Transformasi Nilai-Nilai Pewayangan; Animisme-Dinamisme, Hindu-Budha dan Islam

Transformasi Nilai-Nilai Pewayangan; Animisme-Dinamisme, Hindu-Budha dan Islam

Dewasa ini, masyarakat mulai melupakan tradisi lokal yang sejatinya “penuh” akan nilai-nilai keluhuran sebagai identitas bangsa. Salah satunya adalah wayang yang mengalami banyak metamorfosis setiap periodenya. Bagaimana perjalanan perubahan nilai-nilai wayang? Bagaimanakah nilai-nilai keluhuran yang bertransformasi didalamnya?

WAYANG PADA PERIODE ANIMISME DAN DINAMISME

Dalam seputar studi penelitian wayang, bermacam-macam budayawan dan cendekiawan yang berusaha menganalisis semua hal yang berhubungan dengan wayang. Hasil analisis pun terdapat banyak persamaan akan tetapi tidak sedikit yang saling silang pendapat. Akan tetapi dari persamaan hasil studi para budayawan dan cendekiawan[1] tersebut mengatakan bahwa wayang sudah ada dan berkembang sejak zaman kuno, sekitar tahun 1500 SM,[2] jauh sebelum agama dan budaya dari luar masuk ke Indonesia.

Wayang merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk akan adanya pertunjukkan wayang, yaitu yang terdapat dalam sebuah prasasti dengan tahun 907 M.[3]Dimana prasasti itu menjelaskan adanya pertunjukkan wayang pada masa tersebut.Sebagai pertunjukkan yang bersifat religius, wayang merupakan sebuah ungkapan upacara keagamaan masyarakat Jawa yaitu, animisme dan dinamisme.[4]

Ketika alam adalah kunci kepercayaan dasar masyarakat, seperti kekuatan para pendahulu atau nenek moyang.Kekuatan yang ada diluar diri kemampuan manusia menjadi bentuk sebuah kepercayaan dan keyakinan.Bentuk keyakinan atau kepercayaan tersebut ditampilkan dalam berbagai macam pertunjukkan wayang sehingga mudah diterima dan difahami sebagian besar masyarakat.

Semua benda membawa “kekuatan”

Bagi masyarakat yang menganut faham animisme dan dinamisme, meyakini bahwa semua benda itu bernyawa serta memiliki kekuatan roh-roh.Sehingga roh-roh tersebut bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain.Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dahulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa.

Mereka terus dipuja dan dimintai pertolongan.Selain melakukan ritual pemujaan tertentu masyarakat mewujudkannya didalam bentuk gambar dan patung roh nenek moyang yang disembah. Gambar atau patung tersebut diberi nama ‘hyang’ atau ‘dahyang’. [5]Hyang atau dahyang tersebut menjadi perantara masyarakat dalam menyampaikan pemujaan dan permohonan.

Ketika proses berjalannya ritual, dibutuhkan orang yang dapat berkomunikasi dengan roh-roh pendahulu atau para leluhur. Karena itu, ritual memohon pertolongan dan perlindungan ini dipimpin oleh seorang medium atau perantara yang disebut sebagai ‘saman’ atau dukun.[6] Maka dari ‘hyang’ dan  ‘saman’ ini adalah cikal bakal pertunjukkan wayang yang beredar di Bumi Nusantara.

Ritual bagi Leluhur

Dengan metamorfosis wayang yang sedemikian rupa, kata hyang menjadi wayang, kata saman sebagai perantara jalannya ritual menjadi dalang.Serta prosesi jalannya pementasan wayang diadaptasi dari prosesi ritual itu sendiri.Sedangkan cerita perjalanan wayang berasal dari cerita pengalaman nenek moyang.

Bahasa yang digunakan dalam prosesi ritual tersebut pun memakai bahasa Jawa kuno atau bahasa kawi.Pemakaian bahasa ini terus berkembang, dari bahasa kawi menjadi bahasa Jawa baru dan bukan tidak mungkin jika kelak wayang menggunakan bahasa Indonesia.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa wayang telah ada beberapa ratus tahun yang lalu.Dimana wayang timbul pertama fungsinya sebagai upacara menyembah roh nenek moyang.[7]Jadi fungsi wayang berbentuk sebuah upacara khusus yang dilakukan nenek moyang untuk mengenang arwah para leluhur.Di masa periode animisme dan dinamisme, wayang belum mempunyai banyak peran diranah sosial Peran wayang pada periode tersebut hanya terbatas didalam ranah spiritual saja.

WAYANG PADA PERIODE PENYEBARAN AGAMA HINDU-BUDDHA

Pada masa kerajaan Majapahit, seni pertunjukkan kesenian umumnya berkaitan dengan fungsi-fungsi ritual yang mengacu pada nilai-nilai budaya agraris yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan Hindu-Buddha.Seni pertunjukkan yang berkaitan dengan fungsi-fungsi ritual keagamaan memiliki ciri-ciri khas.[8] Pertunjukkan tersebut membutuhkan tempat pertunjukkan yang dipilih yang lazimnya dianggap sakral, bahkan tidak berhenti disakralnya tempat akan tetapi pilihan hari dan waktupun harus tepat.

Pemain pertunjukkan dianggap bersih atau suci secara spiritual.Selama pertunjukkan dibutuhkan bermacam-macam sesaji karena nilai tujuan spiritual lebih diutamakan daripada nilai estetis.Sehingga, pemain beserta semua anggota yang berhubungan dengan pertunjukkan harus menggunakan busana khusus.

Pertunjukkan Wayang diperiode Hindu-Buddha, merupakan ritual keagamaan yang disetiap pertunjukkan dikait-kaitkan dengan usaha-usaha spiritual yang disebut dengan meruwat.[9]Karena pertunjukkan wayang yang dinilai sebagai pertunjukkan spiritual, maka para dalangpun diposisikan sebagai orang suci atau pendeta bahkan titisan dewa.

Identik dengan “Meruwat”

Maka ritual meruwat ini dipimpin oleh para dalang yang dianggap mampu untuk mengusir unsur kejahatan dari hal-hal yang ghaib.Wayang-wayang yang digunakan untuk meruwatpun berwujud gambar utuh dan menyerupai manusia.Sebagai mana yang tampak dibeberapa relief candi-candi.Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, wayang digambar diatas kain lalu diberi warna.Wayang ini dikenal dengan sebutan Wayang Beber Purwa.

Akan tetapi fungsi dari wayang pada periode Hindu-Buddha, tidak sebatas pada ritual peruwatan atau ranah spiritual saja.Karena, fungsi wayangpun berkembang dengan seiring berkembangnya peradaban.Didalam periode ini, wayang diikutsertakan didalam ranah politik kerajaan.Penontonnya pun terbatas hanya kalangan Istana.[10]

Etika dan Moral yang tidak seirama dengan dengan konsep Tauhid

Penyusunan pakem cerita pewayanganpun, masih bernuansa Hindu-Budda. Serta masih banyak ditemukan nilai-nilai etika dan moral yang tidak sesuai dengan  Tauhid.  Misalnya, didalam epos Mahabharata asli dari india, dikisahkan Drupadi melakukan poliandri. Didalam pewayangan Hindu-Buddha, Drupadi adalah istri dari kelima bersaudara Pandawa.[11]

Akan tetapi kisah poliandri ini tidak akan pernah ditemukan didalam kisah pewayangan Islam. Karena Poliandri tidak dibenarkan didalam ajaran Islam.Hal-hal yang bernuansa kedewaan pun mempunyai kekuasaan dan kebenaran mutlak.Tembang-tembang pengiring ritual wayangpun bermakna puji-pujian bagi para dewata.

WAYANG PADA PERIODE PENYEBARAN AGAMA ISLAM

Wayang adalah salah satu bukti peninggalan nenek moyang Jawa yang sarat akan falsafah kehidupan dan nilai-nilai moral didalamnya. Selain berperan menjadi komunikasi sosial, wayangpun terpilih oleh para wali menjadi salah satu media dakwah Islam dikarenakan kedekatannya dengan masyarakat.Pada masa penyebaran agama Islam, para wali banyak mengubah atau menambahkan alur cerita wayang ataupun falsafah tokoh-tokohnya.

Unsur-unsur animisme dan dinamisme ataupun kehinduan telah dihilangkan dan diisi ulang oleh nilai-nilai moral dan falsafah Qur’ani.Penyebaran Islam di Tanah Jawa berlangsung dengan cepat dan mudah.Para masyarakat menerima kehadiran agama baru ini pun dengan jalan damai tanpa kekerasan. Kehadiran WaliSongo di Nusantara, mempunyai peran penting dalam penyebaran agama Islam.

Setiap Wali mempunyai pendekatan berbeda-beda dalam pengajaran nilai-nilai keislaman.Beberapa wali menggunakan pendekatan tradisi, budaya dan kesenian, salah satunya adalah Sunan Kalijaga.

Karakteristik Tauhid

Wayang di periode penyebaran Islam mempunyai karaterisktik yang berbeda dengan wayang yang beredar diperiode-periode sebelumnya.Para Wali telah menanamkan nilai-nilai ketauhidan tidak hanya ditampilannya ataupun yang nampak saja.Akan tetapi dari berbagai macam tokoh, lakon bahkan hingga hal-hal sederhana pelengkap pertunjukkan wayang itu sendiri.

Para pecinta pewayangan telah sependapat untuk memberikan predikat pada wayang sebagai kesenian klasik tradisional adiluhung,  bernilai tinggi. Nilai adiluhung pada wayang ditentukan oleh nilai dan fungsinya yang serba ganda seperti nilai hiburan, seni, pendidikan, ilmiah, rohani bahkan religius.[12]

Wali Sanga telah mengaktifkan media wayang untuk peragaan fungsi watak dan tugas wali serta mubaligh Islam.Wayang, seperti halnya pada periode penyebaran agama Hindu yang difungsikan sebagai perantara penyebaran agama, Islampun mengfungsikan wayang sebagai media komunikasi dakwah kepada masyarakat.

Humanisasi Dewata

Media Wayangpun mengalami banyak perubahan nilai-nilai dan filsafat keberadaannya. Nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam ditolak dan nilai-nilai yang masih sesuai dengan norma Islam dikelola sebaik mungkin. Seperti halnya terjadi proses humanisasi dewa-dewa dalam dunia perwayangan. Didalam wayang Hindu, dewa adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa diubah lagi.Kekuasaan tertinggi adalah wujudnya para dewa.

Akan tetapi ketika lakon-lakon tersebut ditangani oleh para Wali, maka posisi dewa dijatuhkan.Dewa pun bisa mengalami kesalahan.Dewapun bisa dihinakan dan dihukum.Seperti fenomena Semar, Semar adalah dewa yang mengalami kutukan menjadi batur.[13]Maka, didalam salah satu fenomena inilah dapat disimpulkan, bahwa para Wali telah mengubah nilai-nilai Hindu dan diIslamisasikan.

Jika didalam Wayang Hindu, Dewa adalah kekuasaan tertinggi, maka didalam pewayangan Jawa dinyatakan bahwa diatas Dewa masih ada Sang Pencipta.Bahkan karena, manusia Jawa beranggapan seakan-akan wayang telah terjadi diatas Tanah Jawa, maka silsilah wayangpun masuk kedalam silsilah Nabi Adam.[14]Para Dewa yang ada diwayang Hindupun dimanusiakan dan masuk kedalam silsilah keturunan Nabi Adam AS.

Estetika Tauhid Perwujudan Wayang

Selain merubah peran Dewa didalam dunia pewayangan Hindu, Wali Sangapun merubah nilai-nilai ketauhidan didalam bentuk perwujudan wayang kulit.Wayang kulit yang ditemukan pada periode sebelum Islam, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.Wayang pada periode sebelum penyebaran Islam berbentuk arca-arca yang menyerupai manusia.

Lalu para wali merubah bentuk wayang menjadi gambaran pipih dua dimensi dengan gaya dekoratif menjauhi kesan bentuk manusia. [15]Wayang tidak lagi digambar diatas kain, melainkan digambar diatas selembar kulit kerbau dengan warna putih dan hitam.Wayang tidak lagi berwujud gambar utuh, tetapi berupa satu-satuan gambar lepas dengan tangan menyatu dengan tubuh.

Pada dasawarsa kedua awal abad ke-16, atas kreatifitas salah seorang tokoh Wali Songo, Sunan Kalijaga, maka wayang disempurnakan dengan tangan bisa digerakkan dan warna-warna yang digunakan makin beraneka macam.

Penyusunan Pakem

Para Walipun menyusun pakem cerita pewayangan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Tauhid.Hal-hal yang kontradiktif dengan nilai-nilai Islam dirubah dan diselaraskan dengan tauhid.Seperti, kisah drupadi yang telah dijelaskan sebelumnya.Didalam kisah pewayangan Islam, Drupadi adalah istri dari Yudhistira saja putra tertua Pandawa.[16]

Selain itu munculah tokoh Punakawan yang mempunyai banyak peran didalam menegakkan kebenaran didunia pewayangan.Punakawan secara harfiah adalah simbol atau pola dari pembantu pimpinan yang ideal.[17]Ideal yang berarti adalah sosok dari ajudan yang dapat dipercaya, jujur, cerdik serta bijaksana.

Dalam memetamorfisiskan wayang, Sunan Kalijaga mendapatkan andil besar didalamnya.Salah satunya adalah pereformasian bentuk-bentuk wayang yang sebelumnya berbentuk menyerupai manusia dan akhirnya menjadi gambar dekoratif dengan proporsi tubuh yang tidak mirip dengan manusia.

Peran Sunan Kalijaga

Dengan kemampuan ndalang nya yang menakjubkan, Sunan Kalijaga mengenalkan Islam melalui pertunjukkan wayang yang sangat digemari oleh masyarakat yang masih menganut kepercayaan agama lain.

Pakem pewayangan Islam adalah pakem pewayangan yang telah menyimpang dari pakem induknya yang asli.Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa semakin jelas usaha-usaha para Wali dalam penyampaian agama Islam.Wali Songo telah melakukan perombakan setting budaya dan tradisi keagamaan yang telah ada ditengah-tengah masyarakat.

Ramayana dan Mahabharata yang sudah disesuaikan dengan tradisi Islam tersebut, bahkan divisualisasikan dengan pertunjukkan wayang. Sehingga, masyarakat yang terpesona dengan alur pakem yang islami tersebut akan menganggap seolah-seolah Ramayana dan Mahabharata versi Wali adalah versi yang asli atau induknya.

Perkembangan Peran Wayang

Fungsi wayang pada periode penyebaran Islampun semakin berkembang dan bermacam-macam.Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, wayang bersifat multifungsi.Jika di periode animisme dan dinamisme atau Hindu dan Buddha, wayang difungsikan sebagai ritual pemujaan kepada hal-hal gaib, penghormatan kepada ruh-ruh nenek moyang, bahkan menjadi upacara untuk meruwat.

Maka, diperiode Islam wayang digunakan sebagai sarana dakwah religius, komunikasi sosial, suara kebudayaan, Hiburan, bahkan Industri.[18]Para Wali aktif memanfaatkan wayang dalam penarikan minat sosial.Karena, wayang dianggap sarana yang mudah dan memudahkan dalam menciptakan lingkungan yang diinginkan.

Pen : Nabila Huringiin, S,Fil.I, M.Ag
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam-UNIDA Gontor         


[1] Cendekiawan mancanegara antara lain seperti Prof. Dr. GAJ. Hazeu, Dr. Serruir, cendekiawan dari pakar Indonesia seperti, K.P.A. Kusumadi Laga, Ranggawarsita, Suroto, Ir. Sri Mulyono dll
[2] Bendung Layung Kuning, Atlas Wayang, ,Op.Cit, hal. 6
[3]Ibid, hal. 1
[4] Amrin Rauf, Jagad Wayang, (GaraIlmu:Yogyakarta) hal. 22
[5] Bendung Layung Kuning, Atlas Wayang, ,Op.Cit,hal. 8
[6]Ibid, hal. 8
[7] Ardian Kresna, Dunia Semar, DivaPress:Yogyakarta) hal. 17
[8] Agus Sunyoto, Atlas Wali Song, Pustaka Iiman:Depok, 2014, hal.132
[9]Upacara spiritual yang bertujuan agar orang yang diruwat bebas dari sukerta, terhindar dari bencana-bencana yang bersifat gaib.
[10] Ardian Kresna, Mengenal Wayang, (Laksana:Yogyakarta), 2012, hal. 34
[11]  M.Salah, Mahabarata, (Balai Pustaka: Jakarta) 2000, hal. 38                                                                                 
[12]Dr. Purwadi, M.Hum, Tasawuf Muslim Jawa, hal. 212
[13] Imam Budhi Santoso, Manusia Jawa mencari kebeningan hati, (DIandra Pustaka:Yogyakarta) 2013, hal. 15
[14] Bendung Layung, Atlas Wayang, ,Op.Cit, hal. 469
[15] Agus Sunyoto, Atlas Wali Song, Pustaka Iiman:Depok, 2014, hal.136
[16]Ibid, hal.138
[17] Ardian Kresna, Dunia Semar, (Diva Press:Yogyakarta) 2012, hal. 97
[18] Amrin Rauf, Jagad Wayang, (Garailmu:Yogyakarta), 2010, hal.5

2 Comments

  1. Pingback: Memahami Makna Adab

  2. Pingback: Teosofi Qur'an; Meneropong Corak Filsafat Nursi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *