Wakil Direktur Pusat al-Qur’an UNIDA Gontor, Ustadz Muhammad Shohibul Mujtaba memulai sesi dengan pertanyaan yang cukup menggugah: “apa yang menarik dan khas dari staf Islamisasi?” Ini merupakan pertanyaan yang harus ada ketika kita mengkader penerus dalam mengelola sebuah organisasi.

Jika kita melihat dari perspektif Pendidikan, melatih melalui penugasan adalah kelaziman. Sebagaimana banyak dicontohkan dan disampaikan oleh bapak pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ustadz Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi di banyak kesempatan.

Di Gontor, penugasan memang mutlak. Bukan demi apapun, tapi Lillahi Ta’ala. Karena itulah, kita semua harus bisa mendapat manfaat dari segala penugasan yang kita jalani. Manfaat mendalami, meningkatkan diri, hingga menempa diri untuk menjadi lebih baik.

baca juga KAJIAN FASSIR “Menjawab Metode Tahfidz dan Murojaah di UNIDA Gontor”

Sistem ini tentu ada resikonya. Kadangkala, mahasiswa kurang profesional, bahkan kadang paradoks: staf Tahfidz ada yang tidak lulus tahfidz. Namun, resiko tersebut dijadikan pendorong kita untuk berprestasi. Jika kita coba suatu target. “Kita akan rebut gelar mahasiswa teladan” begitu tantangan dari ustadz Mujtaba terhadap staf

Beliau menambahkan, kita menjalankan tugas bukan hanya mencari enaknya. Justru kita ingin menjadi yang terdepan dalam gerakan dan kegiatan mahasiswa. Mencari manfaat, mencari ilmu, hingga mendalami hal bermanfaat dari segala kegiatan yang ada di UNIDA Gontor, menjadi mahasiswa teladan. Diharapkan, berkahnya: bisa dikenal yang lain, bukan karena buruk, tapi karena etos kerja yang cukup baik; meski dengan segala kekurangannya. Setidaknya, -dalam standar terendah- tidak tercekal akademik atau lainnya.

Namun, yang menjadi keistimewaan dari organisasi ini, ujar Ust Mujtaba menegaskan, kita memiliki direktur yang gemar bertahajud. Kita mesti mengikuti itu, meski masih perlu banyak latihan. Keistimewaan lainnya, di Islamisasi akan banyak tugas yang cukup menantang. Dari sini, kita belajar mengorganisir waktu dan kegiatan kita. Kesemuanya harus dipandang dari perspektif berkah dan amal shaleh.

baca juga DR. KHOLID MUSLIH, M.A: MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI LIFESTYLE

Berkah ini tentunya dalam arti luas. Bisa jadi, karena banyaknya khidmah kita terhadap pondok – meski tetap perlu memikirkan juga kepentingan akademik dan tugas pribadi – waktu kita menjadi lebih berkah. Banyaknya tugas, akan membuat kita banyak bersosialisasi; sehingga menimbulkan efek ‘shuhbah’ kita kepada rekan, staf hingga asatidz dan guru senior.

Organisasi ini, harus dijadikan sebagai tempat latihan, wadah untuk meningkatkan diri. Jadikan ini tempat untuk persiapan mengabdi kepada masyarakat. “Jika tidak cukup mengabdi setahun, lebihkan! Jika sampai S-1 merasa kurang, carilah S-2 di sini! dan seterusnya”, pungkas ustadz Mujtaba. Proses itu harus dijalani, meski berjalan perlahan, agak berat, hingga kadang terasa berat sekali.

Di akhir sesi, ustadz Mujtaba mengajak agar kita semua menjalankan sunnah yang sering kita temui di pondok. Duduk paling depan; tidak apa meski mengantuk. Berbahasa resmi, mutqin dalam tahfidz dan kebiasaan baik lainnya.

[Reporter: Muhammad Taqiyuddin]

2 Comments

  1. Pingback: Bekam: Inspirasi Hidup Sehat dengan Sunnah Rasul di Zaman Teknologi

  2. Pingback: Beberapa Pesan Hikmah Keadministrasian dari Ustadz Khoirul Umam yang Harus Kita Ketahui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *