Oleh: Fardana Khirzul Haq
Dosen Universitas Darussalam Gontor

Acatalepsy – Dalam buku “the New Organon” yang ditulis oleh Francis Bacon, tokoh yang terkenal sebagai bapak ilmu pengetahuan modern, disebutkan bahwa jenis hal yang berlebihan ada dua macam yaitu mereka yang menciptakan ilmu-ilmu dan menatanya secara dogmatis dan mereka yang selalu skeptis (Acatalepsy) dan mempertanyakan segala hal tak berujung.

Bagi Bacon, yang pertama mengekang pemahaman, sedangkan yang kedua merampok pemahaman. Kelompok yang kedua ini adalah yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia tidak pernah mencapai kepastian, tetapi hanya untuk probabilitas, inilah yang disebut dengan acatalepsy.

Baca juga: Ragam Pendekatan dalam Islamisasi Ilmu

Bagi Bacon sendiri, ada empat ilusi penghalang yang ada dalam pikiran manusia sehingga mengakibatkan kesimpulan yang generalisir.

  1. Idols of the tribe: yaitu kesalahan dalam persepsi karena keterbatasan indera manusia.
  2. Idols of the cave: adalah kesalahan-kesalahan yang diperkenalkan oleh prasangka pribadi individu kepada manusia.
  3. Idols of the marketplace: kesalahan yang didapat karena merujuk kepada pasar (orang pada umumnya) pasar berpendapat.
  4. Idols of the Theatre: kesalahan yang didapat karena berpijak pada landasan yang fiktif, dogmatis dan palsu layaknya drama.

Penjelasan Bacon ini juga disetujui oleh David L. Sedney dalam bukunya “Sublimity and Skepticism in Montaigne and Milton” bahwa dalam dalam menyikapi problem epistemologis, orang harus berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam skeptisisme atau kebalikannya, dogmatisme.

Baca juga: Mendefinisikan dan Memetakan Ilmu dalam Islam

Sayang, seiring berjalannya waktu, apa yang telah dibangun oleh Bacon dengan empirisisme dan induksinya sebagai antidogmatis, berubah menjadi sebuah dogma sendiri bahwa apa yang empiris adalah yang nyata dan benar. Keengganan mencari jawaban, pengaruh dari pikiran individu dan komunitas sosial serta dogma yang diwarisi turun-menurun merupakan ilusi yang menjebak pikiran manusia.

Skeptisisme sendiri pada mulanya dikenal dari Sextus Empiricus, yang tinggal di kota Alexanderia sekitar abad kedua masehi. Dia merupakan salah satu anggota dari sekolah kedokteran yang disebut dengan empirical, sekolah yang memilih keluar dari teori-teori kedokteran yang dogmatis dan lebih percaya pada pengalaman dan eksperimen pengobatan. Sejarah ini bisa dibaca lengkap di buku “The History of Scepticism: From Savonarola to Bayle” karya Richard H. Popkin.

Baca juga: Korelasi Worldview Islam dengan Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa

Lambat laun, empirisisme melebarkan dan menjadikannya pendobrak dogmatisme dan bahkan menjadi dogma itu sendiri. Sementara itu, sikap acatalepsy juga tidak mati. Tidak ada yang benar, semua relatif, apa yang kita yakini kebenaran, belum tentu benar, karena kebenaran hakiki merupakan kemustahilan dan tidak bisa dicapai.

Acatalepsy digagas oleh Pyrrho yang merupakan murid dari Anaxarchus, yang juga merupakan teman baik dari Alexander the great. Pyrrho tampaknya mengikuti gagasan bahwa apa pun pola pikir mengenai berbagai masalah, siapapun tidak akan pernah bisa mencapai kepastian mutlak tentang apa pun di dunia ini. Catatan tentang Pyrrho ditulis oleh Sextus Empiricius yang kemudian menjawab acatalepsy dengan gagasan awal metode empiris.

Jika Socrates, Plato dan Aristoteles mempunyai pengaruh besar dalam physis, logos dan ethos (alam, akal dan etika), maka Anaxarchus dan Pyrrho mempunyai andil dalam mengenalkan skeptisisme dalam dunia Yunani kuno sebagaimana disampaikan oleh Richard Bett dalam karyanya berjudul Pyrrho, His Antecedents, and His Legacy.

Baca juga: Menimbang Pendekatan Apologetis dalam Pengembangan Sains Islam
Baca juga : UMY Sends Lecturers to UNIDA Gontor to Learn Islamisation of Contemporary Knowledge

Pada akhirnya, jika empirisisme menjadi tanda awal mula dari era modern, maka acatalepsy menjadi dasar berpikir bagi para akademis postmodern. Tidak ada teori yang paling benar, semua pada wilayah kebenaran masing-masing selama hal itu berguna.

Maka jangan heran jika pemikiran ini mempengaruhi kajian keagamaan. Dalam Kristen, lahir Postmodern Church atau Emerging Church yang digagas oleh Robert Holmes “Rob” Bell Jr. Menurutnya, ajaran Kristen harus didekonstruksi ulang, karena info yang didapat dari dulu tidaklah mutlak kebenaran. Dalam tesisnya yang berjudul the Postmodern Chucrh, Timothy Lawless menjelaskan secara rinci tentang gereja postmodern ini sebagai respon atas kejumudan dan pengaruh modernisme dalam gereja.

Dalam Islam? Relativisme, inklusivisme dan Pluralisme agama adalah contoh dan butuh contoh apalagi untuk menjelaskan fenomena yang seperti ini, amat sangat banyak bila disebutkan. Sebagaimana acatalepsy bergumam, siapapun tidak akan pernah bisa mencapai kepastian mutlak tentang apa pun di dunia ini.

Pen : Fardana Khirzul Haq
editor : Joko Kurniawan

Artikel Lainnya:



2 Comments

  1. Pingback: Demistifikasi Nalar dan Realitas - Aqidah dan Filsafat Islam

  2. Pingback: Tauhid; Gerbang Ilmu Pengetahuan - Aqidah dan Filsafat Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *