Para Suami, Di mata Para Istri

Para Suami, Di mata Para Istri

Oleh: Moh. Isom Mudin
Kepala Prodi. Aqidah dan Filsafat Islam, Universitas Darussalam Gontor

Masalah yang paling banyak dihadapi para suami ketika menghadapi istri adalah kesulitan memahami kemauannya. Terkadang suami ingin diam, namun istri ingin bicara. Jadinya, “jaka sembung naik ojek”, alias “tidak nyambung jack”. Suatu ketika, suami ingin ingin bicara, ternyata si “dia” sedang ingin sendiri dan diam. Oleh sebab itu, sangat penting memahami seorang wanita, walaupun hati seorang wanita itu bagaikan sedalam lautan, semakin dalam menyelam makan semakin kebingungan. Terkadang, suami salah memahami istri sehingga terjadi “cekcok”. Di sisi lain, para suami juga mempunyai jiwa sendiri.

Baca juga: Resep Thurthusi Untuk Negeri

Ada kisah menarik, sebelas wanita berkumpul membicarakan suaminya masing-masing. Saling berikrar untuk tidak berbohong atau menutup-nutupi keadaan rumah tangganya. Kisah ini dituturkan oleh Ummul Mukminin, Siti `Aisyah yang termaktub dalam al-Jami` as-Shahih karya monumental Imam al-Bukhari dalam Bab; Husnu al-Mu`asyraha Ma`a al-Ahl . Sebagaimana judulnya, sepertinya Hadits ini ditujukan untuk para suami, sekaligus menjadi renungan para istri. Berikut kisahnya.

Wanita pertama. Katanya: “Suamiku adalah onta kurus di puncak gunung berbatu, sudah jalanya terseot-seot, dagingnya pun tidak gemuk hingga tidak layak dikonsumsi oleh siapapun”. Wanita ini hendak mengatakan akhlak suaminya sangat buruk dan kebaikannya sedikit sekali. Seperti onta kurus.

Wanita kedua. Ceritanya: “Saya tidak sanggup bercerita tentang suamiku, karena kejelekannya sangat banyak dan tidak bisa dihitung, waktunya tidak akan cukup jika saya menceritakannya satu-persatu, saya khawatir kalian akan kehabisan waktu”. Sepertinya, suami wanita ini tidak ada baiknya sama sekali, lebih parah dari wanita pertama.

Baca juga: Belajar Islamisasi Ilmu, Apa Manfaatnya?

Wanita ketiga. Kisahnya: “Suamiku berbadan tinggi dan emosional. Jika saya berbicara kekurangannya, dia mengancam akan menceraikanku. Namun, jika aku diam dia membiarkanku menggantung tidak jelas. Seperti wanita yang belum bersuami tapi kenyataannya sudah punya. Sebaliknya, punya suami tapi kenyataannya seperti tidak punya suami”. Bagai buah simalakama. Nampaknya, suami wanita ini walau berbadan tinggi, namun tiada arti.

Wanita keempat. Tutur lembutnya: “Suamiku bagaikan malam kota Tihamah. Sejuk, tidak terlalu panas, tidak pula terlalu dingin. Tidak menakutkan dan tidak pula membosankan”. Wanita ini sangat beruntung, suaminya berkepribadian terpuji. Pandai bergaul dan memperlakukan istri dengan baik.  Dia sangat bahagia menjalin mahligai rumah tangga dengan pujaannya. Rumah tangganya sesejuk panorama kota Tihamah.

Wanita kelima. Katanya: “Suamiku adalah harimau di  rumah macan di luar rumah. Namun, jangan coba-coba bertanya tentang apa yang terjadi”. Ungkapan majaz persoifikasi wanita berarti suaminya adalah tokoh yang disegani dan dihormati di masyarakat. Namun, tidak pernah memperhatikan keluarganya sendiri. sukses diluar rumah namun kebutuhan keluarga tidak dihiraukan.

Baca juga: Ragam Pendekatan dalam Islamisasi Ilmu

Wanita keenam. Dengan nada sedih, ungkapnya: “Suamiku jika makan dan minum tidak tersisa, jika tidur berpaling dan menutupi tubuhnya dengan selimut, sama sekali tidak mau mencari tahu kesulitan istri, bahkan membantunya”. Nampaknya, suaminya sangat serakah dan tidak peduli. Entah istri sehat atau sakit, kenyang atau lapar, sedih atau bahagia.

Wanita ketujuh. Cemooh pada suaminya: “Suamiku cedal dan sulit bicara, seluruh penyakit ada pada dirinya, suka menyakiti dan melukai istrinya”. Suami wanita ini sangat buruk baik dari segi fisik maupun sikap. Tempramen, suka marah-marah, memukul dan melukai istrinya.

Sabda Nabi:
“Apa kamu tidak malu, pagi hari sudah memukuli istrinya seperti budak, malam hari menggaulinya”
(HR. Abd ar-Razzaq).

Wanita kedelapan. Kisahnya: “Suamiku kalau disentuh seperti kelinci, kalau dicium seperti buah Zarnab (sangat harum baunya)”. Wanita ini sangat beruntung, suaminya sangat baik, budi pekertinya sangat halus, tutur katanya menyejukkan, dan tingkah lakunya menghaumkan dan menyenangkan.

Wanita kesembilan. Tuturnya: “Suamiku tinggi, berbadan tegap, abunya sangat banyak, rumahnya sangat ramai”. Suami perempuan ini tergolong berdarah biru, bangsawan sekaligus dermawan. Ia sering kedatangan banyak tamu dan menghidangkan berbagai hidangan untuk mereka. Hingga abu di dapur sangat banyak.

Wanita kesepuluh. Kisahnya: “Suamiku punya segala-galanya, ontanya sangat banyak onta di dekatnya, mereka gembira jika mendengar suara merdu, karena para tamu telah datang dan mereka disembelih untuk hidangan”. Intinya, dia merasa suaminya lebih baik dari pada sebelumnya, lebih baik, lebih dermawan.

Baca juga: Tanggapan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi terhadap aksi terorisme di New Zealand

Wanita kesebelas.  Ceritanya: “Suamiku adalah Abu Zar`in, apa kalian tahu apa yang dia lakukan?, dia memberiku perhiasan. Membuat badanku subur. Memanjakanku sampai aku sangat  percaya diri. Mengangkat derajatku, dari keluarga yang memiliki seekor kambing menjadi keluarga yang mempunyai banyak kuda, onta dan hewan lainnya. Jika aku berbicara dia tidak pernah mencela. Jika kau tertidur dia tidak pernah menggangguku sampai pagi. Jika aku minum, aku minum sampai puas”.  Dia terus menceritakan ibu, anak dan para pembantunya.

Singkat cerita: “Namun, dia menceraikanku. Aku menikah lagi dengan pria kaya, rupawan dan dermawan. Dia memberiku segalanya yang aku mau. Namun, dengan jujur aku katakan kepadanya bahwa semua yang dia berikan kepadaku tidak ada apa-apanya dibanding yang diberikan dan dimiliki abu zar`in”.  Nampaknya, Abu Zar`in adalah suami terbaik dibanding sepuluh perempuan sebelumnya. Namun, ia sadar semuanya tidak abadi.

Oleh sebab itu, Rasul berkata pada Siti `Aisyah: “Aku untukmu seperti Abu Zar`in pada Ummu Zar`in”. Hanya saja aku tidak menceraikan istriku. Inilah sebelas kisah berbeda para suami di mata istri mereka. Oleh sebab itu, para suami diharapakan bisa berbuat baik kepada istri mereka.

One comment

  1. Pingback: Memaknai Istilah "Singa Betina"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *