afi.unida.gontor.ac.id.- Kamis, (4|4|2019), Fakultas Uhuluddin menggelar acara Family Gathering yang ke sekian kalinya, pada kesempatan ini hadir al-Ustadz. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, memberikan nasihat-nasihat berharganya dihadapan para keluarga besar ushuluddin, mencangkup para dosen dan mahasiswa yang berafiliasi pada tiga prodi di bawah naungan fakultas ini. Kebetulan tema yang diangkat ialah problem dan prospek mahasiswa ushuluddin di era milenial.

Diawali kalimatnya beliau dengan tegas menggaris bawahi bahwa pendidikan bukanlah untuk profesi, tapi untuk mengubah masyarakat. Beliau kemudian menekankan bahwa apapun prodinya, nilai harus tetap bagus. Profesi tidak bisa di prodikan tapi bisa dikompetensikan.

Untuk menyederhanakan ini, kemudian beliau mengambil contoh seperti halnya shalat, bahwa yang harus diberi perhatian lebih adalah apa yang kita lakukan setelahnya. Begitu pula dengan makan, yang lebih penting bukanlah makannya tapi apakah ia mencungkupi tuntutan energi kita atau tidak.

Maka, yang fundamental bukanlah ritual atau formalitas tapi esensinya, sehingga meski demikian, kualitas pun harus tetap dijaga. Lebih jauh, al-Ustadz. Dr. Hamid juga menekankan bahwa urgensi pengembangan apa yang beliau sebut dengan “Intellectual Habit” bagi seorang mahasiswa.

Karena seperti yang beliau sendiri alami dalam pengalaman beliau ketika berdakwah di masyarakat; “Sering kali apa yang dibutuhkan mereka (masyarakat) tidak selalu apa yang menjadi fokus kita. Di sinilah perlunya bagi seorang lulusan ushuluddin untuk bisa menjelajah berbagai aspek dari agama, entah itu yang berkaitan dengan pemikiran, aqidah, fiqih, syari’ah dsb, disamping ia harus unggul dalam bidang spesialisasinya”. Papar pakar filsafat UNIDA Gontor ini.

Mengenai spesialisasi beliau juga menandai bahwa tuntutan utama mahasiswa ushuluddin adalah untuk memahami berbagai teori dan pemikiran serta dapat mengekspresikannya. “Sehingga iklim yang tercipta didalam kelas adalah sharing Idea, terutama dari apa yang telah dibacakan sebelumnya”, tandasnya.

Pada kesempatan ini, al-Ustadz. Dr. Hamid juga mengingatkan apa yang telah belai wanti-wanti lebih dari satu dekade sebelumnya, mengenai wabah bahaya liberalisasi yang tidak pernah terjadi dalam sejarah islam kapan pun. Dimana ia sekarang telah bertransformasi dari gerakan pemikiran menjadi gerakan sosial, karena itu wacana program untuk mengcounternya harus selalu digaungkan.

Pada sesi akhir, pada sesi pertanyaan beliau sempat menyampaikan nasihat dari guru beliau Tan Sri Prof. Syed Naquib al-Attas, seraya menjawab pertanyaan dari seorang mahasiswa, menanyakan tradisi orientalisme yang telah banyak mewarnai studi islam kontemporer.

Dalam kutipan yang berbunyi; “You must be very confident when you face with orientalist”. Kemudian beliau menyatakan bahwa; “Seorang sarjana muslim harus lebih tahu dari apa yang orientalis ketahui, mengenai hadits, al-Qur’an, tafsir, kalam, filsafat, dsb dalam studi islam. Jika tidak, maka apa yang mereka pelajari tidak akan berguna”.

Dikutip pada acara family gathering Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor
Rep : Choirul Ahmad
Editor : Joko Kurniawan

2 Comments

  1. Pingback: “Guru Ngaji” Versi Falsafah Gontory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *