afi.unida.gontor.ac.id ” Almuhaafazhatu ‘ala-l-qodiimi-s-sholih wa-l-akhdzu bi-l-jadiidi-l-ashlah” sambutan yang cukup bagus dan memiliki arti mendalam dari seorang ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) baru kampus IV, Kediri, Al-Ustadz Akbar Aisya Billah di acara pelantikan pengurus baru DEMA UNIDA Kampus IV. Dalam sambutannya ini, ia mengambil langkah berani untuk mengusahakan perbaikan dari kepengurusan DEMA sebelumnya.

Rabu, 10 Juli 2019, UNIDA Kampus IV Kediri mengadakan pelantikan pengurus baru Dewan Mahasiswa yang disaksikan oleh seluruh mahasiswa baru maupun lama, dan utusan santri dari tiap-tiap kelas. Acara ini dihadiri pula oleh bapak Wakil Pengasuh Gontor 3, Al-Ustadz Heru Wahyudi, S.Ag serta Wakil Direktur KMI Gontor 3, Al-Ustadz Aris Hilmi Hulaimy, M.Ag.

Acara ini dibuka dengan sambutan-sambutan dari ketua DEMA lama maupun baru, yang dilanjutkan dengan sambutan dan nasehat dari Al-Ustadz Heru Wahyudi, S.Ag.

Tips-tips Memimpin Suatu Organisasi

Di dalam pidatonya, Al-Ustadz Heru menyampaikan banyak hal tentang tips-tips memimpin, kepemimpinan dan keorganisasian. Ia menyampaikan bahwasannya DEMA sebagai organisasi kemahasiswaan yang mengatur acara anggota-anggotanya harus bisa menghidupkan kegiatan kemahasiswaan di berbagai jenis kegiatan, baik kegiatan akademis, keagamaan, kemasyarakatan, maupun olahraga, karena kegiatan kemahasiwaan sangatlah penting bagi para mahasiswa.

Baca Juga : Sekjen MUI Jawa Timur: Mahasiswa AFI Harus Kritis

Kemudian ia mengingatkan segenap mahasiswa bahwa didalam memimpin, teori sangat dibutuhkan. Pemimpin yang tidak tahu teori dalam kepemimpinannya, pasti akan muter-muter. Beliau mengibaratkan orang yang tidak tahu teori dalam memimpin seperti orang yang berada diatas sampan, lalu ia tidak tahu cara mendayung, ia akan hanya berputar-putar di atas air.

Pemimpin yang tidak tahu teori dalam kepemimpinannya, pasti akan muter-muter.

Lalu ia memaparkan, dalam berorganisasi, untuk mencapai tujuan organisasi tersebut dibutuhkan program-program. Dalam setiap wacana yang dicanangkan perlu disusun strategi untuk menyelesaikan wacana tersebut.“Tidak ada program sekecil apapun yang tidak direncanakan dan tidak pakai strategi” tegasnya.

Di akhir pidatonya beliau memberitahu bahwa apakah seseorang paham betul atau tidak terhadap apa yang telah di canangkannya dapat ditinjau dari apakah ia mampu mempresentasikannya kepada orang lain.

Orang yang tidak paham apa yang ia kerjakan akan kesulitan ketika diminta untuk menjelaskan kembali apa yang telah direncanakan.

Oleh karena itu, seorang pemimpin sebagai kepala suatu organisasi setidaknya dapat menyadarkan para anggotanya untuk bersama-sama menghidupkan kegiatan organisasinya, dengan memulai memprogramkannya dan menyusun strategi demi majunya organisasi tersebut sesuai harapan anggota dan pemimpinnya.

Pen: J.D. Jati

Artikel Lainnya
Media Menjadi Rujukan Keislaman Yang Diperhitungkan: Mahasiswi AFI Pelajari Metode Dakwah Radio Muslim Surabaya
Silatul Falsafal UGM dan UNIDA Gontor
Perjuangkan Literasi Online, Mahasiswa AFI Rancang Strategi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *