Oleh Fardana Khirzul Haq
Dosen Universitas Darussalam Gontor

Nalar dan Realitas-Dalam bukunya berjudul Islam Sebagai Ilmu, Prof. Kuntowijoyo menjelaskan tentang 5 jenis mistifikasi yang melanda umat Islam saat ini. Kelimanya adalah mistik metafisik, mistik sosial, mistik etis, mistik nalar dan realitas. Dua mistik terakhir adalah hal yang paling kronis dilanda umat saat ini. mistik nalar adalah hilangnya akal karena kejadian di sekelilingnya tidak bisa dipahami oleh akalnya. sedangkan mistik realitas adalah hilangnya tali penghubung antara agama dengan realitas, antara teks dengan konteks.

Baca juga: Acatalepsy

Mistik nalar menimbulkan akibat yang cukup signifikan, yaitu daya nalar kritis yang lemah dan berakibat pada mundurnya keilmuwan umat islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan.

Lebih jauh lagi, ketertinggalan ini mengakibatkan hilangnya tali penghubung antara agama dengan realita, atau dalam bahasa Kuntowijoyo adalah mistik realitas. Akhirnya, meski seseorang itu muslim, namun banyak yang memiliki dua tipikal berpikir, apa yang tidak nyata bagi dia berarti tidak logis (empirisme) dan segala yang tidak logis berarti tidak nyata menurutnya (rasionalisme). Di satu sisi dia mempercayai wahyu, namun di sisi lain cara berpikirnya menjauhkan dia dari wahyu tersebut.

Untuk melakukan demistifikasi nalar dan realitas, maka diperlukan daya nalar yang kritis sehingga tradisi keilmuwan umat Islam menjadi berkembang. Lalu apakah dengan daya nalar kritis yang terwujud akan mampu mendemistifikasikan realitas? Jelas tidak!

Baca juga: Lima Alasan Mempelajari Filsafat Islam

Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam Knowledge and Sacred, berkembangnya ilmu tanpa sisi spiritual agama merupakan sebuah dekadensi moral dan desakralisasi ilmu pengetahuan. Senada dengan Nasr, Fritjof Capra dalam The Turning Point: Science, Society, and the Rising Culture menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tanpa spiritualitas hanya akan menyebabkan Diseases of Civilization (penyakit-penyakit peradaban).

Tradisi keilmuwan yang berkembang belum menjamin akan hilangnya mistik realitas, karena hal ini merupakan tahap lain dari proses tersebut. Lalu bagaimana ilmu pengetahuan (sains) bisa berhubungan dengan agama? Bukankah ilmu pengetahuan bersifat objektif sedangkan agama lebih ke arah subjektif?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, Mehdi Golshani dalam bukunya Min al-‘Ilm al-‘Ilmany ila al-‘Ilm al-Diny, mengutip penjelasan Abu al-A’la al-Maududi menerangkan bahwa ilmu pengetahuan bergerak dalam dua hal yaitu, fakta-fakta yang menjadi dasar dan aktivitas ilmuwan dalam menyimpulkan fakta tersebut. Fakta-fakta ilmiah jelas bersifat objektif namun aktivitas keilmuwan hal ini bersifat subjektif.

Baca juga: Sudahkah Menjadi Karakter yang unggul? Baca ini! Hikmah: Integritasi Antara Ilmu, Iman dan Amal

Dalam pandangan al-Maududi, seorang yang lahir dalam lingkungan komunis maka ia akan mempelajari ilmu pengetahuan dan aktivitasnya secara subjektif dalam kerangka ideologi Marxis, meski fakta-fakta yang mereka punya bersifat objektif. ideologi ini selaras dengan pendapat Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions bahwa aktivitas yang dilakukan merupakan realitas sosial yang dibentuk oleh mode of thought dan menghasilkan mode of knowing.

Selanjutnya, mengenai objektivitas-subjektivitas ini, Arthur Koesler dalam karyanya berjudul the Art of Creation: A Study of the Conscious and the Unconscious in Science and Art memberikan urutan tentang ilmu pengetahuan dari yang paling objective-verifiable sampai pada subjective. Kimia, Biokimia, Kedokteran, Psikologi, Antropologi, Sejarah, Biografi, Novel, Epik dan Lirik. dari urutan ini, ilmu yang dianggap objektif tidak memerlukan islamisasi ilmu, namun yang dibutuhkan adalah islamisasi ideologi atau menurut Kuntowijoyo islamization of motive.

Kuntowijoyo menawarkan sebuah pendekatan yang dia sebut sebagai pendekatan sintetik analitik yang berparadigma al-Qur’an. Fungsi dari paradigma al-Qur’an adalah untuk mengkonstruksi perspektif al-Qur’an sebagai reality’s mode of knowing. Pendekatan ini membagi al-Qur’an menjadi dua bagian, yaitu kandungan yang berisi konsep dan kandungan yang berisi kisah.

Baca juga: Menimbang Pendekatan Apologetis dalam Pengembangan Sains Islam

Konsep yang ada pada al-Qur’an berupa istilah atau pengertian normatif, doktrin etik, aturan dan ajaran keagamaan. Istilah-istilah yang muncul merupakan konsep yang dikenal oleh masyarakat Arab pada saat al-Qur’an diturunkan atau merupakan hal baru sebagai etika-relijius.

Toshihiko Isutzu dalam bukunya berjudul Ethico-Religious Concepts in the Quran menjelaskan bahwa kandungan konsep dalam al-Qur’an memuat tiga kategori yaitu: atribut ketuhanan, sikap fundamental manusia terhadap Tuhan dan aturan dan etika tingkah laku yang mengatur sesama makhluk hidup.

Tiga kategori ini bisa disimpulkan sebagai Aqidah, syari’ah dan akhlak yang merupakan manifestasi dari Iman, Islam dan Ihsan. Konsep-konsep tersebut bisa dijelaskan dengan pendekatan semantik seperti yang dilakukan Izutsu dalam meneliti beberapa kata seperti Kufr, Zhalim. Setiap kata mengandung konsep dalam pandangan al-Qur’an.

Bagian konseptual inilah yang dijadikan Kuntowijoyo sebagai ideal-type. Dalam prakteknya, pendekatan yang diperlukan dalam bagian ini adalah pendekatan analitik, yaitu memperlakukan sebagai data dengan menganalisis al-Qur’an untuk memperoleh hasil yang objektif sebagai konstruk teoritis al-Qur’an.

Baca juga: Mendefinisikan dan Memetakan Ilmu dalam Islam

Pada bagian kedua yang berupa kisah, Kuntowijoyo menjelaskan bahwa kisah-kisah yang terdapat dalam al-Qur’an merupakan pelajaran moral yang bersifat abadi dan universal. Pada wilayah ini, pemahaman subjektif-normatif lebih diperlukan daripada objektif-empiris atau objektif-rasionalis. Bagian ini disebut sebagai arche-type. Pendekatan yang digunakan pada bagian ini adalah pendekatan sintetik, yaitu subjektivikasi ajaran keagamaan sehingga terbentuk perspektif moral dan etik secara individu.

Baca Juga : Pluralisme Agama: Utopia Atau Lubang Biawak?

Dengan paradigma al-Qur’an dan menggunakan pendekatan sintetik analitik dalam memahaminya, individu seseorang akan terbentuk selaras dengan nilai-nilai normatif al-Qur’an, sehingga gap antara agama dan realitas bisa disambung kembali dengan ilmu pengetahuan yang berparadigma al-Qur’an, pada akhirnya hal ini merupakan demistifikasi nalar dan realitas.

Pen : al-Ustadz Fardana Khirzul Haq
Editor : Joko Kurniawan

Berita Populer Minggu ini

4 Comments

  1. Pingback: Tauhid; Gerbang Ilmu Pengetahuan - Aqidah dan Filsafat Islam

  2. Pingback: Proses Adopsi dan Adapsi dalam Filsafat Islam; berkaca dari Kausalitas

  3. Pingback: Memahami Makna Adab

  4. Pingback: SPIRITUALITAS ISLAM SEBAGAI SOLUSI ATAS TRANSFORMASI KARAKTER PADA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *