Keputusan dekan fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor dalam mengesahkan kurikulum baru untuk prodi Aqidah dan Filsafat Islam menarik untuk diperhatikan. Adanya sesuatu yang baru pastinya ada yang lama, begitu pula yang terjadi pada kurikulum baru bagi prodi Aqidah dan Filsafat Islam.

Akan kita dapati tambahan mata kuliah pada filsafat sains pada kurikulum baru. Walaupun demikian tidak lantas dikatakan kurikulum baru lebih baik daripada yang lama. Karena baik yang lama maupun yang baru disusun berdasarkan kebutuhan yang sifatnya menyesuaikan visi prodi ketika itu.

Visi prodi yang baru adanya penekanan pada bidang Islamisasi sains, sehingga prodi mengarahkan jalur tri dharma perguruan tinggi kepada visi tersebut. Di bidang pengajaran materi Ilmu kalam, Filsafat dan Tasawuf yang selama ini menjadi “core” bagi prodi ini diarahkan untuk lebih implementatif dalam menghadapi perkembangan sains.

Selanjutnya di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat pun diarahkan untuk menguatkan visi tersebut. Tentu ini bukan dalam rangka mencari legitimasi pembenaran sains dengan agama, bukan pula untuk mengadu antara kebenaran agama dan sains, melainkan lebih memfungsikan agama dan sains sebagai mana mestinya dalam kehidupan.

Berusaha bersikap adil dalam menghadapi keduanya. Mengenal agama dan sains hingga kepada hakikatnya menunjukkan bahwa prodi ini bergerak pada level filosofis dan tidak terjebak kepada labelisasi semata.

Materi baru yang hadir pada kebaruan kurikulum kali ini adalah Filsafat Politik Islam, Filsafat Pendidikan Islam, Filsafat Ekonomi Islam dan Pemikiran Psikologi Islam. 4 nama di bidang sains sosial tersebut merupakan nama yang kami anggap sudah mapan dalam mewarnai dunia sains, sehingga penting bagi civitas akademika di Fakultas Ushuluddin mengenal dan mendalami ini semua.

Tokoh-tokoh yang berkontribusi  dalam menghadirkan teorinya seperti tak putus dari zaman ke zaman dan masih relevan hingga sekarang. Hanya saja karena di era kontemporer ini peradaban dimenangi oleh barat, sehingga ilmu-ilmu klasik ini menjadi jarang tampil di kancah perkembangan ilmu.

Hadirnya mata kuliah di atas diharapkan mampu membangkitkan kemauan civitas akademika dalam mengembangkan sains Islam, hingga akhirnya semua akan mengetahui bahwa problem utama kemunduran sains Islam bukan dikarenakan kemampuan sains Islam dalam menjawab tantangan namun pada kemauan para sarjananya.

Peradaban dunia saat ini sudah didominasi oleh ilmu dalam maknanya sebagai sains dan belum banyak ilmu sebagai ‘Ilmu (dalam konsepsi Islam). Segala macam representasi dari realitas dituntut untuk ditampilkan secara terstruktur, sistematis, logis dan terkadang harus bisa diamati yang itu semua menjadi ciri khas dari sains modern.

Pada satu sisi memang dipertanyakan perlu atau tidak, tapi faktanya arus dunia sains didominasi dengan model-model pernyataan ilmiah yang demikian. Sedangkan pengaruh pada level ilmu selalu diiringi implikasinya terhadap pola pikir masyarakat umum.

Dengan demikian apa yang menjadi tradisi pada ranah keilmuan akan selalu terkait dengan cara pandang komunitas manusianya yang dalam hal ini sains modern menjadi primadona bagi kehidupan sosial kontemporer.

Lalu fakultas Ushuluddin bukan bermaksud untuk bersikap antipati terhadap model yang seperti ini, tapi tuntutan yang berlebihan dalam sains yang membuatnya terkadang menjelma menjadi aqidah yang fundamental inilah yang perlu disikapi secara kritis.

Maka sebuah gerakan yang tepat jika prodi aqidah dan filsafat Islam ini mengembangkan kurikulumnya pada Islamisasi sains, yang dalam hal ini berusaha mengembalikan jati diri sebuah ilmu seperti mengembalikan anak hilang kepada ibu kandungnya.

Di lain sisi amanah trimurti pendiri pondok untuk menjadikan Universitas ini menjadi perguruan tinggi yang bermutu dan berarti semakin mempertegas langkah pengembangan kurikulum fakultas Ushuluddin. Fakultas yang bisa dikatakan sebagai fakultas tertua di Gontor ini tetap istiqomah dalam memperdalam dan memberi solusi terhadap permasalahan kontemporer di wilayah pemikiran.

Solusi pemikiran akan selalu tetap relevan dengan kebutuhan zaman, mengingat prinsip akan keabadian sebuah ide di tengah remuknya jasad. Di wilayah praksis satu permasalahan akan selalu berbeda dan berubah-ubah, tapi tidak dengan ide pemikiran.

Maka tak berlebihan jika bapak wakil rektor Unida Gontor dalam beberapa kesempatannya menyampaikan bahwa prodi ini sebagai prodi yang mengawal gerakan Islamisasi di Unida. Karena memang Islamisasi ini merupakan sebuah gagasan yang berangkat dari ide yang kuat.

Pengembangan kurikulum ini diharapkan mampu menghadirkan solusi bagi sekian banyak permasalahan di wilayah ilmu. Walaupun terkadang target menghadirkan solusi sulit terealisasi, tapi setidaknya civitas akademika mampu mengenal problem-problem dunia sains. Ibarat orang sakit yang mampu mengenali penyakitnya walaupun belum mampu membeli obat.

Itu terkadang lebih baik daripada orang sakit tanpa pernah mengetahui dimana pusat penyakitnya, sehingga obat yang diminumnya tak pernah menyembuhkan penyakitnya. Dengan ini diharapkan prodi mampu melebarkan sayapnya di bidang keilmuan. Semoga tekad besar ini tidak pernah padam dari kencangnya badai. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis: Al-Ustadz. Ahmad Farid Syaifuddin, M.Ud
Kepala Bidang Kurikulum Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gonto
Editor: Joko Kurniawan

5 Comments

  1. Pingback: 3 Trik Sederhana Mengembangkan Diri di Bangku Kuliah

  2. Pingback: Harapan untuk mahasiswi baru

  3. Pingback: BÎMÂRISTÂN ABAD KEEMASAN

  4. Pingback: Melihat Agenda dan Peluang Riset Islamisasi Ilmu dengan Pendekatan Historis

  5. Pingback: Menegaskan Kembali Makna, Urgensi dan Agenda Islamisasi Ilmu: Catatan Diskusi bersama Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *