Korelasi Worldview Islam dengan Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa

Korelasi Worldview Islam dengan Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa

Oleh Hanif Maulana Rahman
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam

afi.unida.gontor.ac.id.- Pancasila sebagai Ideologi Negara Indonesia merupakan dasar hidup bagi seluruh warga Indonesia. Pancasila memang dikonsepkan dengan dasar filosofis yang didalamnya satu sila saling mendasari stu sama lain oleh para pendiri negri ini. Namun akhir-akhir ini terdapat suara parau yang menghantamkan Pancasila dengan Syariat Islam, lantas bagaimana sikap kaum muslimin yang mempunyai syariat tersendiri atau konstitusi sendiri? Apakah Pancasila memiliki konsep-konsep yang sesuai dengan worldview Islam? Dan layakkah Pancasila dipegang sebagai Ideologi Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim?

Kyai Saifuddin Zuhri menegaskan “Tidak sedikit orang yang melupakan bahwa justru Piagam Jakartalah yang dengan tegas-tegas menyebut kelima sila dalam Pancasila mendahului pengesahan UUD 1945 itu sendiri.”[1] Menurutnya nilai tujuh kata-kata itu bersifat konstitusional dan tidak seolah-olah menganakemaskan Umat Islam.[2] Mereka sebagai mayoritas penduduk di Indonesia telah dijamin hak-haknya dalam melaksanakan tujuh kata-kata tersebut oleh pasal 29 UUD 1945 ayat 1 dan 2.

Walau tidak dimasukkan dalam Piagam Jakarta tujuh kata tersebut tidak menjadi hilang dan melaksanakan Syariat Islam bagi muslimin dan akan tetap dijamin dalam UUD 1945 pasal 29. Oleh sebab itu Umat Islam dapat melaksanakan Pancasila tanpa melepaskan Syariatnya.[3] Seperti yang ditegaskan Kyai Saifuddin Zuhri:

“Tidaklah Beralasan prasangka terhadap Ummat Islam dikarenakan oleh Piagam Jakarta, justru sejarah telah membuktikan betapa besar toleransi Umat Islam terhadap Negara dan Bangsa. Umat Islam hanya mengharapkan semoga memperoleh respons toleransi dari pihak lain jikalau Ummat Islam menggunakan hak-hak mereka melalui pasal 29 UUD 1945 didalam melaksanakan Syariat Islam secara komplit dan legal.”[4]

Kita bisa melihat dalam Pancasila terutama sila pertama, yaitu tentang konsep Tuhan yang Maha Esa. Sila ini juga mendasari sila-sila selanjutnya dalam Pancasila. Islam memandang Tuhan adalah Allah yang Maha Esa yang mana menciptakan manusia sebagai tanda kebesarannya dan diberi fitrah untuk kembali baik.[5] dasar inilah yang terkandung secara eksplisit terkandung dalam sila pertama.

Dasar-dasar ini juga mendasari sila kedua, manusia yang adil dan beradab. Sila ini adalah konsekuensi meyakini Tuhan Yang Esa yang memberi kita fitrah untuk menjadi manusia yang adil dan beradab. Keyakinan atau Iman akan membuat seorang beramal dengan ihsan.[6] Dengan kata lain beramal (ihsan) sesuai dengan syariat dan dengan cara yang paling sempurna.[7]Konsep adab menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang didefinisikan

“Adab is a reflection of wisdom, because this comes from the knowledge of the prophet. It is not something you get from universities or even from knowledge, because people sometimes have knowledge but have no adab. It is acting in conformity with justice.[8]

Lebih jauh lagi Menurut Prof S.M.N. Al-Attas masalah terbesar yang dihadapi Umat Islam sekarang ini adalah masalah internal walau Beliau tidak menafikkan masalah eksternal berupa serbuan pemikiran dari Peradaban Barat yang menghegemoni. Dan masalah eksternal ini menurutnya hanyalah sebagian dari masalah yang melanda. Permasalahan internallah yang harus dipahami dan disadari, agar Umat Islam dapat memberikan solusi bagi problematika umat tersebut.[9]

“lost of adab”adalah ”lost of disipline.” The disipline of body, mind and soul; the disipline that assures the recognition and acknowledgement of one’s proper place in relation to one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and potentials; the recognition and ackowledgement of the fact that knowledge and being are ordered hierarchically.”[10]   

Inilah yang menjadi dasar permasalahan masyarakat Indonesia khususnya Umat Islam. Dalam adab tercermin sifat adil karena adil adalah salah satu cabang akhlak. Adab sudah mencakup makna akhlak, bisa dikatakan makna adab lebih luas daripada makna akhlak.[11] Jika adab diterapkan, menurut Al-Attas, maka akan tercipta kondisi adil “keadilan”. “Loss of adab implies loss of justice,” tegas Al-Attas.[12] Jadi adil adalah kondisi dimana adab diterapkan, dimana segala sesuatu diletakkan pada pada tempatnya sesuai dengan ketentuan Allah.[13]

Konsep-konsep inilah yang tercermin dalam Pancasila yang menjadi Ideologi Negara Indonesia. Perlu ditekankan sekali lagi Umat Islam di Indonesia tidak perlu risau atau khawatir akan Syariatnya bahkan dalam UUD 1945 Syariat Islam dijamin dan dilegalkan. Pancasila sudah mencerminkan Worldview Islam bahkan dalam sila pertama yang mendasari Pancasila seutuhnya adalah manifestasi dari dasar keimanan Umat Islam. Maka dari itu Pancasila sudah sesuai dan perlu diperjuangkan nilainya oleh umat Islam kerena Pancasila lahir oleh toleransi besar umat ini.

Artikel lainnya


[1] Makalah K.H Saifuddin Zuhri tentang Piagam Jakrta yang dimuat dalam bukunya Kaleidoskop Politik di Indonesia Jilid 3. (Jakarta: Gunung Agung. 1982), h. 47-53. Selanjutnya Piagam Jakrta. Lihat Juga Adian Husaini. Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam Kesalahpahaman dan Penyalahpahaman terhapad Pancasila 1945-2009. (TP.TT.), h. 3. Selanjutnya Pancasila Bukan untuk Menindas.
[2] Pancasila Bukan untuk Menindas., h. 4.
[3] Ibid., h. 5.
[4] Piagam Jakarta., h. 47-53. Lihat Juga Pancasila Bukan Untuk Menindas., h. 5-6.
[5] Abbas Mansur Tamam. Islamic Worldview Paradigma Intelektual Muslim. (Jakarta: Spirit Mesia Press. 2017.), h. 16-17.
[6] Ibid., h. 22-24.
[7] Ibid., h. 22-24.
[8] Wawancara antara Hamza Yusuf dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas bisadilihat di www.youtube.com. Lihat juga Adian Husaini. Mewujudkan Indonesia Adli dan Beradab. (Jakarta-Surabaya: INSIST-Bina Qalam Indonesia. 2015.), h. 99-100. Selanjutnya Mewujudkan Indonesia.
[9] Mewujudkan Indonesia., h. 101.
[10] Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Aims and Objectives of Islamic Education. (Jeddah: King Abdul Aziz University. 1979.), h. 2. Selanjutnya Islamic Education. Lihat juga Mewujudkan Indonesia., h. 10.
[11] Mewujudkan Indonesia., h. 103-104
[12] Islamic Education., h. 2.
[13] Mewujudkan Indonesia., h. 104.


2 Comments

  1. Pingback: Acatalepsy - Aqidah dan Filsafat Islam

  2. Pingback: Inilah Pentingnya Otoritas Keilmuan menurut Penasehat PKU Gontor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *