Oleh: al-Ustadz. Moh. Isom Mudin, M.Ud.
man la syaik fil haqiqah
Dosen & Kepala Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Tidak banyak yang mendudukkan Sang Kelangkaan Zaman (Badi’uzzaman) sebagai seorang Filosof besar dengan corak Filsafat tersendiri. Beberapa kajian meneropong tokoh satu ini terkadang sebagai seorang mufassir karena dia memang pelayan al-Qur’an ( khadim al-Qur’an ) Ada pula melihatnya sebagai sufi besar dengan terobosan empat maqamat nya, yang secara amalan, wadlifahnya  dan wiridnya  memang seorang Naqsyabandis. Adalagi yang menganalisanya sebagai pemikir besar dan mujaddid abad ini. Maka, tulisan ini akan mencoba meneropongnya dari sisi corak filsafatnya.

Mungkin, ada yang menyatakan penggunaan diksi ‘corak filsafat’ sangat berani karena Beliau terang mengkritik filsafat. Juga karena “sa’id Jadid” sudah keluar dari perdebatan filsafat. Tapi, dalam tulisan- tulisanya, filsafat yg dikritik adalah filsafat yang bertentangan dengan nilai Qur’any. Adapun jika sesuai, dia sebenarnya adalah ‘pengabdi al-Qur’an’.

Baca juga: Memahami Makna Adab

Penulis sengaja menggunakan term teosofi Qur’an untuk menerjemahkan “hikmatul Qur’an” yang digunakan “al-Ustadz” Nursi. Dua kata ini adalah frase “idlafah”. Hal ini sedikit berbeda dengan misalnya Teosofi Transenden; “Hikmah Muta’aliyah”, corak yang disematkan kepada Mulla Shadra yang menggambarkan frasa sifat. Maka maknanya teosofi Qur’an adalah corak Filsafat dan Tasawwuf yang bersumber, memancar dari al-Qur’an langsung.

Dalam Rasa’il Nur, ungkapan Teosofi Qur’an sering dilawankan dengan Filsafat manusia ( Falsafatul Basyar ) yang digunakan Nursi untuk mengistilahkan Filsafat yang tidak memberikan ruang metafisik sama sekali, dan mengandalkan rasionalitas semata. Ungkapan ini juga ia bandingkan atau disandingkan dengan “Hikmah Talamidz al-Qur’an” yang ditujukan kepada para Filosof Muslim dari berbagai aliran seperti Pariparetik, Iluminis ( isyraq ), dan aliran kalam rasionalis seperti muktazilah.

Nursi mengkritik aspek-aspek Fundamental dalam Falsafatul Basyar seperti pandangan tentang realitas, epistemoligi, aksiologi bahkan paradigma dan pandangan alamnya yang bertentangan dengan prinsip teosofi yang ia bangun.


Baca juga: Tips Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Rugilah Bagi yang tidak Melakukan Ini

Adapaun kritik kepada “murid al-Qur’an”, Nursi memberikan apresiasi luar sekaligus memberikan masukanya, misalnya dalam aspek realitas dan penggunaan rasionalitas berlebihan, aspek urgensitas madzhab  tersebilut dalam agenda ‘membanhlgkitkan iman’ (iqadlul Iman). Namun, beliau mengakuia kedalaman pembahasanya.

Perbedaan paling fundamenal bagi Nursi antara Filfasat Manusia (Falsafatul Basyar) seperti naturalisme-materialisme (thabi’iyyah maddiyyah) dan cabangnya dengan Teosifi Qur’an terletak pada pandangan tentang Realitas Fisik. Realitas fisik dalam filsafat yang lahir dari rahim peradaban terbelakang (madinah safihah) dipandang konstan dan akan terus eksis, tidak mempunyai hubungan dengan Realitas tertinggi. Ia memandang realitas pada dirinya sendiri tanpa makna dan arti.

Pandangan ini bisa mengeringkan jiwa dan menjadi hijab realitas yang lain. Sementara, itu Teosofi Qur’an memndang bahwa realitas fisik yang tercermin dalam makro kosmos bersifat tidak konstan terus berubah sesuai dengan pergerakan pena ilahi, dan tidak kekal (al-Mukjizat al-Qur’niyyah, 203-210). Realitas fisik ini juga sebagai ‘Kitab suci yang terlihat’ (kitab mandur), sebagai lawan ‘kitab yang terbaca’ yang bisa mengantarkan kepada Penulis dan Pelukisnya. Realitas ini juga sebagai manifestasi ( tajalliyat ) Sifat-sifat Allah.

Baca juga: Transformasi Nilai-Nilai Pewayangan; Animisme-Dinamisme, Hindu-Budha dan Islam

Gambaran teosofinya sebenarnya mengambil dari prinsip umum Hikmah Qur’an yang juga berbeda Aliran Filsafat dalam Islam seperti Isyraqiyyin, Paripatetik, Muktazilah, dan Sufi filoaofia terdapat dalam tiga hal. Pertama, moderat dalam menjelaskan konsep Tauhid; pembagian, gradasi, dan akibatnya tanpa sedikitpun terlewatkan. Kedua, saling keterkaitan dalam seluruh konseptual network tentang Realitas ketuhanan.

Ketiga, Komprehensitas seluruh konsep yang menjadi pancaran asmul Husna, dan aspek uluhiyyah dan Rububiyyah. Berbeda dengan pemikiran para “talamidz Qur’an“, walaupun mereka mengambil dan menjadikan al_Quran sebagai sumber, kajian mereka masih parsial. Tak Jarang, mereka konsen dalam satu hal dan melupakan yang lain. Padahal Realilitas Mutlak  itu tanpa batas. Hanya al-Quran yang bisa menggapainya, bukan akal parsial (akal juziy)

Dalam deskripsinya tentang Rasail Nur, Nursi mengungkapkan bahwa pemikirannya adalah karya orisinil tanpa merujuk, terpengaruh filsafat manapun baik rasionalitas barat, intuisi timur, atau thariqah-tharaqah Sufi. Tentu saja, dalam analisa penulis ada irisan-irisan yang sama dan juga berbeda. Nursi juga menggabungkan tradisi bayany dalam Tafsir dengan tradisi Irfany dalam Tasawwuf.

Hal ini diungkapkan dalam tulisanya bahwa seluruh pemikiran dalam Rasail Nur adalah hasil singkapan “Kasyf” terhadap makna-makna ayat al-Qur’an yang dia baca. Bukan hasil abstraksi pemikiran pribadinya, pengaruh lieratur yang ia baca, atau thariqat yang dia pelajari sebelumnya.

Baca juga: Demistifikasi Nalar dan Realitas, Kajian antara Sains dan Agama

Tadabbur makna Al-Quran sebagai wasilah kasyf bagi Nursi memiliki sedikit perbedaan dengan model hasil singkapan para sufi yang lain, walaupun secara esensi, sebagaimana ungkapan Nursi memiliki kesamaan dengan para sufi seperti al-Ghazay, Sir Hindi, atau Ibn Araby. Misalnya, Imam al- Ghazaly menjadikan dzikir dan wirid sebagai wasilah sambil menunggu datanya pengetahuan, atau Ibn Sina melalui mimpi, atau Ibn Athaillah melalui prinsip tadbir. Nursi menjadikan tafakkur dan tadabbur ayat sebagai wasilahnya.

Maka tak heran, setiap pembahasan dalam Rasail Nur seringkali diawali dengan ayat-ayat al-Qur’an. Dan tidak jarang, karyanya ini juga masuk dalam daftar Kitab Tafsir.

Beliau menjelaskan esensi, metode dan objek Rasail Nur dengan mengatakan:

ﺇﻥ ﺭﺳﺎﺋﻞ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺑﺮﻫﺎﻥ ﺑﺎﻫﺮ ﻟﻠﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ، ﻭﺗﻔﺴﻴﺮ ﻗﻴّﻢ ﻟﻪ، ﻭﻫﻲ ﻟﻤﻌﺔ ﺑﺮﺍﻗﺔ ﻣﻦ ﻟﻤﻌﺎﺕ ﺇﻋﺠﺎﺯﻩ ﺍﻟﻤﻌﻨﻮﻱ، ﻭﺭﺷﺤﺔ ﻣﻦ ﺭﺷﺤﺎﺕ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺒﺤﺮ، ﻭﺷﻌﺎﻉ ﻣﻦ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺸﻤﺲ، ﻭﺣﻘﻴﻘﺔ ﻣﻠﻬﻤﺔ ﻣﻦ ﻛﻨـﺰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ، ﻭﺗﺮﺟﻤﺔ ﻣﻌﻨﻮﻳﺔ ﻧﺎﺑﻌﺔ ﻣﻦ ﻓﻴﻮﺿﺎﺗﻪ..

“Sesungguhnya Rasail Nur penjelasan yang melimpah atas al-Qur’an, penjelas yang kuat atasnya, sinar dari sinaran keajaibanya, luapan lautanya, cahaya sinarnya, hakikat yang diilhamkan dari pebendaharaan ilmu hakikat, terjemah maknawi yang muncul dari luapanya”

ﺇﻥ ﺭﺳﺎﺋﻞ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﻟﻴﺴﺖ ﻃﺮﻳﻘﺔ ﺻﻮﻓﻴﺔ ﺑﻞ ﺣﻘﻴﻘﺔ، ﻭﻫﻰ ﻧﻮﺭ ﻣﻔﺎﺽ ﻣﻦ ﺍﻵ‌ﻳﺎﺕ ﺍﻟﻘﺮﺁﻧﻴﺔ ﻭﻟﻢ ﺗُﺴﺘﻖَ ﻣﻦ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺸﺮﻕ ﻭﻻ‌ ﻣﻦ ﻓﻨﻮﻥ ﺍﻟﻐﺮﺏ، ﺑﻞ ﻫﻲ ﻣﻌﺠﺰﺓ ﻣﻌﻨﻮﻳﺔ ﻟﻠﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺧﺎﺹ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ.

“Rasail Nur bukanlah Tarekat Sufi, tetapi hakikatnya. Dia adalah limpahan cahaya ayat-ayat Qur’an. tidak diambil dari ilmu timur atau pengetahuan barat. Tetapi, mukjizat maknawi atas al-Qur’an terkhusus era ini”

Baca juga: Acatalepsy

Isi Rasail Nur, sebagaimana yang dia katakan, berisi seratus lebih rahasia- rahasia Islam Syari’atnya. Tema pembahasanya tentang basis filosofis Aqidah, Syariah dan Irfan. Juga sarat dengan tema filsafat mulai dari prinsip realitas, epistemologi, kosmologi, aksiologi dan isu-isu mendasar lainya.

Tema-tema ini juga tidak lepas dari tujuan ditulisnya Rasail Nur, untuk meningkatkan Iman, membersihkan masyarakat dari cengkaraman pandangan hidup barat, bahkan dengan jelas ia mengatakan Rasail Nur Juga sebagai kritik atas Filsafat barat yang melenceng, sepeti ideologi seperti atheisme, materalisme, markisme, dan yang kain. Maka, bagi muslim , kata Nursi, Rasail Nur adalah Pisau pisau penyayat ( saif almasy).

Dari, uraian di atas sebagai thesis dapat dikatakan Badiu’zzaman Said Nursi memiliki corak filsafatnya sendiri yang berbeda dengan corak-corak yang lain yang terpncar sangat kuat dari al-Qur’an al-Karim sebagai basis utamanya. Wallahu a’lam bis Shawab

Penulis : al-Ustadz. Moh. Isom Mudin, M.Ud.
Editor : Joko Kurniawan

One Comment

  1. Pingback: Sehari bersama Rasa'il dan Badiuz Zaman Sa'id Nursi; Dari A sampai Z

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *