afi.unida.gontor.ac.id. Banyak yang mengatakan orang pondok sangat paham dengan hakekat apa itu hikmah karena sejatinya hidup di pondok penuh dengan hikmah. Maka pernyataan itu benar tetapi ilmu hikmah sendiri tidak mudah didapatkan secara cuma cuma, mengapa? Karena ilmu hikmah sendiri tidak dapat dicapai melainkan kedekatanya dengan Allah SWT dan pemahaman yang baik terhadap kitabNya.

Ilmu hikmah adalah suatu amalan spiritual yang berupa ayat alquran, doa doa tertentu, hizib atau mantra mantra suci yang yang berbahasa arab dan diimbangi dengan laku batin untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati. Yang disebut mantra suci adalah mantra yang isi kandunganya tidak melanggar syariat islam. Ilmu hikmah itu sendiri bisa dipelajari dengan amalan dzikir, tabarruk, menyendiri, membersihkan hati, bersikap bijaksana atau riyadhoh tertentu sesuai dengan ajaran guru/ulama.

Dalam alquran kata hikmah disebut sebanyak 20 kali, maka sangat nyata hubungan al Quran dengan ilmu hikmah itu sendiri.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (البقرة: 129)

Ini adalah salah satu ayat dari 20 ayat didalam al Quran yang terdapat didalamnya kata hikmah.

Lalu bagaimanakah makna hikmah dalam tradisi keilmuan islam itu? Kata hikmah berasal dari akar kata ( ح ك م ) yang oleh Ibnu Faris diartikan dengan  المنع  atau yang menghalangi. Al-Hukm berarti menghalangi terjadinya penganiayaan. Ia juga diartikan kendali bagi hewan atau hakamah al-Dabbah yang itu berfungsi menghalangi hewan dari hal yang tidak diinginkan atau liar.

Maka dari sisi bahasa kita dapat memahami bahwa hikmah berarti penghalang seseorang dari kebodohan (aljahl). Karena lawan kata dari hikmah adalah jahl atau jahalah. Hal ini sebagaimana yang . diungkapkan oleh ibnu faris(2/91)

Kemudian hikmah menurut para mufassir:

  1. Mufassir dari kalangan tabi’in: mujahid al makhzumi, tafsir mujahid (w.104H) “Hikmah adalah ishabah “ketetapan atau kebenaran”
  2. Kemudian mufassir dari kalangan Tabi’in:  muqatil ibn Sufyan, Tafsir muqatil (w.150H) “Hikmah adl ilmu tentang al Quran dan pemahaman terhadapnya”
  3. Imam para Sufi al-Tustari, Tafsir al Tustari (w.283H) “Hikmah adalah alquran itu sendiri, pemahaman terhadapnya, kenabian, pemahaman terhadap agama Allah SWT, ‘aql, rasa dan takut pada Allah SWT”
    • Ibnu Umar r.a: Hikmah adl gabungan dari tiga hal: ayat muhkamat, sunnah nabi nabi dan lisan yang berbicara berlandaskan al-Quran.
    • Sahl: Hikmah adl kumpulan semua ilmu, dan akarnya adalah sunnah.
    • Luqman al Hakim: Allah menghidupkan hati yang mati dengan hikmah, sebagaimana Ia menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan.
    • Ahli hikmah: 3 modal utama supaya mendapatkan hikmah: melatih diri untuk melakukan hal hal yang tidak disenangi/ hati yang kosong dari kecintaan syahwat/ menjaga hati dari pikiran pikiran tidak baik.
  4. Imam para Mufassir: Ibnu Jarir al Thabari, Jami’ al Bayan (w.30 H) hikmah adalah:
    • Malik bin Anas: pengetahuan atas agama, pemahaman terhadapnya dan mengikuti isinya/ Ibn Zayd: agama yang tidak diketahui dan diajarkan kecuali oleh Nabi Saw/ Ibn Zayd: sesuatu yang Allah jadikan didalam hati, yang denganya hati mendapatkan cahaya-Nya./ Abu Ja’far: ilmu dan pengetahuan atas hukum Allah, yang itu tidak didapatkan kecuali dengan keterangan Nabi SAW./ Ketetapan dalam perkataan dan perbuatan/ Ibn ‘Abbas: pengetahuan dan pemahaman terhadap al Quran (nasikh/mansukh,  muhkam/mutasyabih, permulaan/pungkasan, halah/haram, perumpamaan perumpamaan/ Qatadah: Al-Quran dan pemahaman terhadapnya/ Ibrahim: Pemahaman/ Al rabi’: rasa takut pada Allah, karena ia pangkal dari segala kebaikan
  5. Mufassir sekaligus muhaddist: Abu al-Laits al-samarqandi, Bahr al-‘Ulum (w.375H)
    • Hikmah adalah kenabian, pemahaman, ilmu tentang al-Qur’an, pengetahuan atas tipu daya dan bisikan setan, ketepatan dalam perkataan, pengetahuan dan pemahaman.
    • Siapa yang diberi Allah SWT hikmah dan al Quran, maka sejatinya ia telah diberi mustika yang utama dari kitab kitab dan shuhuf terdahulu.
    • Siapa yang diberi hikmah dan al Quran, maka dia harus tahu diri, tidak tunduk didepan pencinta dunia; karena sejatinya ia telah diberikan mustika yang lebih utama dari yang diberikan kepada pecinta dunia; karena Allah menyebut dunia sebagai kesenangan yang sedikit, dan menyebut hikmah sebagai kesenangan yang banyak.
  6. Mufassir dari kalangan sejarawan: Abu Ishaq al-Tsa’labi, al Kasyfu wa al Bayan ‘an Tafsir al Quran (w.427 H).
    • “Hikmah adl wara’ di dalam agama Allah SWT”. Wara’ : menahan  diri dari hal hal yang dihalalkan dan dibolehkan dalam agama.
  7. Mufassir dari kalangan sufi al-’Wa’idh (penasihat): Abu Nashr al-Qusyairi, Lahta’if al-Isyarat (w. 514 H)
    • “Hikmah adl ketika kamu dapat menghukumi sesuatu berdasarkan kebenaran, bukan panggilan hawa nafsu dan bisikan syaithan; Hikmah adl kesesuaian dengan perintah Allah, kebalikannya adalah kebodohan yang berarti menyelisihi perintah-Nya; Syuhud (menyaksikan) kebenaran, kebalikannya Syuhud al-ghayr ”
    • Al-Mutawalli As-Sya’rawi: “Hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya yang bermanfaat”. Segala yang diperintahkan Allah adalah hekekat hikmah itu sendiri. Maka jika seorang hamba mu’min melakukan apa yang Allah perintahkan, itu artinya dia telah berbuat hikmah, atau telah meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Kemudian sedikit petikan dari beberapa Dosen UNIDA. Semisal Dr. M Kholid Muslih tentang amal dan hikmah: 1) Benar (ma’rifi), 2) Baik (akhlaqi), 3) Bermanfaat, 4) Prioritas, 5) Profesional, 6) Konsisten, 7) Hikmah.

Sebagai contoh: dalam shalat: 1) sesuai dengan syarat dan rukun, 2) memperhatikan adab dalam shalat, 3) ada efek menjauhkan dari keji dan munkar, 4) shalat berjamaah, 5) mencakup 1-4, 6) konsisten, 7) mencakup 1-6 dan mampu mengkondisikan diri seakan-akan melihat Allah ketika shalat, atau Allah melihat-nya.

Lalu, bagaimanakah keterkaitan antara Universitas Darussalam Gontor dengan hikmah itu sendiri, bagaimanakah penerapan jiwa hikmah ke para mahasiswa dan santri santrinya? Tentu UNIDA Gontor sangat memperhatikan dalam hal ini. Terutama UNIDA menggunakan sistem mondok dan asrama, akan sangat menunjang untuk menyalurkan nilai-nilai dan filsafat-filsafat agama juga pondoknya.

Sedikit dikaitkan dengan slogan UNIDA, jika ada yang bertanya, apakah arti dari slogan UNIDA “fountain of wisdom”? maka Dosen kami menjawab  ‘Ustadz Hamid Fahmi Zarkasyi’: Fountain adalah air mancur, sumber, mata air. Wisdom adalah hikmah atau kebijaksanaan. Jadi, dengan slogan ini, UNIDA Gontor sejatinya ingin menghasilkan seorang alumni yang “hakim”, yang ilmunya amali dan amalnya ilmi, yang ia tidak memisahkan antara ilmu, iman dan amal.

Tentunya mempunyai karakter yang unggul adalah dambaan semua orang. Dengan keadaan kita di zaman modern seperti ini akan sangat sulit untuk menemukan makna hikmah yang sejati. Jika tanpa tekad dan kemauan yang suci, tidaklah didapat  hikmah yang sejati demi terciptanya karakter yang unggul. Wallahu A’lam

Dikutip dari kajian Al-Ustadz Muhammad Shohibul Mujtaba, M.Ag

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *