afi.unida.gontor.ac.id.- Kamis (04|04|2019), Family Gathering menjadi momentum yang berharga bagi keluarga besar Fakultas Ushuluddin. Disinilah rasa kekeluargaan itu benar-benar dapat dirasakan, seluruh keluarga besar FU berkumpul mendengarkan petuah dan nasihat dari para Ustadz (dosen), untuk kembali mengecas semangat baru sebagai mahasiswa santri.

Family gathering sebagai ajang values review

Julukan mahasiswa santri itu merupakan kekhususan bagi para mahasiswa Universitas Darussalam Gontor. “Karena selain menjadi mahasiswa mereka juga menjadi seorang santri, selain jadi santri juga sebagai mahasiswa, Dimana akhlak dan budi luhur tetap harus dijunjung tinggi sebagai bagian dari mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan”. Ujar Ka. Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Ustadz Moh. Isom Mudin, M.Ud. dalam pembukaan Family Gathering Fakultas Ushuluddin.

Ustadz Moh. Isom Mudin, M.Ud. Selaku Ka. Prodi Aqidah dan Filsafat Islam memberikan tausiyah didepan mahasiswa FU

Kemudian beliau menekankan; “Bahwa khittah jiwa kesantrian tidak boleh dihilangkan,  nilai-nilai kesantrian yang didapatkan dalam pendidikan Gontor tidak boleh lekang walau berstatus sebagai mahasiswa”.

Diantara Jiwa-jiwa kesantrian yang dimaksudkan ialah “akhlakul karimah”, karena sebagai pelajar tidak ada yang lebih tinggi derajatnya kecuali dengan akhlak. kemudian beliau menambahkan “rasa ta’dzim kepada Ustadz, dosen juga bagian terpenting dari akhlak seorang mahasantri”.

Rasa Ta’dzim kepada Mu’alim

Untuk memperkuat hal ini Beliau mencontohkan kisah salaf; “Imam Ibn Hambal merupakan seorang ulama besar, faqih dan juga murid dari Imam as-Syafi’i yang berbeda pendapat dengan gurunya; Imam Syafi’i. Namun Imam Ibn Hambal tidak pernah menghilangkan rasa ta’dzimnya kepada gurunya. Bahkan dalam setiap sujudnya selalu mendokan gurunya; allahumgfir li Muhammad bin Idris As-Syafi’i”, begitulah seharusnya akhlak yang harus dimiliki seorang mahasantri.

Berbeda pendapat dalam hal furu’ atau cabang merupakan sesuatu hal yang wajar, termasuk mungkin dengan dosen. “Namun jangan sampai hal tersebut menghilangkan rasa ta’dzim kepada guru”, ungkap Ustadz Moh. Isom Mudin.

baca juga : Gontor & Nilainya: Intervensi & Kepercayaan kepada Guru

Adab bukan hanya dimiliki mahasastri, tetapi dosen yang juga sebagai ustadz juga memiliki adab tersendiri, Beliau menambahkan; “Seorang guru juga diharuskan memiliki adab/akhlak kepada anak didiknya”. Adab ini bisa dilihat di kitab _Ihya Ulumiddin al-Ghazaly, juga _Adabul Alim wal muta’alim KH. Hasyim Asy’ary. Bahkan menurut beliau, adab para dosen lebih berat dari adab mahasantri.

Di akhir sambutanya, beliau menyatakan bahwa apa disampaikan adalah pengamatan dan sebuah kerisauan hati yang beliau rasakan. Maka perlunya kita semua untuk saling berbenah diri dan tetap mengamalkan jiwa-jiwa kesantrian di UNIDA Gontor. “Ushy nafsy wa iyyakum”, ungkap beliau.

Rep & Editor : Joko Kurniawan
Atas persetujuan : Ustadz Moh. Isom Mudin, M.Ud.

Dokumentasi Kegiatan Family Gathering Fakultas Ushuluddin

Berita lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *