Oleh: Gigih Nuriel Kautsar
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Filsafat Islam – Tidak dapat dipungkiri bahwa filsafat Yunani (Greek Philosophy) memberikan kontribusi besar dalam perkembangan filsafat Islam (Islamic Philosophy) dewasa ini. Tetapi tidak bisa dinyatakan begitu saja bahwa filsafat Islam itu didasarkan atas filsafat Yunani secara keseluruhan, dikarenakan; pertama, belajar tidak mesti menunjukkan pengulangan. Kedua, setiap pemikiran tidak lepas dari kondisi sosio-pilitisnya, dan ketiga, fakta menunjukkan bahwa pemikiran rasional Islam telah lebih dahulu muncul dan mapan sebelum datangnya filsafat Yunani.

Jika demikian, dari mana filsafat Islam berasal? Jawabnya, dari tradisi Islam itu sendiri, yaitu dari upaya para ilmuwan Muslim untuk menjelaskan ajaran kitab sucinya. Dan disamping itu, juga adanya tuntutan dalam persoalan-persoalan teologis, untuk menyelaraskan pandangan-pandangan yang bersifat kontradiktif dan rumit, untuk selanjutnya mensistematisasikannya dalam suatu gagasan metafisika yang canggih. Dari situlah berkembang metode dan pemikiran rasional filosofis dalam Islam, jauh sebelum datangnya filsafat Yunani lewat proses penerjemahan.

Problematika Perkembangan Filsafat Islam

Namun sayangnya, perjalanan perkembangan filsafat Islam tidaklah mulus. Pertama-tama dikembangkan karena dibutuhkan untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang membutuhkan pemikiran rasional, dalam hal ini kita dapat menyebutnya sebagai tradisi kalam (theology), kemudian metode ini ditolak pada masa Ibnu Hanbal disebabkan beberapa kasus-kasus tertentu yang dinilai menyimpang (heterodoks).

Setelah masuknya pemikiran filsafat Yunani melalui proses penerjemahan, pemikiran filsafat Islam pada masa ini disebut ‘tradisi falsafah’. Hal ini dikembangkan kembali pada masa al-Kindi, al-Farabi dan Ibnu Sina dst. Berbeda dengan al-Ghazali yang menganggap tradisi falsafah ini berpotensi menyebabkan kekufuran pada masa itu. Sebab, banyak dari pemikir Muslim mengadopsi pemikiran teologis para filsuf Yunani.

Dan tulisan ini mencoba memberikan suatu gambaran kronologis tentang tradisi filsafat Islam- yang mengadospi pemikiran teologi Yunani- oleh para intelektual Islam.

Makna dan Konsep Filsafat Islam

Berabad-abad yang lalu, para sarjana Muslim mencoba mengerahkan pikirannya untuk mendefinisikan istilah ‘hikmah’ atau ‘falsafah’. Sepanjang sejarah Islam, isitlah-isitlah yang digunakan bagi filsafat Islam dan juga perdebatan-perdebatan antara filosof, teolog dan bahkan sufi.[1] Dalam beberapa hal, mengenai makna istilah-isitlah ini menghadirkan beberapa variasi dari satu periode ke periode lain, meskipun tidak selamanya demikian.

Mengikut Syamsuddin Arif, Istilah ’filsafat’ atau ’falsafah’ dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab: فلسفة . Ia merupakan pengaraban dari kata majmuk (philosophia) yang dalam bahasa Yunani kuno gabungan dari kata ‘philein’ (cinta) dan ‘sophia’ (kearifan). Apa makna “sophia”?

Kata Aristoteles: Biasanya sophia dipahami sebagai pengetahuan mengenai pokok-pokok perkara dan sebab-sebabnya. Sebagian definisi yang berasal dari Yunani dan yang paling lazim dikalangan filosof Islam adalah sebagai berikut:
  1. filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada.
  2. filsafat adalah pengetahuan tantang yang ilahiah dan yang insaniah dan seterusnya.[2]

Perkembangan Makna Filsafat

Beberapa abad kemudian definisi ini dikembangkan oleh Thomas Aquinas: “filsafat” adalah pengetahuan yang membahas sebab-sebab utama dan sebab-sebab umum; filsafat itu meneliti sebab-sebab inti dari segala sebab.[3] kemudian tujuannya adalah pengetahuan tentang wujud-wujud (knowledge of existents).[4]

Lalu apakah Filsafat itu? singkatnya, “filsafat” itu ilmu pengetahuan yang dicapai manusia dengan akal pikirannya. Para filsuf/mempelajari aneka persoalan alam semesta, langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral, dan lain sebagainya. Walhasil, istilah “filsafat” akhir akhir ini mengalami pengerucutan arti hingga akhirnya dimaknai tak lebih dari sekadar kajian spekulatif terhadap asal-usul dan pokok-pokok yang mendasari sesuatu.

Lalu ketika dihubungkan dengan cabang ilmu tertentu, filsafat kemudian dipahami sebagai perenungan mendalam dan penguraian menyeluruh tentang persoalan-persoalan asasi, prinsip-prinsip, dan hukum-hukum dalam ilmu yang bersangkutan. Muncul istilah filsafat ilmu matematika, filsafat ilmu fisika, filsafat ilmu biologi, filsafat ilmu pendidikan, filsafat ilmu ekonomi, dan lain-lain.

Kelahiran Sebuah Konsep

Dengan memahami makna isitlah ‘filsafat’ inilah kemudian melahirkan konsep. Sekurang-kurangnya pada masa suhrawardi, isitlah ‘hakim’ dimaknai oleh seluruh masyarakat Islam bukan hanya orang yang telaten dan mumpuni konsep-konsep mental secara cerdas, malainkan juga sebagai seorang yang hidup sesaui dengan kebijaksanaan yang diketahui dan difahaminya secara teoritis.

Dalam hal ini, kita bisa menyasikan bunyian nyaring dan bergema dalam tulisan Ikhwan al-Shafa,[5] “permulaan filsafat (philosophy) adalah cinta terhadap ilmu, pertengahannya adalah pengetahuan tentang realitas, dan puncaknya adalah kata maupun perbuatan yang sesuai dengan perngetahuan yang telah terbuka padanya. Maka jika mengikut Seyyed Hossein Nars, orang-orang seperti ini lebih layer disebut sebagai ‘hukama’ bukan ‘filosof’.[6]

Oleh karena itu, dapat kita saksikan sebelumnya istilah filsafat maupun konsepnya sama sekali tidak mengandung unsur-unsur hellenisitk atau Yunani. Istilah ‘philosophy’ dalam Yunani yang kemudian diarabkan oleh kalangan sarjana Muslim menjadi ‘falsafah’ itu tidak bisa ditolak.

Filsafat Islam bukan Filsafat Yunani

Namun demikan, tidak bisa juga dikatakan bahwa proses peng-arab-an istilah tersebut dapat disimpulkan bahwa filsafat Islam lanjutan dari filsafat Yunani. Karena hal-hal filosofis lebih dahulu tersrtuktur sistematis dan mapan dalam tradisi intelektual Islam yang dikenal dengan isitlah ‘hikmah’. Adapun orang yang mempraktikkan hikmah disebut dengan ‘hukama’.

Dan dengan demikian, penegasan yang dilakukan oleh Oliver Leaman, pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang ditransfer ke dalam pemikiran Islam diakui banyak oleh kalangan karena haldemikian mampu mendorong perkembangan filsafat Islam menjadi makin pesat.

Meski demikian, adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermula dari proses penerjemahan teks-teksYunani, atau hanya nukilan dari filsafat Aristoteles (384-322 SM) seperti dituduhkan oleh banyak orientalis. Namun, jika dapat disimpulkan demikian, kesimpulan tersebut sangatlah sempit.[7]

Transmisi Filsafat Yunani ke Dunia Islam

Menurut Majid  Fakhry dalam buku ‘Islamic Philosophy, Theology and Mysticism; a short introduction’, Budaya Yunani telah berkembang di Mesir, Suriah, dan Irak sejak zaman Alexander Agung.

Pada saat itu, Alexandria telah menjadi pusat budaya di dunia kuno, membawa orang-orang Arab ke dalam kontak dengan budaya Yunani dan Timur Tengah; karena selama periode Ptolemeus, Alexandria menjadi pewaris Athena di bidang filsafat dan sains. Selain itu, telah menjadi tempat pertemuan spekulatif Yunani pemikiran dan tradisi keagamaan dan mistis oriental, Mesir, Fenisia, Persia, Yahudi dan Kristen.

Jadi, Merek filsafat Yunani akhir ini dapat digambarkan sebagai brilian upaya untuk menyatukan arus utama dalam pemikiran Yunani klasik, Platonis, Aristotelian, Pythagoras, dan Stoa, ditafsirkan atau disusun kembali dalam idiom religius atau mistis oriental. Tidak mengherankan, dalam keadaan, bahwa ini harus menangkap imajinasi para filsuf Arab-Muslim.[8]

Transmisi filsafat Yunani ke Arab

Selain Alexandria, pusat-pusat bahasa Yunani, tata bahasa dan studi teologis berkembang di seluruh Suriah Utara dan Irak Atas hingga abad ke-tujuh dan ke-delapan. Dari pusat-pusat ini, kita mungkin menyebutkan Antiokhia, Harran, Edessa, Qinnesrin dan Nisibin, di mana Sarjana yang berbahasa Syria berkonsentrasi pada terjemahan ke bahasa Syria karya-karya teologis yang ditulis dalam bahasa Yunani dan berasal dari Aleksandria.

Sebagai teks “propaedeutic” atau pengantar untuk mempelajari karya-karya ini, bagian dari Logika Aristoteles, termasuk Isagoge of Porphyry, the Categories, the Hermeneutica dan bagian pertama dari Analytica priora, diterjemahkan ke dalam bahasa Syria.[9]

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka apa yang disebut sebagai transmisi filsafat Yunani ke Arab Islam pada dasarnya adalah suatu proses panjang dan kompleks di mana ia justru sering banyak dipengaruhi oleh keyakinan dan teologis para pelakunya, kondisi budaya yang melingkupi dan seterusnya; termasuk dalam hal istilah-istilah teknis yang digunakan tidak akan lepas dari konteks dan problem bahasa Arab dan ajaran Islam.

Faktor Eksternal Pembentuk Pemikiran

Konsekuensinya, tugas rekonstruksi sumber-sumber Yunani untuk ilmu dan filsafat tidak mungkin selalu diharapkan dalam terjemahan yang jelas ke dalam sesuatu yang dianggap asli Yunani, tetapi harus mempertimbangkan aktivitas yang terjadi di luar teks.

Begitu juga perluasan-perluasan, pengembangan dan penggarapan kembali ide-ide Yunani dari al- Kindi (801-878 M) sampai Ibnu Rusyd (1126-1198 M), bahkan Suhrawardi (1153-1191 M) dan sesudahnya tidak mungkin sepenuh- nya dapat dipahami tanpa merujuk pada situasi-situasi kultural yang mengkondisikan arah dan karakter karya-karya tersebut.

Namun, disini diperlukan penegasan bahwa, pemikiran filsafat Yunani dan Islam lahir dari keyakinan, budaya dan kondisi sosial yang berbeda. Karena itu, menyamakan dua buah pemikiran yang lahir dari budaya yang berlainan adalah sesuatu yang tidak tepat, sehingga penjelasan karya-karya Muslim secara terpisah dari faktor dan kondisi kulturalnya juga akan menjadi suatu deskripsi yang tidak lengkap, deskripsi yang tidak bisa menjelaskan sendiri transformasi besar yang sering terjadi ketika batas-batas kultural sudah terlewati.

Filsafat Islam atau Falsafah Muslim Paripatetik

Baca juga : Dr. Hamid: Five Values of Gontor are Competencies Needed by the World
Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.

Mengikut Hamid Fahmy Zarkasyi dalam tulisannya ‘Re-orientasi Framework Kajian Filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia’ menyatakan bahwa filsafat Islam adalah filsafat paripatetik dan filosof muslim pertama adalah al-Kindi.

Dalam hal ini, dapat dinilai bahwa framework perguruan tinggi Indonesia memiliki kesamaan dengan orientalis atau mungkin lebih tepatnya terpengaruh. Karena anggapan orientalis  bahwa Filsafat islam dimulai dari sejak penerjemahan karya-karya Yunani dari bahasa Syriac ke dalam bahasa Arab .[10]

Framework seperti seringkali ditemukan dalam tulisan sejarawan Filsafat Islam, dan sebagai akibat yang paling nyata dapat dikenali dari tokoh filosof pertama dalam Islam yaitu al-Kindi.

Hal ini ditegaskan oleh orientalis asal prancis, Henry Corbin, Filsafat Arab mulai dari al-Kindi, mencapai puncaknya dengan al-Farabi dan Ibnu Sina, mengalami serangan yang mengejutkan dari kritik al-Ghazali dan melakukan upaya heroik untuk bangkit lagi dengan lahirnya Ibnu Rusyd.[11]

Subjek Teologi

Namun, perlu diketahui bahwa pada masa masa awal, bahasan utama filsafat Islam adalah konsep-konsep tentang ketuhanan sehingga kalam lazim dianggap sebagai ilmu yang berkaitan dengan Tuhan atau teologi. Subjek kalam sebenarnya tidak hanya terbatas pada topik tentang Tuhan, tetapi juga mencakup topik lain yang beragam, seperti logika, epitemologi, kosmologi, psikologi dan lain-lain yang termasuk dalam ranah filsafat dalam pengertian klasik.[12]

Jika ditelusuri secara umum terhadap karya-karya ahli kalam (theologians), baik di masa-masa awal maupun akhir, menunjukkan bahwa diskusi mereka mencakup isu-isu teologis maupun filosofis. Jadi, karena bahasan yang hampir sama dengan falsafah, kalam seharusnya tidak diklasifikasikan sebagai teologi semata; kalam serupa dengan Filsafat, atau bagian dari filsafat, atau malah Filsafat itu sendiri.[13]

Baca juga : DEMISTIFIKASI NALAR DAN REALITAS, KAJIAN ANTARA SAINS DAN AGAMA

Dengan diposisikan sebagai teologi di satu sisi, dan sebagai filsafat di satu sisi lain, kalam di pandang sebagai ‘falsafah Islam’ yang murni. Tentu saja disini berbeda dari falsafah yang mengacu pada filsafat Aristotelian-Neo-Platonisme dan peripatetik Muslim. Pokok bahasan kalam dan falsafah masih berada dalam Batasan filsafat Islam, walaupun keduanya harus diuraikan secara terpisah.

Tiga Tokoh Paripatetik Terkemuka

Dengan membatasi makna falsafah pada tradisi paripatetik Islam, kita bisa fokuskan pembahasan kita pada kausalitas, tidak seperti bahasan sebelumnya seputar ahli kalam, diskusi kita tentang falsafah didasarkan pada pemikiran tiga tokoh paripatetik Muslim terkemuka, yaitu al-Kindi, al-Farabi dan Ibnu Sina.

al-Kindi
  • Al-Kindi

Penyebaran pertama konsep kausalitas paripatetik kepada para filsuf Muslim dapat ditemukan dalam pemikiran al-Kindi (805-873 M).[14] karena aktivitas utamanya adalah ingin menyebarkan pemikiran Yunani ke dalam Tradisi Intelektual Islam.

Hal ini dapat disaksikan melalui pernyataan al-Kindi dalam bukunya ‘Fi al-Falsafah al-Ula’:

kita tidak menemukan kebenaran yang kita cari tanpa menemukan sebabnya; penyebab wujud dan keberlangsungan segala sesuatu adalah Yang Benar-Benar Satu (al-Wahid al-Haqq), artinya setiap sesuatu yang memiliki wujud itu memiliki kebenaran. Yang Benar-Benar Satu pasti ada, dan karena itu ia berada. Bagian termulia dan tertinggi peringkatnya dalam filsafat adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan tentang semua kebenaran[15]

Penyebab Utama dan Perantara

Dalam karyanya, Fi Al-Ibanah, al-Kindi menggunakan istilah ‘penyebab utama yang jauh’ untuk penyebab utama yang sebenarnya, dan ‘penyebab utama yang dekat’ untuk penyebab perantara (intermediate). Dalam hal ini, al-Kindi berupaya mempermudah pembahasannya dengan menggunakan istilah-istilah tersebut.

Penyebab utama yang jauh dari terjadinya kerusakan disebut Tuhan dan penyebab utama yang dekat, yang merupakan pelaksana pengaturan Tuhan, adalah tata surya beserta isinya, yakni benda-benda langit.[16]

Disini dapat disaksikan konsep kausalitas ala al-Kindi yang menempatkan sebab pertama pada titik sentral. Ia menempatkan tuhan dalam peran yang paling aktif dan paling utama di dunia.

Namun, al-Kindi berkesimpulan tidak jauh beda dengan apa yang diadopsi Aristoteles tentang penggerak yang tidak bergerak (unmoved mover). Al-Kindi juga berbeda dari tradisi filsafat Hellenisme dalam mendukung kepercayaan bahwa dunia ini diciptakan dari ketiadaan.[17]

Ringkasnya, konsep al-Kindi tentang kausalitas adalah kausalitas ilahi, artinya Tuhan adalah sebab dari segala sebab dari realitas dan kebenaran. Al-Kindi juga mampu mempertahankan konsep Tuhan sebagai pencipta dunia, tetapi dalam pandangannya sendiri mengandung sebuah kontradiksi, tatkala mendeskripsikan Tuhan sebagai penggerak yang tak bergerak (unmoved mover), ini justru bertentangan dengan pendapatnya sendiri bahwa Tuhan merupakan pencipta dari ketiadaan (creation ex nihilo).
  • Al-Farabi
al-Farabi
Tokoh terkemuka dari kalangan filsuf paripatetik Muslim setelah al-Kindi adalah al-Farabi (870-950 M).[18] ia sekedar mengadopsi doktrin emanasi untuk mengisi celah yang ditinggalkan Aristoteles. Untuk mengatasi perbedaan metafisika ini, al-Farabi membuat beberapa perubahan yang hasilnya dipenuhi dengan doktrin teosentris.

Tuhan ditempatkan pada pusat metafisika. Dan ini yang membedakan al-Farabi dengan Aristoteles. Dengan demikian, kontribusi ini bukan hanya sekedar menjalin hubungan antara teologi, metafisika dan fisika, yang tidak begitu jelas digambarkan oleh Aristoteles.

Konsep keseaan Tuhan al-Farabi ini menjadi titik awal untuk memaparkan hubungan Tuhan dan dunia. Hanya saja, konsep keesaan Tuhan al-Farabi mengadopsi doktrin emanasi. Ia berpendapat bahwa emanasi berasal dari kontemplasi diri atau pikiran Tuhan.[19]

Mendukung prinsip filsafat Yunani, al-farabi juga mengakui bahwa alam semesta bersifat abadi. Karena, menurutnya, untuk menciptakan dunia, Tuhan pasti punya bahan untuk dikerjakan. Oleh karena itu, sebuah materi yang belum diciptakan dan abadi, pasti merupakan sebab materi di alam semesta.

Singkatnya, upaya al-Farabi masih belum dapat memasukkan prinsip-prinsip filsafat Yunani ke bawah naungan worldview Islam, dimana konsep-konsep Yunani diterapkan tanpa satu pun keganjilan. Namun, al-Farabi berhasil membuka jalan baru bagi Ibnu Sina untuk melangkat lebih jauh dalam mengintegrasi filsafat Yunani ke dalam Islam.

Kesimpulan

Pertama, bahwa pemikiran filsafat Islam tidak didasarkan atas filsafat Yunani yang masuk ke dalam tradisi keilmuan Islam lewat proses terjemahan melainkan dikembangkan dari sumber-sumber khazanah Islam sendiri karena adanya kebutuhan untuk itu.

Alih-alih didasarkan atas filsafat Yunani, sebaliknya justru pemikiran rasional Islam yang telah ada dan mapan sebelumnya itulah yang telah memberikan jalan bagi diterimanya filsafat Yunani dalam tradisi intelektual Islam. Meski demikian, harus diakui juga bahwa hasil-hasil perterjemahan karya Yunani telah membantu perkembangan filsafat Islam menjadi lebih pesat.

Kedua, bahwa grafik perkembangan pemikiran filsafat dalam Islam ternyata tidak senantiasa naik dan mulus melainkan mengalami pasang surut; pertama-tama disambut dengan baik karena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan menghadapi pemikiran-pemikiran ‘aneh’ dan ‘menyimpang’, tapi kemudian dicurigai karena ternyata tidak jarang justru digunakan untuk menyerang balik ajaran agama Islam sendiri yang dianggap telah baku, khususnya pada masa Ibnu Hanbal (780-855 M).
Setelah itu, filsafat berkembang pada masa al-Farabi (870-950 M) dan Ibnu Sina (980-1037 M), tapi kemudian jatuh lagi karena serangan al-Ghazali (1058-1111 M); bangkit lagi pada masa Ibnu Rusyd (126-1198 M), tapi akhirnya tidak terdengar suaranya, karena filsafat berpindah jalur dan mazhab.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka jika pemikiran Filsafat Islam dimulai pada masa al-Kindi (806-875), tepatnya penulisan buku ‘Filsafat Utama’ (al-Falsafat al-Ûlâ) yang dipersembahkan untuk khalifah al-Mu`tashim (833-842) dan berakhir pada masa Ibnu Rusyd (1126-1198) seperti klaim sebagian kalangan, maka pemikiran Filsafat Islam berarti hanya hidup selama sekitar 350 tahun, suatu masa yang tidak lama.

Ketiga, bahwa para tokoh filsafat Islam, mulai al-Kindi (806- 875 M), al-Farabi (870-950 M), sampai Ibnu Rusyd (1126-1198 M), dengan caranya masing-masing sesungguhnya senantiasa berusaha untuk menyelaraskan antara wahyu dan rasio, antara agama dan filsafat, bukan memisahkannya seperti yang sering dituduhkan oleh sebagian kalangan.

Karena itu, dugaan, asumsi atau bahkan tuduhan bahwa filsafat Islam telah mengabaikan atau bahkan meninggalkan ajaran wahyu, kiranya patut dikaji ulang.

Pen : Gigih Nuriel Kautsar
Editor : Joko Kurniawan

Artikel Lainnya:

Bibliografi

  • Arif , Syamsuddin, Filsafat Islam antara Tradisi dan Kontroversi, Jurnal Tsaqafah (Vol. 10, No. 1, Mei 2014).
  • Khudori Soleh, Ahmad, mencermati sejarah perkembangan filsafat Islam, Jurnal Tsaqafah (Vol. 10, No. 1, Mei 2014).
  • Majid, Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism; a short introduction, (England; Oxford, 2000).
  • Nasr, Seyyed Hossein & Leaman,Oliver, Encyclopaedia of Islamic Philosophy, (Pakistan; Lahore, 2002).
  • Zarkasyi ,Hamid Fahmy, Re-orientasi Framework Kajian Filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia, Jurnal Islamia (Vol. V No.1, 2009).
  • __________________, Kausalitas: Hukum alam atau Tuhan membaca pemikiran religio-saintifik Al-Ghazali, terj, (IIUM Press, 2010).

Footnote (kutipan):


[1] Seyyed Hossein Nasr & Oliver Leaman, Encyclopaedia of Islamic Philosophy, (Pakistan; Lahore, 2002), 21-22

[2] Ibid.,22

[3] Syamsuddin Arif, Filsafat Islam antara Tradisi dan Kontroversi, dalam jurnal Tsaqafah (Vol. 10, No. 1, Mei 2014)., 3-4

[4] Seyyed Hossein Nasr & Oliver Leaman, Encyclopaedia…, 23

[5] Ikhwan al-Shafa yang dikenal merupakan suatu komunitas intelektual yang hidup bersamaan pada masa Ibnu Sina (4 Hijriah/ 10 Masehi), Lihat Seyyed Hossein Nasr, Encyclopaedia…, 23

[6] Ibid., 23

[7] Ahmad Khudori soleh, mencermati sejarah perkembangan filsafat Islam, dalam jurnal Tsaqafah (Vol. 10, No. 1, Mei 2014)., 65

[8] Majid Fakhry, Islamic Philosophy, Theology and Mysticism; a short introduction, (England; Oxford, 2000)., 7-8

[9] Ibid., 8

[10] Hamid Fahmy Zarkasyi, Re-orientasi Framework Kajian Filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia, dalam jurnal Islamia (Vol. V No.1, 2009)., 52

[11] Ibid., 52

[12] Hamid Fahmy Zarkasyi, Kausalitas: Hukum alam atau Tuhan membaca pemikiran religio-saintifik Al-Ghazali, terj, (IIUM Press, 2010)., 41-42

[13] Ibid., 42

[14]62

[15]62

[16] 64

[17] 65

[18] 67

[19] 70

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *