Oleh Choirul Ahmad
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam

afi.unida.gontor.ac.id Sejarah dan tradisi intelektual Islam merupakan harta karun tak ternilai harganya yang termanifestasikan dalam berbagai corak, terkhusus pada aspek filsafat[1] maka ia tercermin pada tiga aliran besar yaitu Falsafah, Kalam dan Tasawwuf.[2] Disini makna filsafat yang dimaksud tentu tidak sama dengan filsafat sekular yang jauh dari sentuhan agama dan wahyu, sebagaimana yang banyak diterima secara luas sekarang. Demikian tidaklah aneh kenapa saat ini orang yang identik dengan filsafat justru malah skeptis dengan agama, relatifis terhadap kebenaran dan sinis dengan kemapanan yang semuanya jauh dari akar-akar kebijaksanaan.

Filsafat menurut perspektif Islam bukanlah sekedar sinonim dari Falsafah yang hanya melingkupi salah satu tradisi intelektual dalam Islam saja terutama yang beraliran Aristotelian-Neo Platonis.[3] Tapi lebih merupakan cerminan dari Hikmah[4] sebagaimana filsafat yang secara harfiah berarti cinta kebijaksanaan, dalam perspektif Islam tentu saja kebijaksaan yang paling tinggi adalah pemberian Tuhan yang barangsiapa bisa memperolehnya ia telah mendapat pemberian yang berlimpah. Menurut definisi Ibn Sina spektrum filsafat yang diwakili oleh kata ini merupakan “kesempurnaan jiwa manusia tatkala berhasil menangkap makna segala sesuatu dan mampu menyatakan kebenaran dengan akal pikiran maupun perbuatan sebatas kemampuannya”.[5]

Adapun al Kindi yang lebih memilih terminologi Falsafah mengatakan filsafat adalah ilmu yang mempelajari hakikat segala sesuatu sebatas kemampuan manusia. Tujuan para filsuf yaitu secara teoritis untuk menemukan kebenaran, sedangkan secara praktis untuk beperilaku dengan benar.[6] Diikuti oleh Ikhwan al Shafa (Brethren of Purity) yang menyatakan bahwa filsafat itu awalnya cinta kepada ilmu. Tahap selanjutnya ialah mengetahui hakikat segala sesuatu sesuai dengan kamampuan manusia. Dan puncaknya adalah berkata dan berbuat sesuai dengan apa yang diketahui.[7]

“Wahyu sejatinya mempunyai tempat istimewa dalam berfilsafat dimana logika tidak bisa menyaingi otoritasnya”

Dari beberapa definisi diatas, terlepas dari perbedaan terminologi dan berbagai ajaran yang dibawa oleh tokoh masing-masing setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa inti dari filsafat adalah mengetahui hakikat sesuatu sebatas kemampuan manusia dan bertindak sesuai dengannya. Poin utama yang perlu digaris bawahi adalah melalui kemampuan manusia manakah yang dapat digunakan untuk menjangkau hakikat sesuatu? Dapatkah akal menanggap hakikat sesuatu?

Jawaban dari pertanyaan inilah yang nantinya menentukan bagaimana bangunan filsafat akan direka bentuk. Dalam teologi Kristen abad pertengahan mereka membedakan fungsi akal sebagai intellectus (intellect) yang merujuk pada pengetahuan intuitif dan budiman (sapient) dan ratio (reason) yang lebih kepada analisis logis dan diskursif, dualisme ini akhirnya semakin menajam semenjak zaman renaissance dimana ratio mulai diberi kendali lebih yang mencapai puncaknya pada zaman pencerahan (enlightenment).

Pada saat inilah terutama metafisika benar-benar dikunci rapat. Pada masa terakhir ini Barat mendakwa bahwa kebenaran mutlak hanya dapat diperoleh melalui ratio ini, sehingga hal-hal yang tidak dapat dipahami melaluinya dinilai tidak bermakna (non sense) dan tidak rasional (irrational).[8]

Dalam tradisi intelektual Islam, tidak dikenal dikotomi antara intellectus dan ratio, hati dan pikiran, keimanan dan rasionalitas, juga logika dan transendensi, ‘aql telah mencakup keduanya.[9] Tentu tendensi yang dimaksud disini bukan hanya tentang masalah definisi, namun lebih merupakan posisi ontologis dan metafisika. Islam melihat realitas tidaklah sesempit konstruk pikiran dalam kepala manusia, bahwa realitas atau eksistensi adalah sesuatu adalah lebih luas dan dalam daripada apa yang dapat kita persepsikan, juga bahwa segala sesuatu telah mempunyai hakikatnya masing-masing bahkan sebelum kita memahaminya.[10]

Karena itu mereduksi fungsi akal hanya dengan bentuk berpikir secara logis baik deduktif-observatif atau induktif-spekulatif tentu merupakan kesalahan fatal karena terdapat realitas yang tidak dapat digapai akal dengan menggunakan dua mode ini, fungsi akal pada level yang lebih tinggi adalah untuk berpikir secara intuitif-mediatif. Pada level inilah pengetahuan eksperimental dan kognitif manusia menemukan validitasnya pada konteks yang lebih luas.[11]  

Inilah juga sebenarnya maksud al Ghazali dalam kritiknya terhadap para Filosof di Tahafut Falasifah yang menganggap bahwa demonstrasi yang mereka usahakan sebagai metode utama dalam berfilsafat sehingga menghasilkan pengetahuan murni rasional, merupakan instrumen yang paling valid. Al Ghazali ingin menunjukkan klaim superioritas metode yang mereka pilih ternyata tidak luput dari berbagai inkonsistensi meski kesimpulan yang dihasilkan tidak semuanya salah, hal itu karena baginya kesimpulan-kesimpulan itu adalah merupakan informasi dari wahyu pada nabi dahulu yang kemudian diklaim oleh para filsuf Yunani. Maka, wahyu sejatinya mempunyai tempat istimewa dalam berfilsafat dimana logika tidak bisa menyaingi otoritasnya.[12]      

Menariknya, Mulla Sadra yang merupakan tokoh legendaris pada abad-abad berikutnya dimana dengan tangan dinginnya ia berhasil memprakarsai sintesis besar dalam pemikiran Islam antara Tradisi Falsafah, Kalam dan Tasawwuf telah menambahkan pada definisi diatas bahwa filsafat adalah penyempurnaan jiwa manusia sebatas kemampuannya melalui pengetahuan tentang realitas-realitas segala sesuatu sebagaimana yang ada di dalam diri mereka sendiri dan melalui penilaian tentang eksistensi mereka yang didasarkan dari demonstrasi dan bukan bukan melalui opini atau imitasi[13], demikian karena demonstrasi bagi Sadra tidaklah menyelisihi penyaksian intuitif (shuhud kashfy).[14]

Berlandaskan basis ontologis inilah, signifikasi berpikir dalam Islam tidak hanya menunjukkan akan perlunya pengembangan logika dan intelektual, tapi juga moral dan spiritual.[15] Berpikir secara logis tanpa menghiraukan pertimbangan moral tentu merupakan hasil dari buruknya spiritualitas seseorang, lebih jauh lagi pada gilirannya ia bisa menggiring seseorang pada lubang egoisme dan subjektivisme, dimana dalam banyak kasus berbagai tindak amoral justru dijustifikasi dengan beratasnamakan kemajuan dan keadilan.[16]

Begitu juga berpikir tanpa dihiasi dengan energi spiritual, hanya akan menghasilkan keputusan kasar karena intuisi belum diaktifkan. Dari pembahasan diatas setidaknya kita bisa mengetahui bagaimana sebenarnya ciri utama dari filsafat Islam yaitu yang telah diidentifikasi dengan tepat oleh Seyyed Hossein Nasr sebagai filsafat yang bercorak kenabian (Prophecy).[17] Maka, filsafat Islam dengan demikian mempunyai tempat penting dalam tradisi intelektualnya yaitu untuk mencari kebenaran dan kebijaksanaan, inilah alasan pertama.  

Mengenai status filsafat dalam Islam tokoh yang sama dalam salah satu ceramahnya juga pernah mengatakan bahwa sebagaimana politik ada yang baik dan buruk maka begitu juga filsafat, ada filsafat yang baik dan yang buruk.[18] Sehingga merupakan suatu keanehan sebenarnya bagaimana seseorang mengakui ada ekonomi Islam dan politik Islam namun pada saat yang sama menolak adanya filsafat Islam.

Pada kesempatan itu juga beliau menyampaikan suatu ungkapan menarik yang kemudian disambut dengan begitu riuhnya oleh para audiens bahwa jika dahulu kaum muslimin di Baghdad dihadapkan oleh ribuan kuda perang yang siap meluluh-lantakkan suatu pulau, namun serangan tersebut tidaklah menantang kaum muslimin secara intelektual, berbeda dengan kondisi saat ini dimana tantangan itu datang dari Barat, yang tidak hanya meluncurkan serangannya melalui senjata dan alat berat tapi terlebih lagi juga secara intelektual dan ideologis.[19]

Lebih jauh, hal ini juga telah dikuatkan S.M.N al Attas yang dengan tegas menyatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia sekarang adalah tantangan ilmu yang berasal dari peradaban Barat yang telah bertanggung jawab dalam menimbulkan berbagai dilema dan kerusakan tidak hanya bagi manusia saja bahkan bagi tiga kerajaan alam.[20]

Berbagai fragmen-fragmen ideologi yang dilahirkannya terus bermunculan dan datang silih berganti saling bertumpang tindih tidak ada habis-habisnya, malangnya mereka justru bangga bisa mengkritik dan memperbaiki pencapaian sebelumnya, maka dimulailah dari tesis kemudian anti tesis hingga sintesis, dari pre modern/pertengahan, modern hingga post modern. Bagi mereka tidak ada yang pasti kecuali perubahan itu sendiri. Dari apa yang dihayati Barat ini sesungguhnya mereka telah kehilangan pijakan kebenaran yang holistik dan universal, sehingga apa yang mereka usahakan justru saling menimbulkan pertentangan yang diakhiri dengan dualisme.[21]

Terkhusus bagi dunia muslim, Barat dengan sekularisasinya telah merongrong kedalam relung jiwa dan pikiran masyarakat muslim sekarang baik tanpa disadari atau tidak, yang kemudian oleh al Attas disebut “loss of adab”, singkatnya mereka telah kehilangan kemampuan untuk bisa berlaku dengan benar terhadap segala sesuatu baik secara disiplin pikiran, rohani atau jasadi, hingga timbullah berbagai penyimpangan baik yang kurang (ifrath) atau berlebih (tafrith).[22]

Dari sinilah penting bagi kita mempelajari dan menggali kembali konsep-konsep holistik dan integral yang telah dihasilkan oleh para filsuf kita dahulu, bagaimana mereka bisa menggabungkan antara etika dan filsafat dalam bernegara, bagaimana logika dan transendensi, fisika dan metafisika bisa dipertemukan, bagaimana wahyu dan akal bisa didamaikan, dsb, kesemuanya bagi al Attas mencerminkan apa yang beliau sebut dengan metode Tauhid dalam ilmu pengetahuan.[23] Inilah alasan kedua, yaitu untuk membangun konstruk pemikiran (epistemologi, metafisika, kosmologi, etika, kosmologi, dsb) yang mapan dan kokoh sesuai dengan worldview Islam.

Alasan ketiga, yaitu lanjutan dari hal diatas yaitu sebagai bekal untuk berinteraksi (engagement) dan berhadapan dengan filsafat dan pemikiran dari Barat dalam konteks dialog peradaban.[24] Disini penting kita tekankan bahwa tidak ada peradaban yang dapat lahir tanpa meminjam unsur-unsur dari peradaban lain atau sebelumnya, sebagaimana Islam yang banyak menerima warisan peradaban sebelumnya begitu pula Barat yang dahulu banyak berhutang pada Islam, dalam prosesnya selalu ada proses apropriasi dan naturalisasi untuk menegasi dan mengafirmasi unsur mana yang dianggap dekonstruktif dan mana yang potensial.[25]

Malangnya, saat ini dimana  peradaban Islam berada didalam hegemoni Barat, telah memunculkan dua tipologi pendekatan ekstrim terhadapnya. Ada yang begitu tertutup sehingga menolak berbagai macam hal yang berbau Barat dan sebaliknya ada yang begitu terbuka sehingga menerima berbagai hal dari Barat tanpa kritis.

Dua sikap ini tentu sangat naif sekali karena tidak bisa menilai dan menempatkan sesuatu dengan tepat. Terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi muslim harus mengakui kekalahannya, bahkan di zaman globalisasi dan revolusi industri 4.0 saat ini dimana dunia berusaha didigitalisasi, mau tidak mau manusia dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan IPTEK kalau ingin tetap bisa bertahan hidup. Maka, sikap yang tepat tentu adalah yang pertengahan yaitu dengan tetap terbuka namun kritis, untuk urusan dunia kita bisa lebih leluasa (antum a’lamu bi umuri dunyakum) berbeda dengan urusan agama yang harus disandarkan pada otoritas ulama.[26] 

Hal ini adalah agar seorang pemikir muslim tidak mudah tergiur dengan pemikiran Barat, disamping untuk menjaga identitas dan originalitas pemikiran mereka. Mengingat pentingnya peran golongan ini dalam suatu masyarakat dimana mereka adalah agen perubahan sebenarnya (a tiny creative minority) yang pemikirannya kemudian diikuti oleh kaumnya. Maka, jika sampai para pemikir kita banyak yang terpengaruh dengan Barat bahkan sampai muncul inferioritas terhadapnya itu adalah karena mereka tidak paham terhadap ajaran dan terutama tradisi intelektual Islam sendiri.

Di zaman sekarang tentu persoalan demikian bukan soal baru terutama bagi para pelajar di perguruan tinggi dimana wacana ilmu pengetahuan telah dihegemoni oleh worldview Barat, sehingga tidak aneh kemudian seorang yang dulunya seorang muslim yang taat malah menganut paham-paham seperti Feminisme, Marxisme, bahkan Ateisme, dsb, hal itu terjadi karena iman dan pemahaman agama yang mereka jalankan masihlah sekedar dogma dan imitasi (taqlid), sehingga ketika mereka dihadapkan dengan persoalan-persoalan mendasar iman mereka tergoyahkan. 

“mereduksi fungsi akal hanya dengan bentuk berpikir secara logis baik deduktif-observatif atau induktif-spekulatif tentu merupakan kesalahan fatal karena terdapat realitas yang tidak dapat digapai akal dengan menggunakan dua mode ini, fungsi akal pada level yang lebih tinggi adalah untuk berpikir secara intuitif-mediatif”.

Islam sebagai sebuah peradaban yang pernah berdiri memimpin peradaban lainnya selama berabad-abad tentu bukan soal remeh temeh, terutama yang sering dinilai dari kacamata sosial dan historis. Nilai sebuah peradaban adalah berdasarkan struktur pemikiran dan ideologinya yang kemudian mewarnai berbagai prestasinya baik secara kultural dan saintifik. Dari sini sudah barang tentu sejauh mana berbagai pencapaian oleh peradaban Islam itu dihasilkan merupakan manifestasi dari canggihnya tradisi pemikiran mereka.[27] Maka, belajar filsafat (Islam) justru seharusnya tidak hanya menjadikan yang berkaitan semakin radikal, holistik dan komprehensif dalam berpikir sebagaimana yang lumrah diketahui tapi juga semakin kritis dengan pemikiran serta ideologi asing.[28] 

Lebih jauh lagi, kenapa ilmu-ilmu teoritis seperti filsafat, literatur, dsb yang tergolong ilmu sosial dalam sebuah masyarakat terutama hari ini dimana umumnya seseorang hanya fokus untuk menguasai satu bidang saja begitu urgen dan harus tetap digalakkan karena ketika masyarakat didominasi oleh para insinyur, teknokrat atau saintis yang hanya ahli pada bidang ilmu kealaman dan teknologi dapat terancam kehilangan kompas moralitas untuk dapat menjaga nilai-nilai normatif entah dari budaya atau agama mereka. [29]  Sehingga tanpa dibekali dengan ilmu-ilmu ini atau minimnya orang yang mempelajarinya yang mengakibatkan suara mereka tidak didengar sangat memungkinkan seseorang dan masyarakat terjebak relativisme nilai dalam historisitas waktu.

Yang keempat yaitu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan abadi yang selalu menghantui pikiran anak manusia sebagaimana ia secara fitrahnya mempunyai rasa ingin tau.[30] Seperti Apa itu hakikat realitas? Apa itu kebenaran, keadilan, kebebasan dan kebahagiaan? untuk apa manusia diciptakan? Apakah tuhan itu ada? Bagaimana dunia ini diciptakan?, dsb.

Untuk menjawab persoalan mendasar ini tentu di butuhkan pemahaman yang dalam terutama dimana dizaman millenial sekarang (baik di dunia muslim atau tidak) dimana disiplin ini banyak dilihat sebelah mata karena dianggap tidak bermanfaat (praktis), akhirnya muncullah manusia-manusia primitif baru yang hanya melibatkan dirinya secara pragmatis dan kepekaan sosialnya kurang. Pendidikan bagi mereka tidak lebih dari sekedar pelatihan kerja.[31]

Selanjutnya, yang kelima kenapa harus mempelajari filsafat secara Islam adalah sebagai counter atas berbagai kontestasi para orientalis dalam bidang ini. Karena tidak jarang mereka berbuat tidak adil, manipulatif dan bias dalam kesarjanaannya, entah itu mereduksi fakta, mendistorsi sejarah atau menutupinya. Seringkali Islam hanya dianggap peniru, penjiplak dan pengepul warisan-warisan dari tradisi lain, bagi mereka Islam tidak mempunyai tradisi rasional.

Kesimpulan-kesimpulan tendensius ini sering kali muncul karena para orientalis lebih gandrung menggunakan pendekatan historis-filologis dari pada logis-analitis, artinya warisan para ulama’ dulu hanya dikait-kaitkan dengan apa yang ada dalam tradisi lain seperti Yunani, Yahudi, Persia dan Kristen, sehingga gagal melihat kreatifitas dan originalitas para ulama muslim. Tidak aneh kemudian kenapa subjek Filsafat Islam di universitas-universitas Barat tidak masuk dalam departemen Filsafat yang mayoritasnya digolongkan di studi ketimuran.[32]

Karena itu diperlukan usaha-usaha lebih serius untuk menyaingi apa yang telah mereka hasilkan, terutama untuk menghilangkan berbagai mitos yang hingga hari ini masih diterima secara luas. Disisi lain meski tidak dipungkiri terdapat golongan yang lebih objektif dalam hal ini, sayangnya tokoh dari kaum muslimin sendiri masihlah tidak sebanding jumlahnya. Tentu merupakan aib sebenarnya jika orang lain lebih mengetahui agama kita daripada kita sendiri.

Sebagai penutup, sampai hari ini kita masih menyaksikan berbagai pandangan sinis terhadap bidang ini bahkan mayoritasnya dari kaum muslim sendiri. Ketika kata filsafat disebut yang muncul dalam benak mereka adalah ajaran-ajaran liberalisme, pluralisme, ateisme, dll. Ini masih belum diperburuk lagi dengan para pembelajarnya yang sering terkesan anti otoritas, sering berkata vulgar dan urak-urakan. Kata filsafat bahkan begitu dekat dengan kata sesat. Kalau sudah begini bagaimana mungkin filsafat yang sesat digandengkan dengan Islam.

Disinilah perlu kita tekankan bahwa definisi filsafat dimaksudkan tidaklah sama dengan apa yang banyak dipahami orang-orang. Filsafat dalam Islam bukanlah sekedar berspekulasi dan berlogika tanpa bimbingan wahyu. Berfilsafat dalam Islam juga bukan sekedar membual kata-kata tanpa mengamalkannya. Berfilsafat dalam Islam merupakan manifestasi dari titah Tuhan untuk berpikir dan memaksimalkan anugrah ini sesuai dengan kapasitasnya. (CIOS, 13/03/2019)

Artikel Lainnya


[1] Mengingat luasnya makna filsafat, maka yang dimaksud disini merupakan displin yang mencakup tiga dari lima sub tema sentral dalam filsafat tradisional yaitu Epistemologi, Metafisika dan Etika, lihat entri “Philosophy” dalam Donald M. Borchert, Encyclopedia of Philosophy (USA: Thomson Gale, 2006), h. 325-6.
[2] Lihat Ahmad Muhammad Thayyib, al Ittijah al Falsafi ‘inda Abi al Barakat al Baghdadi dalam Jurnal Afkar Mei 2003, h. 203. Ada juga yang memasukkan Ushul al Fiqh selain dari pada tiga aliran tersebut, lihat Abu al Wafa al Ghunaimi al Taftazani, Dirasat fi al Falsafah al Islamiyah (Kairo: Maktabah al Qahirah al Haditsiyah, 1957), h. B. Alparslan Acikgenc, Islamic Scientific Tradition in History (Kuala Lumpur: IKIM, 2014), h. 326-7, 449, 500.    
[3] Alparslan Acikgenc, Islamic Scientific Tradition in History, h. 398.
[4] Lihat S.M.N al Attas, A Commentary on the Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri (Kuala Lumpur: Ministry of Culture Malaysia, 1986), h. 464. Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy: From its Origin to the Present (Albany: SUNY Press, 2006), h. 34-5.  
[5] Ibn Sina, ‘Uyun al Hikmah, Ed. Abd. Badwi, (Beirut: Dar al Qalam, 1980), h. 16.
[6] Al Kindi, On First Philosophy, terj. Alfred L. Ivry (Albany: SUNY Press, 1974), h.55. 
[7] Ikhwan al Shafa, Rasail Ikhwan al Shafa wa Khullan al Wafa, (Tehran: Maktabah al I’lam al Islami, 1405 H.), h. 48.
[8] S.M.N al Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future (London: Mansell, 1985), 32-35; Ibrahim Kalin, Reason and Rationality in the Qur’an (Abu Dhabi: KRM, 2015), 6; Frithjof Schuon, Logic and Transendence, (Lahore: Suhail Academy, 2004), h. 38.
[9] Seyyed Hossein Nasr, Intellect and Intuition, their relationship from the Islamic Perspective dalam Islam and Contemporary Society (London: Longman, 1982), h. 36; S.M.N al Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, h. 31; Ibrahim kalin, Reason and Rationality in the Qur’an, h. 6.
[10] Ibrahim Kalin, Reason and Rationality in the Qur’an, h. 8-10. Lihat juga artikel beliau di laman web https://www.dailysabah.com/columns/ibrahim-kalin/2018/10/13/what-is-thinking.
[11] S.M.N al Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, an Exposition of the Fundamental Aspect of the Worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), h. 119; Ibrahim Kalin, Reason and Rationality in the Qur’an, h. 7; Rene Guenon, The Multiple States of Being, (Lahore: Suhail Academy, 2005), h. 48.
[12] Lihat Ibrahim kalin, Reason and Rationality in the Qur’an, h. 7. Frank Griffel, al Ghazali’s Philosophical Theology (Oxford: Oxford University Press, 2009), h. 100; al Ghazali’s Incoherence of the Philosopher dalam Khaled el Rouayheb dan Sabine Schmidtke, Oxford Handbook of Islamic Philosophy, (Oxford: Oxford University Press, 2017), h. 196-8.
[13] Sadr al Din al Shirazi (Mulla Sadra), Hikmah Muta’aliyah fi al Asfar al ‘Aqliyah al Arba’ah (Tehran: Wizarah al Tsaqafah wa al Irshad al Islami, 1383 H), h. 27-9
[14] Ibrahim Kalin, Knowledge in Later Islamic Philosophy: Mulla Sadra on Existence, Intellect and Intuition, (New York: Oxford University Press, 2010), h. 220.
[15] Ibrahim Kalin, Reason and Rationality in the Qur’an, h. 12; Jihad Hashim Brown, Metaphysical Dimensions of Muslim Enviromental Consciousness, Tabah Essay Series, No. 3, 2013. 
[16] Ibid, h. 10.
[17] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy: From its Origin to the Present, h. 6.
[18] Ketika itu beliau membawakan tema “Philosophy Matters” dalam rangka RIStalk yang diadakan pada tahun 2012, lihat di laman web, https://www.youtube.com/watch?v=qAgGB407FHs&t=1551s
[19] Lihat juga Seyyed Hossein Nasr, Islam and Modern Science dalam  Islam and Contemporary Society (London: Longman, 1982); Knowledge and the Sacred (Lahore: Suhail Academy, 1999).
[20] S.M.N al Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, h. 127.
[21] S.M.N al Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, h. 3; Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, h. 128.
[22] S.M.N al Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, h. 99.
[23] S.M.N al Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, h. 3; Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY, 1981), h. 150; Ibrahim Kalin, Three Reasons to Read Classical Muslim Philosophers dalam laman web, https://www.dailysabah.com/columns/ibrahim-kalin/2015/05/02/three-reasons-to-read-classical-muslim-philosophers
[24] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy: From its Origin to the Present, h. 47.
[25] A. I. Sabra, The Appropriation and Subsequent Naturalization of Greek Science in Medieval Islam: A Pleliminary Statement, h. 101-119 dalam Muzaffar Iqbal, Studies in The Islam and Science Nexus, Vol 4, (England:Ashgate, 2012).  
[26] Nidhal Guessoum, Kalam’s Necessary Engagement with Modern Science (Dubai: KRM, 2011); M.B Altaie, Daqid al Kalam, a Possible Role in Science and Religion Debates dalam God, Nature and the Cause: Essays on Islam and Science (USA: KRM, 2016); Adi Setia, Kalam Jadid, Islamization and The Worldview of Islam: Operationalizing The Neo Ghazalian, Attasian Vision dalam Jurnal Islam and Science Vol 10 (Summer 2012) No. 1, Center For Islam and Science Canada.
[27] lihat Alparslan Acikgenc, Scientific Thought and its Burden (Istanbul: Fatih University Publications, 2000); Islamic Scientific Tradition in History.
[28] Lihat entri “Philosophy” dalam Donald M. Borchert, Encyclopedia of Philosophy (USA: Thomson Gale, 2006), h. 335.
[29] Lihat Syed Farid Alatas, https://www.nst.com.my/news/nation/2018/11/428265/society-without-scholars-and-thinkers-dangerous-society-says-renowned
[30] Aristotle, The Metaphysics, terj. Hugh Tredennick (Cambridge: Harvard University Press, 1933), h. 3.; Syamsuddin Arif, Filsafat Islam: Tinjauan Historis Kritis, makalah INSISTS tanpa thn, h. 7; Ibrahim Kalin, Three Reasons to Read Classical Muslim Philosophers
[31] Julian Baggini, If Universities Sacrifice Philosophy on the Altar or Profit, What’s Next? Lihat di https://www.theguardian.com/commentisfree/2018/dec/21/universities-philosophy-profit-business-partners.
[32] Syamsuddin Arif, Filsafat Islam: Tradisi dan Kontroversi dalam Jurnal Tsaqafah Vol. 10, No. 1, 2014, h. 17. Seyyed Hossein Nasr, Introduction dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Encyclopedia of Islamic Philosophy, Jil. 1, (Lahore: Suhail Academy, 2002), h. 13.




3 Comments

  1. Pingback: Demistifikasi Nalar dan Realitas - Aqidah dan Filsafat Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *