Rentetan Upgrading Staff Direktorat  Islamisasi Ilmu dan Pusat al-Qur’an ditutup dengan uraian dari Ustadz Muhammad Faqih Nidzom, M.Ag tentang ke-administrasian. Di Gontor, “tertib administrasi” sebagaimana dikutip secara populer dari KH Imam Zarkasyi, memang mendapat titik tekan dalam bidang keuangan. Namun saat ini, perintah tersebut juga harus kita aplikasikan dalam administrasi dalam makna yang luas, seperti administrasi akademik dan kemahasiswaan, administrasi penunjang akademik dan banyak lagi

Kutipan tersebut menjadi dasar yang kokoh dalam sistem Panca Jiwa sangat terkait dengan administrasi. Dalam arti, semua aktifitas di kampus, khususnya dalam administrasi keuangan, harus dijiwai oleh nilai-nilai pondok. Seperti ikhlas berbuat, kesederhanaan, keterbukaan, dan lainnya. Termasuk juga nilai yang tertuang dalam Motto Pondok, seperti: berbadan sehat, hingga berakhlak mulia dan berpengetahuan luas.

Mengutip nasehat Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal bahwa “kita harus give, give, and give; bukan take and give” agar setelah kita melakukan itu, kita menjadi “given” yakni ‘mendapat’ berkah dari Allah. Filosofi memberi, memang yang bersangkutan haruslah memiliki sesuatu yang akan diberi.

Ustadz Faqih yang juga sebagai Kepala Bagian Keuangan di UNIDA Gontor ini mengutip prinsip lain dari peribahasa Arab: “Fāqidus-syai’i lā yu’thi”. Kelanjutan dari nasehat di atas, agar kita mampu ‘give’, maka kita perlu memiliki keilmuan dari belajar dan etos kerja yang tinggi; dengan harapan kita mampu untuk ‘give’. Dengan khidmah di kampus, kita berusaha memberi kemampuan kita untuk kebaikan pondok. Dan dari tugas-tugas itu, akhirnya kita pun mendapatkan ilmu dan pengamalan berharga, sebagai bekal untuk pengabdian berikutnya. Dengan itu, banyak hal yang lain yang bisa kita berikan.

“Kaitan lebih jauh, amanah Ustadz KH Hasan Abdullah Sahal kepada santrinya adalah menjadi mundzirul qoum, artinya, memberi peringatan, maka dari itu kita mesti punya bekal untuk itu. Karena ada kata ‘memberi’, artinya mesti sudah ‘punya bekal’, dengan catatan bekal yang baik dan benar, berupa ilmu, pengalaman dan lainnya”, ujar Ustadz Faqih menambahkan.

Jangan sampai kita berpikir: “ah, sudah ada yang bisa” atau “jangan-jangan ini tidak ada manfaatnya di luar”. Itu pikiran yang keliru, karena hidup tidak bisa ditebak. “Justru kita mesti bersyukur jika mendapat tugas, karena tidak semua mahasiswa mendapat kesempatan untuk ini. Kadangkala, amanat dan tugas memang datang silih berganti. Namun jika kita jalani dengan tulus ikhlas, maka manfaatnya akan kembali kepada kita” begitulah ustadz Faqih menekankan sembari menegaskan, “belajar memang harus seumur hidup”.

Dalam persoalan teknis, beliau menekankan tentang inventarisasi. Inventaris kita adalah wakaf dari pondok, karena itu harus diperhatikan secara serius. Pendataan harus akurat, dari jumlah hingga letaknya.

Di akhir sesi, ustadz Faqih memberi tugas sembari melanjutkan tugas dari Dr. Kholid tentang membuat proposal kegiatan acara, yakni mencoba menyusun rancangan anggaran dengan Microsoft Excel. Selain itu, beliau juga menasehatkan agar semua staf berlatih untuk mengelola keuangan, terutama bisa ikut bersama bendahara khusus yang mendapat tugas.

Reporter: Muhammad Taqiyuddin
Editor: Joko Kurniawan

One Comment

  1. Pingback: Beberapa Pesan Hikmah Keadministrasian dari Ustadz Khoirul Umam yang Harus Kita Ketahui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *