Oleh: Ahmad Farkhan Abdau
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam

Sains Islam – Ada yang menarik pada kajian FOKUS (Forum Komunikasi Ushuluddin) kampus Robithah Ahad (31/3) lalu. Pasalnya pada kajian terakhir di tahun ini tersebut kami mengundang dosen Islamisasi Ilmu Unida Gontor, Al-Ustadz M. Faqih Nidzom, M.Ag, sebagai pembicara. Pada muqaddimahnya beliau langsung menyetrum jiwa kami dengan kata bijak khas KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. (Allahu yasyfiihi), “Pertinggilah filsafat hidupmu”.

BACA JUGA: URGENSI ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN KONTEMPORER

Setelah beberapa menit, para mahasiswa yang hadir pun semakin larut dengan isi-isi kajian yang menggugah hati dan otak. Tema yang diangkat dirasa berat tapi bermanfaat sebagai dasar untuk mengembangkan pengetahuan islami, yaitu “Memaknai Sains Islam sebagai proyek penelitian”.

BACA JUGA: RAGAM PENDEKATAN DALAM ISLAMISASI ILMU

“Makna Islam dalam setiap disiplin Ilmu pengetahuan bukanlah hanya sebatas label, tetapi menjadi Shibghah, dan juga pembeda antara pengetahuan Barat yang konvensional, dan Pengetahuan islami yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, jadi perbedaannya sangat mendasar, pada wilayah epistemologinya!”, ujar beliau di tengah-tengah penyampaian materi.  

BACA JUGA: MAKNA SAINS ISLAM DAN AGENDA ISLAMISASI ILMU

Beliau pun juga memberikan cara-cara dalam memahami konsep dari Islamisasi ilmu dan urgensinya dalam kehidupan Umat Islam kedepannya. Misal dalam Ilmu Tafsir, beliau menjelaskan dengan singkat mengenai “tafsir maudu’i” (Tafsir tematik), dimana ayat-ayat Al-Qur’an mengenai suatu permasalahan atau tema kemudian dikonseptualisasi sehingga menjadi disiplin Ilmu pengetahuan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Masih berkaitan dengan landasan dasar Umat Islam, Al-Qur’an dan Hadits, beliau mengatakan bahwa sumber maupun landasan dasar haruslah tetap dan kokoh, karena fungsinya sebagai worldview, asumsi dasar, atau presupposisi dalam pengembangan teori dan konsep. Jadi konsep ataupun teori yang diambil dari landasan dasar tersebutlah yang bisa diubah-ubah, namun tetap berlandaskan pada sumber utama tadi.

BACA JUGA: BELAJAR ISLAMISASI ILMU APA MANFAATNYA

Pada akhir dari kajian tersebut, sekaligus sebagai inti dari pembicaraan ini beliau mengatakan, “Sains itu tidak mungkin netral, karena dia lahir dari epistimologis atau nilai dari “filsafat hidup” masing-masing ilmuwan, jika ia sekular, maka produknya pun sekular, disitulah urgensi gagasan islamisasi ilmu.”

Tak lupa beliau memberikan nasehat kepada para mahasiswa yang hadir agar dimanapun dan pada bidang apapun mereka akan melanjutkan keilmuan dan karirnya, haruslah memiliki epistimologi, ontologi, maupun aksiologi berlandaskan Islam yang kuat, serta aktif-kreatif dan kritis dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan Islam demi menegakkan agama Allah, menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Editor: Yazid Zidan Prabowo


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *