak melaksanakan shalat Jum’at.

Peristiwa tersebut menyita perhatian dunia, terkhusus negara-negara dengan mayoritas umat Muslim. Tidak terkecuali wakil rektor I UNIDA Gontor, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil. yang juga sebagai pakar Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gontor.

Baca juga: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi M.A M.Phil : Problem Konsep Ilmu merupakan Tantangan Generasi Millenial

Pada kesempatan kali ini (16/3/2019), selepas shalat magrib dihadapan civitas akademika UNIDA Gontor beliau menyampaikan bahwa peristiwa fenomena yang kerap kali terjadi perlu diperhatikan secara serius.

Beliau menimpali bahwa aksi terosisme yang terjadi di New Zealand bukan hanya bermotif ada rasa kebencian terhadap umat Islam. Masyarakat dunia dewasa kini dihadapkan dengan isu-isu yang kerap kali membenturkan antar agama satu dengan lainnya. Dengan upaya untuk memunculkan stigma bahwa agamalah pemicu sikap radikalisme, ajaran agama dibuat seolah-olah tidak lagi memiliki rasa aman, karena telah terkontaminasi sikap radikal.

Lanjutnya, seperti halnya peristiwa yang sama terjadi di India; beberapa kampung umat Islam dibakar oleh orang-orang Hindu. Kasus yang sama juga terjadi oleh orang-orang Muslim Rohingnya. Seolah-olah semua di dunia ini diadu domba, yang kemudian menimbulkan sebuah stigma bahwa agama menjadi musuh bersama, dengan wajah yang tergambar sebagai teroris fundamentalis.

Baca juga: Ustadz. Shohibul Mujtaba: Benarkah Ilmu Pengetahuan (Sains) itu Netral?

Jadi problem sebenarnya bukan antar Muslim dan Kristen, akan tetapi problemnya yang ingin dimunculkan oleh kelompok tersebut adalah; agama menimbulkan sikap radikal dan terorisme, agar semua agama di anggap salah. Dalam sebuah buku yang berjudul “Is Religion Killing Us?”, penulis buku ini menjelaskan bahwa semua kitab suci agama Yahudi, Nasrani dan Islam diperintahkan untuk saling membunuh.

Dan memang ada ayatnya, akan tapi konteks yang di maksud tentu bukan seperti itu. Di dalam Islam itu ada sebuah perintah:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah”.
(QS. At-Taubah 29).

Seharusnya ayat di atas dipahami konteksnya, dan tidak dipahami secara sepenggal-sepenggal. Kondisi di atas terjadi adalah jika berada pada situasi perang. Kata qootiluu dalam bahasa Arab juga tidak selalu berarti “bunuhlah”, tapi ia dapat berarti “perangilah”. Konteks “perangi” juga tidak boleh diartikan di luar konteksnya, pemaknaannya juga perlu disesuaikan dengan kondisi perang dengan kondisi tidak perang. Tapi sebagian orang memahaminya sebagai tindakan kekerasan (radikal).

Baca juga: Manhaj al-Fikri

Kemudian beliau mengutip teorinya Samuel Huntington dalam bukunya “Clash of Civilizations”, dikatakan bahwa yang menjadi target dunia adalah Islam. Karena semua fanatisme kebangsaan, ras dan nasionalisme juga telah berakhir dengan adanya globalisasi, tetapi sebagai pengganti nasionalisme adalah fanatisme keagamaan yang saling dibenturkan sehingga menimbulkan konflik peradaban (Clash of Civilizations).

Maka agama yang saling dibenturkan menimbulkan sebuah sikap radikal yang mereka sebut sebagai terorisme. Sebetulnya tidak ada dalam Agam pemahaman yang demikian, akan tetapi negara-negara besar, kemudian media-media ikut mempelopori paham-paham terorisme untuk menebar bahwa agama adalah memicu radikal. Pada akhirnya agama menjadi bulan-bulanannya para aktivis sekuler, dengan menganggap bahwa agama ini berengsek.

Sekarang ini zaman telah berganti, sekarang sudah zamannya relativisme di era modernisme dengan mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang hakiki, tidak boleh lagi berpikir absolutis, semunya relativif. Paham relativisme, dimana di Barat sendiri orang tidak lagi mencari kebenaran, akan tetapi mempertanyakan kebenaran! Makanya banyak sekali keyakinan yang kini dipersoalkan.

Baca juga: Ingin menulis tugas akhir tuntas berkualitas?, inilah tips mahal dari murid bimbingan al-Attas

Sebagai contohnya: kata iman saja maknanya diubah oleh orang-orang positivisme. Mereka menyatakan, “Jangan dikira bahwa orang yang beriman itu disebut Islam, orang diluar Islam juga bisa disebut memiliki iman, karena jika seseorang telah mengakui bahwa didalam hatinya percaya tuhan itu juga disebut iman.”

Islam juga sekarang dipertanyakan kebenarannya, maka إن الدين عند الله الإسلام, bagi mereka sudah lagi tidak relevan, dirubah pemaknaannya. Karena mereka bertujuan agar kita ini sama (sejajar), antar satu agama dengan agama lainnya. Agar paham relativisme diterima oleh semua orang di dunia, maka dibentuklah stigma adanya radikal dalam bentuk terorisme.

Maka Islam akan terus dipojokkan, disudutkan dengan paham-paham radikal. Agama lain juga sama, diprovokasi sehingga muncul stigma bahwa agama dianggap salah. Ketika agama dianggap salah, maka lebih baik tidak beragama. Bahkan kita diharuskan menerima kepercayaan atau hal apapun yang menyimpang dengan dalil kita ini semua sama (humanisme), kebenaran tidak lagi ditentukan oleh oma hukum agama, kemanusiaanlah yang menjadi penentu didalam masyarakat. Inilah pemahaman yang diinginkan oleh orang-orang atheis.

Maka kita perlu hati-hati dalam menyikapi orang-orang liberal. Orang liberallah yang sangat membenci agama Islam diberbagai bidang dan berupaya untuk menghancurkan dari dalam. Kemudian mereka berkata bahwa al-Quran tidak lagi suci dan sudah tidak autentik maka perlu direvisi.

Inilah adalah drama dunia, dimana kita dihadapkan dengan pembenturan agama, dengan isu-isu radikalisme, terorisme dan toleransi. Wallahu a’lam
Dikutip dari ceramah singkat Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, selepas magrib di masjid Jami’ UNIDA Gontor
Rep: Joko Kurniawan

2 Comments

  1. Pingback: Mahasiswa AFI, Menjadi 10 Penembah Terbaik Pada Latihan Menembak Nasional | | Aqidah and Islamic Philoshophy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *