Oleh: Ustadzah. Firda Inayah
Dosen Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id.- Berbicara mengenai adab, mengingatkan kita terhadap sosok Profesor keturunan Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (salah satu Habib yang berpengaruh di Nusantara), yaitu Syed Muhammad Naquib al-Attas. Suatu hari, dalam seminar pendidikan Islam Internasional di Makkah, thn 1977. Prof Naquib al-Attas ditanya oleh salah seorang anggota seminar tersebut, “Apa permasalahan terbesar yang sedang dihadapi oleh umat Islam saat ini?.”

Beliau menjawab, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini mencakup dua hal; Pertama, masalah Eksternal, yang berupa serbuan pemikiran-pemikiran yang merusak, hal ini dimaksudkan dengan gerakan westernisasi dari Barat. Kedua, masalah Internal, yaitu  hilangnya adab (loss of Adab). Sebagaimana pernyataannya,”the central crisis of Muslim today is loss of adab”.

Lebih jauh lagi, Beliau mengartikan loss of adab sebagai; “loss of disipline-disipline of body, mind and soul.” Menurut Beliau hal ini terjadi akibat kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan. Yang pada ahkirnya, ditandai dengan lahirnya para pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual yang mencukupi.

Baca juga: Transformasi Nilai-Nilai Pewayangan; Animisme-Dinamisme, Hindu-Budha dan Islam

Sehingga semua permasalahan ini membawa kerusakan di pelbagai sektor kehidupan, baik kerusakan individu, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam hal ini, terlihat bahwa permasalahan yang dihadapi umat Islam ini sudah sangat akut, mungkin kalau dianalogikan dengan penyakit, masalah ini diibaratkan seperti orang yang terjangkit penyakit kangker stadium tertinggi. Hingga ahirnya gagasan “adab” ini menjadi pusat perhatian banyak kaum cendekiawan, terutama cendekiawan Muslim.

Diantara salah satu  Kitab yang membahas masalah adab ialah kitab “Adabul ‘Alim wal Muta’allim” karya Hasyim Asy’ary. Disitu Beliau megeluarkan pendapatnya tentang adab, dimana Beliau mengatakan,

“Tauhid mewajibkan iman. Barang siapa tidak beriman, ia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syari’at, maka barangsiapa yang tidak ada syari’at padanya, ia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syari’at mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab, (pada hakikatnya) tiada syari’at, tiada iman dan tiada tauhid padanya.”

Lalu “apa yang dimaksud dengan adab?”. Kebanyakan orang yang mendengar istilah “adab” mereka akan mengatakan, “adab adalah sopan santun” sebagaimana yang tertulis di KBBI, adapun yang mengatakan adab adalah etika, moral bahkan karakter.

Masalahnya begini, jika adab ini diartikan sebagai sopan santun, maka perbuatan Nabi Ibrahim terhadap Ayahnya, sebagaimana yang termaktub dalam Qs. Al-Anbiya’: 54 yang mengatakan; “Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”, ini merupakan perbuatan yang tidak beradab.

Baca juga: Demistifikasi Nalar dan Realitas, Kajian antara Sains dan Agama

Adab juga tidak bisa diartikan sebagai karakter, sebab karakter merupakan istilah Barat yang telah disekulerkan. Jika adab diartikan sebagai karakter, nanti yang ada orang sekuler akan berkata,”orang yang berkarakter itu adalah yang suka tolong menolong, meskipun dia berzina.” Pertanyaannya, apakah orang yang beradab itu hanya sebatas berbuat baik kepada sesamanya?

Semua pengertian yang seperti ini tidak bisa dibenarkan. Sebab istilah “adab” ini datanganya dari Islam. Sehingga untuk menjadi manusia yang beradab, bukan hanya berbuat baik kepada sesama manusia melainkan juga kepada Tuhannya. Seorang muslim harus mengingat, bahwa dalam Islam, konsep adab memiliki suri tauladan yang dijadikan sebagai panutan, yaitu Rasulullāh Sallallahu’alayhi wasallam.

ilustrasi: adab seorang santri
ilustrasi: adab seorang santri

Sementara karakter? Apakah karakter memiliki suri tauladan?, yang ada orang akan bertanya, “Siapa yang paling berkarakter yang bisa dijadikan contoh?” apa kemudian orang akan menjawab, Sigmund Freud?”

Jadi apa itu adab??” Dalam bukunya “Risalah Untuk Kaum Muslimin” Prof Al-Attas memberikan penjelasan bahwa “adab” adalah “right action” yang berangkat dari pengenalan (recognition) dan pengakuan (acknowledgmen). Sebagaimana penjelasan Dr. Ardiansyah Ian Kusnadi, dalam penelitian disertasinya yang berjudul “Pendidikan berbasis Adab menurut Al-Attas”, Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pengenalan ini adalah ‘ilm, sementara pengakuan dimaksudkan dengan ‘amal.

Sejatinya, pengenalan dan pengakuan yang dimaksud al-Attas ini tidak lain ialah untuk melawan penyamarataan. Ketika, kedua hal tersebut telah terlaksana, maka terjadilan suatu kondisi yang disebut Al-Attas sebagai “keadilan” (‘adl), dimana segala sesuatu akan ditempatkan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan Allah. Disamping itu, Al-Attas juga mengatakan bahwa “Adab is coming from Hikmah”. Hikmah itulah buah daripada ilmu.

Berawal dari pengenalan yang benar, akan timbul cara pandang yang benar, dan timbullah satu pengakuan atau perbuatan yang benar dan tepat, sehingga tidak ada lagi penyamarataan atas segala sesuatu. Ketika seseorang mengenal dengan benar akan Tuhannya, maka dia tidak akan menyamaratakan Tuhan dengan makhluk-Nya.

Baca juga: Tips Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Rugilah Bagi yang tidak Melakukan Ini

Namun, sayangnya, ilmu-ilmu sekarang ini sedang mengalami  confusion of knowledge (kekacauan ilmu), sehingga ilmu menjadi rusak dan salah. Seperti misalnya teori evolusi Darwin. Ketika teori ini dikenalkan, maka siswa akan memandang bahwa dia adalah kelanjutan kehidupan monyet, bukan keturunan Adam. Akibatnya timbullah penyamarataan antara dirinya dengan monyet.      

Begitu juga dengan konsep negara maju; apakah yang maju itu Amerika Serikat atau negara Madinah di masa Nabi. Juga, seperti orang-orang yang mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki itu sama, sehingga tidak boleh ada diskriminasi perempuan.

Atau yang mengatakan bahwa pernikahan sejenis itu dibolehkan, dan sebagainya. Pengenalan-pengenalan seperti itula yang membuat cara pandang dan tindakan manusia menjadi tidak beradab. Maka terjadilah ketidakadilan, dimana segala sesuatu tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya disesuaikan dengan ketentuan Allah.

Namun, pengenalan dan pengakuan ini harus selalu berdampingan. Ketika salah satunya tidak dilaksanakan, maka seseorang tidak bisa disebut beradab. Maka dari itu al-Ghazali mengingatkan bahwa, “Ilmu tanpa amal itu gila dan amal tanpa ilmu sia-sia”. Selain itu, seseorang yang sudah mengenal sesuatu dengan benar dan tepat, tapi tidak mengakuinya, maka dia persis seperti Iblis.

Sebab, Iblis kenal Allah, bahkan sempat berdialog dengan Allah, tapi Iblis tidak mau mengakui pengenalan tersebut, yaitu ketika dia membangkang kepada Allah saat diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam. Dengan itu, Iblis tidak pantas dikatakan sebagai makhluk yang beradab hanya karena mengenal Allah, tetapi tidak mau tunduk dan taat kepada Allah. Begitu pula pengakuan tanpa adanya pengenalan, niscaya pengakuan tersebut tidak akan benar.

Itulah, seputar pemaknaan adab yang intinya, adab itu melawan penyamarataan. Dari situlah akan terlihat makna adab dan adil yang benar, yang sesuai dengan Islam. Tidak seperti pemaknaan yang tersebar bahwa adil itu adalah sama rata, sama rasa, melainkan terletaknya segala sesuatu pada tempatnya sesuai ketentuan Allah. Sebab dalam Islam, tidak semua yang sama itu adil.

Seperti halnya, pembagian waris antara laki-laki dan perempuan berbeda, itulah keadilan. Sehingga keadilan ini bukan menurut ukuran manusia tapi menurut ukuran Allah.  Oleh karena itu, kosa kata adab dan adil itu adalah istilah Islam (bukan Arab) yang diserap dan menjadi kata tersendiri di Indonesia, sehingga pemaknaannya pun harus sesuai dengan Islam.  Wallāhua’lam bissowāb………”

Penulis: Ustadzah. Firda Inayah
Editor: Joko Kurniawan

2 Comments

  1. Pingback: Teosofi Qur'an; Meneropong Corak Filsafat Nursi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *