Jum’at, 2 Agustus 2019.-Pembukaan International Conference on Religious Issues in Indonesia and Malaysia. Di awali dengan kata sambutan oleh dekan Fakultas Ushuluddin, al-Ustadz. Syamsul Hadi Untung, M.A, M.Ls. Beliau menekankan bahwa tujuan di adakannya Konferensi ini adalah pemetaan problem dan tantangan umat Islam saat ini yang perlu dibicarakan untuk kemudian diselsaikan secara serius.

Isunya yang muncul kini sudah tentu sudah sangat beragam. Baik dalam segi Perspektif,  Teknologi, Pendidikan, Ekonomi dan lain sebagainya.

al-Ustadz. Syamsul Hadi Untung, M.A, M.Ls. Memberikan Kata Sambutan Pembukaan Acara ICRIIM

Dilanjutkan dengan kata sambutan dari Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. juga turut mengapresiasi pelaksanaan acara ini, apalagi ini adalah kali pertama rektor IIU Malaysia menghadiri acara di UNIDA Gontor ini.

Beliau menyampaikan bahwa problem Islamphobia yang melanda mayoritas Islam seperti Indonesia dan Malaysia tentu menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.

Kemudian beliau menimpali bahwa kini UNIDA Gontor yang sedang menuju wordclass university terhusus bidang Islamisasi Ilmu, tentu sudah lama berkomitmen di situ. Apalagi bisa berkontribusi dalam penyelesaian problem keumatan.

KH. Hasan Abdullah Sahal Memberikan Kata Sambutan

Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal juga turut hadir dalam kesempatan ini.  Dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa;

“Permasalahan umat Islam kita ini adalah internal dan eksternal. Saat ini, kita terlalu banyak ‘berselimut’ dan kurang memberikan peringatan. Dunia ini sudah bengkok, malah semangkin dibengkokkan dan kita sudah terbiasa dengan kebengkokan itu. Bahkan,  adanya upaya persekongkolan yang diciptakan untuk menghancurkan Islam dan Rukunnya”.

KH. Hasan Abdullah Sahal

Lantas, uraian beliau di akhiri dengan doa’.

Prof. Emeritus Tan Sri Dzulkifli Abdul Razak selaku pembicara pertama dalam acara ICRIIM

Pada sesi pertama pada acara International Conference on Religious Issues in Indonesia and Malaysia (ICRIIM), Prof. Emeritus Tan Sri Dzulkifli Abdul Razak, selaku Rektor International Islamic University (IIU) Malaysia. Menjadi pembicara pertama yang menyempaikan tanggapan umat Islam dari perspektif Revolusi Industri.

Point terpenting, bahwa peningkatan dan pertumbuhan ekonomi dapat ‘membunuh’ dunia kita.

Beliau memaparkan sejarah revolusi industri, serta peningkatannya yang luar biasa saat dimulainya digitalisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Dalam perspektif Barat, kemajuan selanjutnya diramalkan dalam bentuk post-human, yakni manusia dan segala fungsinya digantikan oleh mesin dan biomedikal.

Yakni, selanjutnya manusia dikendalikan oleh mesin. Perang pun akan demikian; mesin dan robot, tanpa manusia. Kita bisa ingat novel ‘Ghost Fleet’.

Dalam perspektif Islam, tentu ini menghilangkan mulai aspek kemanusiaan dan amanat (trusteeship), manusia itu sendiri.

Sebenarnya, kerusakan ini telah diprediksi ahli ekologi dan geologi manapun: peningkatan penggunaan bahan bakar fosil, polusi alam, hingga munculnya global warming. Tentu saja, setelah itu, Barat mengembangkan ‘hukum alam universal’ yakni green teknology dengan tujuan menjaga alam.

Namun hal tersebut sejatinya masih problematis, karena ‘menyelamatkan dunia’ dengan tanpa memaksimalkan peran etika dan hukum yang sesuai dengan fitrah manusia.

Di sinilah tantangan itu muncul: revolusi industri, meski menuju ‘teknologi hijau’ dan ‘terbarukan’ namun dasar epistemologisnya sekuler; tanpa orientasi akhirat dan nyaris tanpa agama. Dunia akan terus berevolusi. Tak ada kebenaran yang permanen. Yang permanen hanyalah evolusi dan perubahan, baik alam maupun sosial.

Revolusi tersebut menganggap bahwa manusia sudah tidak memerlukan etika berteknologi, berekonomi, politik, dan lainnya. Asal baik dan tidak ‘menyalahi alam’ tentu sudah benar.

Tentu, yang terjadi adalah menyalahi fitrah manusia, yakni menuju relativitas moral; teknologi dan manusia tanpa Tuhan.

Linear dengan tantangan di atas, Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, selaku pembicara kedua dalam sesi ini ‘membaca’ fenomena ini dalam bentuk munculnya Islam Liberal.

Dr Hamid Fahmy Zarkasyi memaparkan presentasinya dihadapan hadirin ICRIIM

Islam liberal memang ‘asli’ Barat; meski mereka klaim bahwa para sahabat Nabi adalah liberal karena menggunakan rasio dan pertimbangan empiris dalam membangun peradaban Islam.

Yang menarik, kemunculannya seperti terinspirasi oleh tragedi 9/11 2001 di menara kembar Amerika. Stateginya, terjadi penyebaran wacana tentang pembagian Islam menjadi radikal/konservatif dan Liberal/progesif serta lainnya.

Ide tersebut secara masif tersebar melalui berbagai wacana: pendidikan, tren kajian kampus khususnya kampus negeri, LSM, dan lainnya.

Pemikir muslim liberal pun menjadi laris. Pemikirannya dikaji dalam berbagai seminar, paper, dan buku populer lainnya. Dana? Masih tidak jauh dari RAND Corporation Amerika, dengan Angel Rabasa sebagai tokohnya. Kajian tersebut bahkan merasuk ke dalam kurikulum beragam universitas.

Kajiannya bermula dari logika relativitas; ‘tidak ada kebenaran mutlak, kecuali hanya Tuhan dan manusia hanya relatif’. Dimulai dari titik ini lah, otoritas ulama di gugat: ulama juga manusia, dan relatif. Tidak mutlak seperti Tuhan.

Maka hasil ijtihad dan pemikirannya pun boleh di-dekonstruksi. Bahkan lebih jauh, semua agama menjadi sama, asal menjaga kedamaian dan etika sosial.

Pemikiran tersebut tidak hanya rancu, namun juga menggerus iman dan menafikan amar ma’ruf nahi munkar, serta dakwah dalam Islam. Alasannya; semua agama adalah benar. Sama-sama dari manusia yang pikirannya berasal dari Tuhan yang sama juga. Jika demikian adanya, lantas apa lagi yang perlu ditoleransi?

Isu lainnya adalah gender. Makna gender sejatinya di anggap berdasarkan konstruksi sosial. Manusia menjadi laki-laki atau perempuan karena masyarakat sosial menganggapnya demikian. Maka, boleh saja menikahi laki-laki yang di anggapnya perempuannya, karena yang disebut suami itu tidak mesti laki-laki, istri juga tidak mesti perempuan. Sangat komplikatif!.

Statemen demikian justru muncul dari seorang sarjana muslim, berhijab, bahkan juga rajin sholat. Tentu ajaib. Di sinilah kesimpulannya; framework dan kerangka kerja metodologi Islamnya keliru (salah) dan perlu diperbaharui melalui tajdid. Yakni; Islamisasi metodologi, sebelum Islamisasi pengetahuan.

Reporter: Muhammad Taqiyuddin
Editor: Joko Kurniawan

One Comment

  1. Pingback: Outcome Based Education (OBE): Arah Baru Kurikulum Program Studi, Berikut Tiga Poin Inti pada Lulusannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *