Oleh Muhammad Faqih Nidzom, M.Ud.
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam.

afi.unida.gontor.ac.id Tagline Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor mulai tingkat S1, S2, dan S3 adalah Aqidah sebagai ‘Mother of Sciences’; induk pengetahuan. Hal Ini tentu sedikit berbeda dengan pandangan umun yang menyatakan bahwa Induk pengetahuan adalah filsafat. Sebagai ibu, aqidahlah yang sejatinya melahirkan berbagai macam disiplin ilmu pengatahuan dalam Islam.

Aqidah sebagai pondasi dasar keimanan dalam Islam mengandung prinsip epistemologi. Aqidah yang dimaknai sebagai keyakinan kuat tanpa ada keraguan sedikitpun terhadap dasar keimanan. Untuk mencapai tahap yakin dan menghilangkan keraguan pastinya harus melewati proses-proses epistemologis. Dalam Ilmu Tauhid, proses pencapaian iman terlemah adalah dengan ber-taqlid. Bahkan beberapa ulama melarang taqlid, karena iman bukan tidak sekedar ‘ikut-ikutan’, tapi harus disertasi pengetahun. Iman yang kuat selalu dibarengi dengan proses penggalian bukti-bukti adanya Tuhan, bukti kenabian, dll.  Inilah mengapa ayat tauhid didahului dan dikuatkan oleh  ilmu “fa’lam annahu la ilaha illa allah”,

Aqidah dalam Konteks Worldview Islam

Wajah Aqidah dalam konteks studi peradaban berwajah “wordlview”. Hal hal yang tsawabit dalam ranah Islam, Iman, dan Ihsan berkembang menjadi konsep – konsep kunci yang menjadi asumsi dasar dan paradigma ilmu pengetahun seperti konsep Tuhan, konsep manusia, konsep jiwa, konsep alam, konsep etika, konsep kebahagiaan, kosep realitas, dll. Kumpulan konsep inilah yang menjadi cikal bakal pengetahuan.

Bicara Aqidah dalam konteks wordview harus kontekstual tanpa menihilkan tekstual. Orang tidak cukup mendefinisikan Islam dengan menjalankan lima rukunya sebagaimana definisi “hadd”, tetapi harus berada pada tataran praktis komfrehensif universal yang biasa disebut “rasm”. Jika ahli ekonom bertanya tentang Islam? ekonom muslim bisa menjawab Islam adalah agama yang mengentaskan kemiskinan. Jika ahli ekologi bertanya apa Islam? Ekologi muslim bisa mengatakan islam adalah agama yang ramah lingkungan. Begitulah seterusnya. Semua berlandaskan “istdlal” yang kuat.

Aqidah Tauhid sebagai Asas Konsep-Kosep Kunci

Jika diteliti, Konsep kunci itu selalu kembali kepada aqidah dan tauhid, atau aqidah bergandengan dengan konsep kunci. Pertama, Dalam Ilmu Kalam disebutkan bahwa ‘nature’ atau alam adalah segala sesuatu selain Allah, hukum alam dalam kalam disebut “sunnatullah”. Teori Jauhar (atom) yang dikemukakan oleh Asya’ry digunakan untuk merasionalkan mukjizat, Kausalitas (sebab akibat) ini sebagi basis sifat Qudrah dan Iradah Tuhan.  Begitu juga konsep-konsep lain dalam bidang ekonomi, ekologi, psikologi, politik, sosial, antropologi dll. Kedua, iman selalu bergandengan dengan prinsip sosial, iman berbarengan dengan ilmu, iman berbarengan dengan jiwa, iman tidak lepas dari ekonomi dan lingkungan. Begitulah seterusnya.

Tentu, Tradisi Ini berbeda dengan  peradaban lain yang menyingkirkan aqidah dalam sendi kehidupan, termasuk dalam ilmu. Jika orang bicara Tuhan di laboratorium, ia siap-siap dituduh makar ilmiyyah. Inilah yang biasa disebut sekularisasi. Jika konsep ini disebarkan dan dipaksakan kepada peradaban yang lain maka disebut westernisasi. Sarananya kolonialisasi. Maka Agenda konsep ini harus dijawab dengan agenda de-westernisasi yang akan berlanjut menjadi Islamisasi. Islamisasi bukanlah labelisasi, tetapi mengembalikan ilmu ke fitrahnya, yakni mengantarkan kembali menemui Tuhanya.

Artikel lainnya Lainnya :

2 Comments

  1. Pingback: Menegaskan Kembali Makna, Urgensi dan Agenda Islamisasi Ilmu: Catatan Diskusi bersama Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

  2. Pingback: Melihat Agenda dan Peluang Riset Islamisasi Ilmu dengan Pendekatan Historis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *