Oleh Muhammad Faqih Nidzom, M.A.
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gontor

afi.unidamgontor.ac.id Pada hari Senin, 15 Maret 2019, penulis diundang pengurus FASSIR (Forum Kajian Tafsir) untuk mengisi kajian tentang Sains Islam. Dalam diskusi itu, penulis mengajak mahasiswa untuk membedah kembali bangunan keilmuan dalam Fiqih dan Ushul Fiqih secara singkat, untuk kemudian melihat relevansinya dalam melihat pola relasi ideal antara al-Qur’ān dan ilmu pengetahuan. Dari situ, penulis menggiring mehasiswa untuk menelaah bagaimana seharusnya mengembangkan sains berbasis wahyu, yang oleh sebagian tokoh disebut dengan sains Islam atau sains teistik.

Baca juga: Belajar Islamisasi Ilmu, Apa Manfaatnya?

Di awal, penulis mengulas tentang Fiqih sebagai sebuah disiplin ilmu. Dalam beberapa literatur disebutkan, makna Fiqih secara terminologis adalah ilmu yang membahas tentang hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan syariat praktis (‘amaly) yang tetap atas apa-apa yang semestinya dilakukan setiap muslim yang telah dikenai beban syariat, yang dimana hukum-hukum itu tersarikan dari dalil-dalilnya yang terperinci. Ketentuan hukum itu berupa kewajiban, keharaman, sunnah, makruh, mubah, sah atau batal, dst. (Selengkapnya bisa dilihat misalnya di Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Madkhal li Dirāsah as-Syarī’ah al-Islāmiyah)

Ilmu ini tidak lahir kecuali dengan jalan menganalisa dan berijtihad dengan syarat-syarat yang kompleks, sehingga seorang faqih akan mengeluarkan suatu hukum dari dalil-dalil yang ada, dengan metode-metode tertentu dan melibatkan instrumen-instrumen yang berkaitan. Jika perkara tersebut tertulis dalam nash atau teks, maka yang digunakan adalah metode kebahasaan, jika tidak ada maka dengan pertimbangan maqāshid as-Syarī’ah, dengan pembahasan yang cukup panjang.

Hal-ihwal di atas pada perkembangannya kemudian menjadi wilayah kajian ilmu Ushūl Fiqih. Prinsip-prinsip tadi dengan segala kompleksitasnya dimaksudkan agar syari’ah Islam terjaga sesuai dengan kehendak-Nya, dan tetap terpenuhi kepastian maslahat dan keadilan antar manusia. (Lihat Abdul Wahhab Khalaf, Ilmu Ushulil Fiqh, hal. 197).

Baca juga: Makna Sains Islam dan Agenda Islamisasi Ilmu

Setidaknya, dengan mengkaji Ushul Fiqih, berikut sumber hukum berupa dalil, macam-macam hukum dan metodologi pengambilannya, serta kaidah-kaidah umum dan Ilmu Fiqih sebagai produknya, kita mengetahui bagaimana ulama terdahulu mengajarkan kita pola relasi ideal antara Al-Qur’ān dan ilmu pengetahuan, bagaimana kita memaknai al-Qur’ān sebagai sumber ilmu dan peradaban.

Dilihat dari perspektif ini, pendekatan apologetis yang digunakan oleh kalangan modernis dalam pengembangan sains Islam bisa kita beri catatan kritis. Metode pendekatan ini adalah mencocokkan fakta ilmiah modern dan temuan-temuannya dengan ayat al-Qurān dan Hadits. Ia juga sering disebut dengan pendekatan justifikasi, ayatisasi, rasionalisasi, atau Bucaillisme, merujuk kepada tokoh yang memopulerkannya, Maurice Bucaille dengan karyanya Bible, Qur’ān dan Sains Modern. (Lihat di Budi Handrianto, Islamisasi Sains: Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern, hal. 167-171)

Baca juga: Tasawwuf Akhlaqi Modern Ala Hamka

Begitukah pola hubungan antara keduanya? Meski cukup popular dan mudah diterima oleh masyarakat awam, Dr. Syamsuddin Arif memberikan kritik dengan menyebutkan bahwa pendekatan ini justru mengasumsikan adanya kontradiksi antara agama dan sains, sehingga berusaha untuk merasionalkannya secara terburu-buru. Selain itu, ia bermakna bahwa kebenaran sains modern ini netral, bisa diterima mentah-mentah dan berlaku secara universal, dan untuk itu, menjustifikasinya dengan ayat tidak bermasalah.

Para saintis dan pemikir abad ini, seperti Nidhal Guessoum dan Ziauddin Sardar tak ketinggalan memberikan kritiknya. Keduanya menyebut praktek seperti itu amat berbahaya karena teori ilmu pengetahuan dapat berubah setiap saat, sementara al-Qurān tidak boleh berubah. Padahal, nyatanya, banyak fakta baru temuan sains terkini yang mengoreksi temuan terdahulu, yang sudah terlanjur dibenarkan oleh al-Qur’ān dengab logika ilmuan atau mufassir. (Nidhal Guessoum, Islam’s Quantum Question, hal. 182)

Jadi, hemat penulis, pendekatan ini tidak direkomendasikan dalam pengembangan sains Islam. Walau berawal dari semangat bahwa Islam senantiasa relevan dengan perkembangan zaman dan sains-teknologi, ternyata ia masih menyimpan banyak PR. Sebab masih diperlukan upaya lanjutan berupa kemampuan konseptualisasi dengan bekal epistemologis yang mumpuni.

Baca juga: Ragam Pendekatan dalam Islamisasi Ilmu

Apalagi jika dilihat dari perspektif islamisasi ilmu Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menggambarkannya seperti berikut, “Proses islamisasi itu melibatkan proses konseptual, maka diperlukan pemahaman yang mendalam tentang hakikat, jiwa dan sifat-sifat Islam sebagai agama, kultur, tamaddun (peradaban), dan juga tentang kultur dan peradaban Barat”.

Jadi islamisasi yang sebenarnya bukan sekadar labelisasi, namun secara kreatif-inovatif seseorang itu mengidentifikasi konsep kunci dalam Islam dari ayat-ayat al-Qur’ān dalam tema tertentu, menemukan relevansinya dengan ilmu yang akan diislamkan, dan menyumbangkan metode dan teori-teori di dalamnya. Disinilah bekal dan proses epistemologis bekerja.

Baca juga: Mendefinisikan dan Memetakan Ilmu dalam Islam

Dalam kasus ilmu Fiqih, proses lahirnya digambarkan dengan baik oleh Prof. Alparslan lewat beberapa tahapan berikut; 1. Turunnya wahyu dan lahirnya pandangan hidup Islam, 2. Adanya pemahaman terhadap struktur ilmu pengetahuan dalam al-Qur’ān dan Hadith, 3. lahirnya tradisi keilmuan Islam, yang ditujukkan dengan munculnya berbagai komunitas ilmiah, dan 4. lahirnya disiplin ilmu-ilmu Islam. (Alparslan Acikgence, Islamic Science towards Definition, hal. 65-68)

Begitulah secara sederhana struktur ilmu ini dapat digambarkan. Dengan begitu, kita menemukan inspirasi dalam merumuskan program pengembangan sains Islam dengan pondasi filosofis yang kokoh. Sebagaimana diutarakan Dr. Adi Setia tentang makna sains Islam yang menjadi manifestasi Islamic Worldview, yaitu sebagai disiplin ilmu yang mengkaji perumusan kembali Sains Islam sebagai proyek penelitian (research program) jangka panjang yang bersifat tajribi (eksperimental), ‘amali (practical) dan indrawi (empirical) yang bertujuan melaksanakan tata nilai ilmu (ontologis dan epistemologi) dan tata nilai adab islami (aksiologi) dalam semua kegiatan sains dan teknologi masa kini. Wallāhu A’lam


3 Comments

  1. Pingback: Acatalepsy - Aqidah dan Filsafat Islam

  2. Pingback: Demistifikasi Nalar dan Realitas - Aqidah dan Filsafat Islam

  3. Pingback: Tauhid; Gerbang Ilmu Pengetahuan - Aqidah dan Filsafat Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *