afi.unida.gontor.ac.id-Sudah sejak jam 6 para wisudawan dan wisudawati memadati area depan masjid Jami’ Gontor. Seragam toga hijau. Terlihat di sana-sini, para wali yang membersamainya. Berfoto dan ber-selfi, momen ini memang mahal dan patut diabadikan didalam acara wisuda UNIDA Gontor.

Panitia Wisuda Unida Gontor telah mempersiapkan beberapa photobooth yang penuh nilai kreativitas dan berstandar profesional, dan yang lebih penting penuh nilai keikhlasan. Kopi “Syukron” sudah cukup mewakili dan turut andil meramaikan sumbangsih panitia. Terlihat photobooth dipenuhi oleh para wisudawati bersama keluarganya penuh perasaan bahagia tidak terkira.

Menjelang jam 7 lebih, panitia wisuda Unida Gontor telah menyiapkan barisan guna bersiap masuk aula. Acara di Gontor memang selalu tepat waktu. Akan tetapi Gontor selalu berusaha terdepan dalam perihal ikromu-l-dhoif , Maka acara akan dimulai setelah kedatangan tamu-tamu kehormatan pondok. Bahkan demi penghormatan kepada para tamu, among tamu alias penyambut para tamu adalah lulusan magister dan doktor.

Tak lama kemudian, MC memulai acara dan hentakan musik sebagai pengiring wisudawanpun mulai terdengar. Mengiringi langkah berat penuh amanat, ada peasaan bangga dan haru bercampur aduk. Tapi semua khusyu’ mengikuti dan menikmati alunannya. Satu demi satu, langkah peserta wisuda memasuki Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Wisudawan Strata 2 di barisan terdepan lalu diiikuti wisudawan Strata 1 kemudian wisudawati.

Setelah lengkap di BPPM, jajaran senat Universitas dan Badan Wakaf serta Pimpinan Pondok memasuki Aula. Semua berdiri menyambut. Para guru kami berbaris khusyu’. Terlihat Bapak Rektor, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, memasuki aula dengan khidmat dan diikuti jajaran rektor dan senat lainnya. Acara di Gontor, semua pihak berperan. Mendidik dengan menjadi contoh dan tauladan “Membuat miliu, bukan menjadi budak miliu” demikian ungkap KH Hasan Abdullah Sahal.

Baca Juga : Kiai Hasan: Wisuda UNIDA Gontor dan Keabadian Cita-cita Gontor

Rentetan acara berjalan khidmat. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan HymneOh Pondokku. Semua berdiri, gegap gempita, semangat sambil terharu. Sambil sibuk dengan refleksi masing-masing “Gontor, kami telah menjadi bagian darinya”. Wisuda adalah bukti penghormatan pondok terhadap ilmu. “Wisudawan yang ulama” begitu kira kira petuah para guru kami.

Laporan Rektor, pembacaan keputusan wisuda, hingga Pengukuhan; semua berjalan lancar. “Semua harus correct!” Begitulah nasehat KH Abdullah Syukri Zarkasyi dahulu. Hingga saat ini, nasehat itu membentuk etos kerja prima panitia. “Maka, semua serius. Tidak ada bisik-bisik, apalagi main HP. -SAKRALISASI – demikian Kiai Hasan (sebutan akrab bagi KH Hasan Abdullah Sahal) beliau sering menegaskan. ini semua demi pendidikan dan “Menjadi Mundzirul Qoum”.

Sambutan wakil Wali Wisudawan dan wakil Wisudawan semuanya penuh emosional. Perwakilan wali wisudawan adalah seorang alumni Gontor dari Jombang. “Dulu, saya lulus Gontor sudah yatim piatu. Sekarang, saya bahkan menyaksikan anak saya diwisuda.” Beliau berpidato sembari menahan lelehan air mata. Haru dan bangga bercampur aduk menjadi satu. Lulus Gontor saja tidak mudah, apalagi UNIDA. Skripsinya saja berbahasa Arab dan Inggris.

Wakil Wisudawan lebih emosional lagi. Wisudawan Pascasarjana PBA dari Kalimantan ini notabene memang penuh prestasi. beliau sempat menjadi wali kelas angkatan 689 Prestigious Generation yang mayoritas diwisuda hari ini. Muhammad Wahyudi, M.Pd menceritakan seluruh garis besar pengalaman kuliah beserta ‘drama’ nya. Semenjak mahasiswa/i guru hingga Mahasiswa/i kampus Siman dan Mantingan yang penuh kreasi karena sistem Universitas Pesantren. Sistem ini, dalam tataran sekolah menengah saja, sudah sangat menghasilkan. Bagaimana nanti sarjananya? “Yang penting Lillahi Ta’ala” begitu KH Syamsul Hadi Abdan sering menasehatkan.

Baca Juga : AFI RAIH HATRICK DI WISUDA 33; TERBAIK, TERCEPAT DAN TELADAN

Uraiannya padat, kata-katanya lancar mengalir. Selang-seling bahasa Arab dan Inggris yang fasih. Ustadz Wahyudi memang mantan LAC (Language Advisory Council) sebuah organisasi penggerak bahasa di Gontor. Notabena organisasi yang telah terbiasa mengkoordinir kegiatan dan disiplin bahasa pondok. Semenjak dari hulu ke hilir, bahkan hingga menjadi panutan para asatidz. Intonasi kadang meninggi dan rendah penuh emosional. Jika dicermati, sebagian besar narasinya berupa kutipan nasehat para guru: rektor hingga pimpinan.

Wisuda Unida Gontor

Seluruh hadirin kadang bertepuk riuh. Apalagi, saat disebut bagaimana serunya “Drama” pendaftaran online wisuda. Penuh lika liku dan drama, belum lagi perihal Lay Out skripsi dan tesis. Antri sana sini, ada yang hampir gagal dan putus asa. Sehingga, beberapa calon wisudawati; hampir tidak melanjutkan usahanya. Berkali-kali bolak balik ke kampus Siman. Berkorban biaya, waktu, dan tenaga. Tapi mereka militan dan luar biasa, calon ibu-ibu tangguh di masa depan, pantang menyerah yang terkenal dengan bahasa Al-Mukarrom Al-Ustadz Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A sebagai “Singa Betina”.

Namun, adakalanya rembesan air mata dan lirihan suara mulai tampak .Apalagi ketika diungkapkan betapa luar biasa perjuangan orang tua dalam mendukung secara moral dan materiil. Perjuangan guru-guru dalam mendidik para santri. Para dosen, bahkan doktor yang rela menunggu kami di ruang kuliah. Sedangkan kami? Masyghul atau hanya yahanu masyghul. Masih belum sadar,kala itu. Namun, doa beliau sekalian pastinya terus mengalir. Karena doa-doa tersebut adalah salah satu syarat keridhoanNya sehingga kami bisa menghadiri wisuda ini.

Para Kiai, badan wakaf, hingga senat dan jajaran Rektor. Semua terlihat terharu. Bahkan, beberapa di antaranya terlihat menyeka air mata dengan tisu atau tangan dengan wajah agak memerah. Haru dan bangga, serta teriring doa dan harapan besar. Perasaan mereka semua terbawa mengalir dan emosional menenangkan. Pidatonya memang bermutu dan berarti, berargumentasinya kuat, alurnya jelas dan runtut. Tepuk tangan riuh dan panjang mengakhiri uraiannya.

Pidato rektor dan pimpinan pun tidak kalah monumentalnya. Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi menyampaikan segala usahanya dan tim UNIDA dalam merealisasikan amanat Badan Wakaf; “Menjadi Universitas yang Bermutu dan Berarti”. Memperbanyak relasi, meningkatkan penelitian dan pengabdian masyarakat. Hingga berbicara prestasi dosen dan mahasiswa. Kala itu, pak kiai dan Badan Wakaf terlihat terharu. Apalagi, beberapa cita cita seperi Rumah Sakit Darussalam.

Pidato pimpinan? jangan tanya.Sangat berapi-api dan menggetarkan. Bahkan beliau sampai berteriak dan menggugah semua kesadaran kita. Sejuta harapan beliau kepada kami, Sejuta rintangan di depan. “Jangan tertipu! Jangan tertipu dengan ilmu-mu! Titel-mu! Kamu itu mahal! “ begitu beliau menekankan. Kami tersadar, di depan kami; perjalanan panjang. Bisa berakhir surga, atau neraka. Serasa ajaib, dada kami semua terasa terbakar. Bahkan menjadikan kami semangat akan melakukan banyak pekerjaan besar setelah ini.

Apalagi, sebelum itu kami mendengar orasi ilmiah Prof. Dr. Rochmat Wahab. Padat berisi. Penuh literasi akademik. Beliau menekankan, bahwa peningkatan sumber daya manusia sangatlah penting. Ada revolusi industri 4.0, ternyata bagi beliau, itu akan berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran karena tenaga kerja manusia ‘tersingkir’ oleh mesin dan otomatisasi. Mau dikemanakan manusia nya? Di Jepang terjawab : 30.000 orang lebih bunuh diri dalam setahun. Jepang, akhirnya mengkonsep revolusi industri 5.0; menekankan fungsi kualitas pelayanan berbasis manusia, maka; mesti didahului dengan pembinaan kecerdasan mental, etika. Teori pendidikan paling mutakhir justru begitu. Kajian dan penelitian, ‘wajib’ lintas perspektif. Tidak hanya satu-dua teori.

Agama Islam? Sudah lebih dulu menekankan ‘pembangunan manusia’ sejak tahun 800an. Anti mitos dan takhayul; kebodohan dan pembodohan;penjajah dan penjajahan; sangat memanusiakan manusia, dengan mengaktifkan akal sehat. Islam memang sudah ‘modern’ sejak awal dan akan modern selamanya. Sebagaimana pesan kiai Hasan : 5 hal yang akan menjadi warisan abadi; Islam dan keilmuannya, Al-Qur’an, Syariat Islam, Bahasa Arab, dan Iptek.

Terakhir, KH Syamsul Hadi Abdan memanjatkan doa yang begitu khusyu’. Syahdu. Acarapun berakhir; dan dimulailah foto foto bersama keluarga dan handai taulan. Bahkan, di sana sini perfotoan bersama angkatan, program studi, konsul, hingga teman sekamar dan lainnya. Wisuda Unida Gontor memang momen mahal. Prestise dan tidak ada yang tidak luar biasa. Bahkan, semuanya sukses karena keikhlasan, tidak ada seorangpun yang dibayar. Sepeserpun. Dari panitia hingga petugas MC, operator, fotografer, bahkan pembicara pun, tanpa amplop. Semua demi pendidikan. Dan inilah contoh pendidikan nyata ala Gontor.

Di bangku terdepan wisudawan putra. Bertoga Pascasarjana.
Pen : Muhammad Taqiyuddin, M. Ag – Dosen Direktorat Islamisasi
15 Dzulqo’dah 1440/18 Juli 2019
Ed: Nabila Huringiin

One Comment

  1. Pingback: Penjajahan Opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *