afi.unida.gontor.ac.id – Pada hari Ahad lalu (5/8/2019), Ustadz Muhammad Faqih Nidzom, dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, dihubungi salah satu anggota komunitas FOKUS, Forum Komunikasi Ushuluddin kampus Rabithah UNIDA Gontor. Disitu, beliau diminta untuk mengisi kajian bertajuk “Sekilas tentang Tasawuf Modern Buya HAMKA” bersama mahasiswa-guru Gontor.

“Saya langsung mengiyakan. Bagaimana tidak, dengan kesibukan di pondok Gontor yang sangat padat, teman-teman tetap semangat untuk mengadakan acara ini,” ujar Ustadz Faqih memulai.

Selama ini beliau dalam beberapa kesempatan memang sering memberi motivasi mahasiswa untuk selalu menghidupkan budaya baca dan diskusi, Maka, ungkap beliau, beliau sendiri harus menjadi contoh yang baik.

Walakhir, dengan terbatasnya waktu dan sarana, acara yang diadakan di Masjid Pusaka Gontor, bakda Maghrib tepat ini berjalan lancar, dengan diikuti sepuluh orang peserta. Banyak hal telah didiskusikan bersama.

Usaha Menjernihkan Hati dan Pikir

“Sekarang mengertilah kita, bahwa segala sesuatu di dalam alam ini baik dan buruknya bukanlah pada zat sesuatu itu, tetapi pada penghargaan kehendak kita atasnya, menurut tingi rendahnya akal kita.

“Apalah gunanya pena emas bagi orang yang tak pandai menulis? Apalah harga al-Qur’an bagi seorang Vrijdenker? (tidak beragama). Apalah harga intan bagi orang gila? Sebab itulah kita manusia disuruh membersihkan akal budi, supaya dengan dia kita capai bahagia yang sejati.”

Baca juga : KITAB AL-HIKAM, PENUH RIMA KAYA MAKNA

Di atas adalah diantara kutipan menarik yg perlu kita renungi utk perjernihan hati, selain yg tertulis di sampul belakang buku Tasawuf Modern karya ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia ini. Di dalamnya akan kita dapati uraian Buya tentang metode meraih kebahagiaan hakiki, yang bermula dari olah pikir, olah dzikir, olah rasa dan tentu, olah hati.

Hamka Membaca Buku ini selama masa tahanan

Buku ini sangat bermanfaat untuk kita, bahkan termasuk paling terbaik, sebagaimana diungkap oleh penulisnya sendiri. Tentu kita ingat, Buya pernah dijemput dengan paksa, tepatnya 27 Januari 1964, dengan tuduhan berkhianat kepada negara. Kemudian ditahan, diinterogasi dengan cecaran beribu pertanyaan tiada henti, selama 15 hari.

Baca juga : Mengenal Kembali Buya Hamka

Di saat-saat yang berat itu, pemilik nama lengkap Haji Abdul Malik bin Karim Amrullah ini teringat akan bukunya. Ia berpesan kepada putranya agar dibawakan kepadanya buku tersebut ketika membesuk kembali.

Untuk apa? Agar Buya bisa membacanya kembali di samping membaca Al-Qur’an selama di penjara. Suatu ketika, ada teman Buya melihatnya keheranan. Ketika menanyakan perihal tersebut, Buya menjawab dengan tulus:

“Memang! Hamka sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri, sesudah selalu memberikan nasihat kepada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah banyak orang memberitahukan bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca Tasawuf Modern ini,” tutur Buya dalam mukaddimah bukunya.

[Reporter: Muhammad Faqih Nidzom]

2 Comments

  1. Pingback: Yang mengeluh dan Tersentuh

  2. Pingback: MEMBACA MAQAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *