Oleh: Muhammad Kholid
Peserta PKU Gontor angkatan XIII

afi.unida.gontor.ac.id Ada seorang yang terjangkit penyakit gila, diperiksa oleh dokter. Pemeriksaan itu bertujuan untuk mengetahui apakah dia sudah sembuh dari penyakitnya gilanya atau belum. Si gila dimasukkan pada sebuah ruangan yang tergenang banjir karena kran airnya terbuka. Disediakan juga alat pel, ember, dan gayung sebagai alat untuk si gila untuk membersihkan ruangan tersebut.

Si gila mengambil gayung dan ember untuk menampung air yang tergenang serta menggunakan alat pel untuk membersihkan air sisanya. Ternyata semakin air itu dibersihkan, semakin banyak juga air yang mengalir, karena si gila tidak menutup kran airnya. Sang dokter memberikan kesimpulan bahwa si gila belum sembuh, karena dia tidak menutup kran air yang notabenenya sebagai sumber masalah dari adanya genangan air di ruangan tersebut.

Adab dan Korupsi Ilmu Pengetahuan

Cerita diatas adalah analogi dalam pemetaan permasalahan yang terjadi di tubuh umat Islam saat ini. Ketika kita salah memetakan problem mendasar dalam umat ini, maka kerusakan akan selalu terjadi bahkan bertambah. Salah satu yang menarik adalah temuan dari Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Beliau menyatakan bahwa masalah terbesar umat ini bukanlah di bidang politik, ekonomi, budaya, sosial dan lainnya, tapi problem mendasarnya adalah hilangnya adab (loss of Adab).

Adab dalam pandangan beliau adalah “to put something in proper place“, dalam istilah lain kita mengenalnya sebagai al-adl yang memiliki lawan kata ad-dzulm. Kehilangan Adab ini disebabkan diantaranya oleh virus-virus yang disebarkan oleh Barat berupa pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan Syari’at Islam sehingga terjadilah “Corruption of Knowledge“, meminjam istilah Al-Attas.

Kriteria Pemimpin

Tantangan ini tentu tidak sederhana, perlu ada kader-kader yang siap untuk menjawab persoalan ini. Wakil Rektor UNIDA Gontor, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, berpendapat bahwa umat Islam saat ini butuh pemimpin yang siap untuk terjun kemasyarakat. Pemimpin disini bukan hanya pemimpin politik, ekonomi, pendidikan dll, tapi juga pemimpin dalam bidang pemikiran, yang memiliki otoritas keilmuan di bidangnya.

Sekarang sudah saatnya menyadari akan tantangan terbesar umat Islam yang berupa pemikiran rasional berbasis santifik

Direktur INSISTS Jakarta ini menegaskan: “Kita harus bisa merespons semua tantangan yang dihadapi umat, memimpin wacana yang berkembang, jangan sampai dikuasai kaum sekular-liberal. Itulah pentingnya otoritas keilmuan. Untuk itu, kalian tidak boleh bodoh, tingkatkan terus intelektualitas dan leadership. Setelah itu, jadilah elit Islam yang memimpin lembaga, wacana, terutama bidang pendidikan dan pemikiran”.

Dalam ranah pemikiran Islam, untuk saat ini seseorang yang dianggap paling otoritatif adalah Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Beliau mampu menjawab tantangan pemikiran era kontemporer ini dan memberikan solusinya. Tapi tentu tidak mungkin beliau sendirian yang berjuang, kita perlu kader-kader terbaik yang siap terjun ke lapangan untuk bisa menjelaskan kepada masyarakat akan problematika keilmuan ini.

Rektor UNIDA Gontor, Prof. Amal Fathullah Zarkasyi mengatakan bahwa era perdebatan khilafiyah fiqhiyah sudah harus ditinggalkan, dalam arti tidak dijadikan prioritas, karena perbedaan dalam hal ini adalah ranah shawāb-khata’ yang mestinya bisa diteloransi.

Beliau mengingatkan permasalahan yang lebih serius: “Sekarang sudah saatnya menyadari akan tantangan terbesar umat Islam yang berupa pemikiran rasional berbasis santifik yang menihilkan akan peran metafisikan di dalam segala realitas, dunia saat ini sudah digandrungin pemikiran sekulerisme, pluralism, liberalism, feminism , islamophobia. Bahkan isu yang paling hangat adalah mencuatnya isu toleransi, radikalisme, ekstrimisme yang faktanya isu tersebut dibuat oleh Barat, tapi umat Islam sendiri termakan olehnya.”

Selain kewajiban untuk membersihkan kerusakan pengetahuan diatas, perlu juga bagi kita untuk terjun langsung melakukan pendekatan yang intensif kepada masyarakat, agar kita tahu apa yang terjadi dimasyarakat.

Pembukaan PKU 13

Direktur YDSF Surabaya, Dr. Abdul Kadir Baraja bercerita bahwa ada sebuah perkampungan di Sleman, disana sebagian besar para pemudanya menjadi pendukung sebuah partai yang pernah menyampaikan pernyataan yang mendiskriditkan umat Islam, padahal pemimin ranting partai tersebut adalah non-muslim. Ternyata ketika ditelisik, pemimpin partai itu sangat perhatian terhadap masalah-masalah keseharian para penduduk kampung tersebut, khususnya para pemudanya.

Ketika ada masyarakat yang sakit, pihak partai berusaha untuk melobi pihak rumah sakit untuk memberikan keringanan dalam biaya berobat, ketika ada masyarakat sedang kekurangan bahan pokok sehari-hari, pihak partai juga berusaha untuk membantu mereka.

Hal kecil tersebut ternyata berdampak besar terhadap loyalitas masyarakat terhadap partai tersebut meskipun pimpinan partainya adalah non-muslim. Tanpa bermaksud untuk mendeskriditkan agamanya, kita sebagai umat Islam perlu untuk mengambil pelajaran darinya.

“Apapun yang kita lakukan di masyarakat dengan langsung terjun ke lapangan, ditambah berusaha memahami persoalan mendasar dari masyarakat, akan berpengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat. Tugas besar kita bersama adalah, bagaimana kita berusaha sedekat mungkin dengan mereka, mendengar keluhan mereka, berusaha membantu tentunya dengan kapasitas masing-masing.” Demikian Bapak Abdul Kadir menambahkan.

Trik yang ampuh dari Dr. Kadir mungkin bisa menjadi salah satu inspirasi, yaitu dengan mengirimkan para da’i untuk bisa menjadi contoh dalam sholat berjama’ah, tidak harus menjadi muadzin, imam ataupun khatib, tapi cukup dengan sholat berjama’ah lima waktu di masjid, sehingga nanti para jama’ah di masyarakat akan tersentuh hatinya ketika melihat ada seorang yang istiqomah untuk sholat berjama’ah dan duduk di shaf pertama.

Hal ini sangat efektif untuk bisa membuat pengaruh dengan konsep “bottom up”. Karena semua tokoh masyarakat, pejabat dan lainnya akan mudah untuk mendengarkan nasihat orang yang sudah bisa mencontohkan apa yang dia sampaikan. Karena fenomena sekarang ini, para da’i musiman hanya datang dan memberikan ceramahnya dan pulang tanpa tahu hakikat permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Dua metode dakwah berupa menjawab tantangan pemikiran yang lebih mengarah ke bidang akademis dan terjun langsung ke masyararakat dengan membina dan membantu permasalahan mendasar mereka adalah dua hal yang perlu dilakukan secara kolektif dan komprehensif. Perlu gerakan bersama dengan terorganisir sehingga tidak terjadi lagi kesalahan memberikan solusi seperti orang gila yang lupa untuk menutup air kran atau da’i musiman yang datang dan pergi tanpa tahu apa yang terjadi di masyarakat. Wallāhu A’lam.
Editor: Muhammad Faqih Nidzom

Info tentang Program Kaderisasi Ulama’

Lihat Juga

5 Comments

  1. Pingback: BÎMÂRISTÂN ABAD KEEMASAN

  2. Pingback: Penjajahan Opini

  3. Pingback: Menegaskan Kembali Makna, Urgensi dan Agenda Islamisasi Ilmu: Catatan Diskusi bersama Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

  4. Pingback: Melihat Agenda dan Peluang Riset Islamisasi Ilmu dengan Pendekatan Historis

  5. Pingback: Pesan Gubernur Anies Baswedan Untuk Generasi Millenial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *