Tidak banyak potret keluarga idaman yang termaktub dalam al-Qur`an, namun keluarga Nabi Ibrahim merupakan salah satu potret keluarga yang dipilih. Keluarga kecil ini lebih banyak dikenal karena kisah pengobananya di atas rata-rata pengabdian manusia umum. Tidak salah, perjalanannya diabadikan dalam manasik haji dan menjadi hari raya umat Islam yakni hari raya Idul Adha; hari raya kurban. Keluarga ini juga dipilih melahirkan para nabi, mewariskan nasab kerasulan. Istimewa. Nah, bagaimanakah potret pendidikan keluarga ini ?. berikut diantaranya;

Bertauhid

Pertama, Tentang materi. Hal pertama yang derikan adalah menanamkan tauhid hingga ke akar jiwa. Sebelum berkeluarga, Ibrahim Muda  terkenal sebagai pemuda gagah berani yang melawan arus pemikiran musyrik saat itu. Berhala yang menjadi simbul paganisme diruntuhkan. Sikapnya ini sebebenarnya bisa mengancam jiwanya. Selain berani, ia juga pemuda cerdas dan penuh perhitungan. Putra Azar ini melawan arus masyarakat pagan waktu itu. Ia tidak perduli dicap pemuda durhaka, walaupun diam-diam ia memintakan ampunan untuk orang tuanya.

Ia sering berdialog dengan penguasa. Api Namrud juga ingin menghanguskan kulitnya hidup-hidup, tapi ternyata tunduk pada perintahnya; Jadilah engkau dingin!. Dialog ketuhanan dengan raja juga dipersiapkan. “Tuhanku mampu menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkanya di barat, maka silahkan dibalik jika mampu” (al-Baqarah: 258). Dialog ini sempat menjadi trending di kalangan kafir waktu itu.

Ketika menjadi kepala rumah tangga, tauhid inilah yang benar-benar ditanamkan kepada keluarganya. Banyak ayat al-Qur`an mengabadikan  prinsip pendidikan ini. Kata nabi Ibrahim  kepada putranya“ jangan sampai kalian meninggal dunia kecuali dalam kondisi mejadi seorang muslim, fala tamutunna illa wa antum muslimun” (al-Baqarah: 132). Sebaliknya, beliau juga mewanti-wanti agar tidak berpaling mengabdi kepada selain Allah, “jauhkanlah diriku dan keturunanku dari menyambah berhala” (Ibrahim: 35) Urusan tauhid ini memang urusan yang tidak bisa ditawar-tawar. 

Tauhid dalam Islam berperan sebagai pandangan hidup yang bisa mempengaruhi seluruh aktifitas manusia. Para filosof barat pun mengakui, ada keyakinan dasar yang biasa disebut basic belief atau asumsi dasar yang menjadi poros tindakan manusia.  Dengan ini manusia mampu membedakan yang benar dan yang salah. Disinilah, letak pentingnya mengapa tema ini menjadi pertama dan utama yang harus ditanamkan dalam pendidikan keluarga secara khusus dan pendidikan secara umum.

Baca juga IDUL ADHA; MOMENTUM PENGORBANAN EGOSENTRIK REALIS MENUJU KEIKHLASAN HIKMATIS

Tauhid saja belum cukup, harus juga ditanamkan bagaiamana aktifitas ibadah manasik yang benar. Dalam hal ini Nabi Ibrahim selalu meminta pentujuk kepada Allah; “tunjukkalkah kepada kami bagaimana cara beribadah kami” (al-Baqarah: 128). Ibrahim AS mengajarkan bagaimana tata cara menyembah kepada Allah dengan benar. Sifat ibadah ini memang sudah diatur sedemikian rupa, sehinga tidak boleh berkreasi.

Diantara bentuk yang paling ditekankan Nabi Ibrahim kepada keluarganya adalah shalat dan haji. Bukan hanya mengerjakan shalat tapi juga melaksanakan nilai-nalai yang tekandung dalam shalat. Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga keluargaku” (Ibrahim: 40). Shalat inilah yang membedakan orang Islam dan kafir. Dalam sebuah keterangan dan beberapa kisah yang sudah terbukti, jika doa Nabi Ibrahim ini terus dipanjatkan, maka anak-anak akan mudah menjalankan shalat bahkan tanpa disuruh, sebagaimana Ismail AS.  

Uswah dan pembiasaan

Kedua, selain tema penting, sisi menarik lainya adalah bagaimana cara mendidik keluarga. Diantara nilai yang sangat kental cara Nabi Ibrahim mendidik, beliau selalu mengikut sertakan putranya dalam setiap aktifitas. Putra Ibrahim juga menjadi partner terbaik dalam semua kegiatan.  Sebut saja, beliau berdua yang membangun ka`bah, mengurus dan menjanganya bersama-sama (al-Baqarah: 125,127). Inilah makna penting regenerasi. Estafet pengemban dakwah senantiasa silih berganti. Tanpa regenerasi, nilai-nilai tauhid akan mandek. Beda masa beda pula tantangannya.  

Baca juga KENAPA KITA DI ANJURKAN UNTUK MELAKSANAKAN AMALAN PUASA SUNNAH TARWIYAH DAN ARAFAH?

Bahkan dalam berzikirpun kedua insan shalih ini bersama-sama. hal ini terlihat dalam kisah pembacaan takbir. Karena rasa ta`jub pada Iman kedua Nabi ini Jibril melafadzkan takbir, “Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar”. Kemudian Nabi Ibrahim Menjawab dengan Tahlil dan takbir, “La ila ha illa Allah Allhu Akbar”. Lalu Nabi Isma`il bertakbir mengagubgkan asma Allah dan bersyukur dengan tahmid. “Allahu akbar walillahi al-hamdu”. Sayyidina Umar Bin Khattab, Kalimat Allau Akbar,lebih baik dari seluruh dunia dan isinya (Ibn Rajab, al-Fath, 8/9).

Memilih tempat dan do`a

Ketiga, Selain itu, menempatkan putra di lingkungan yang baik juga menjadi metode dan cita-cita Nabi Ibrahim. Makkah adalah tempat yang dipilih Ibrahim dalam menggembleng putra dan semua keturunanya.  Tempat ini dulunya adalah tempat yang sulit dijangkau manusia karena tidak ada sumber air, namun menyimpan nilai spiritual yang tinggi karena berada di dekat rumah Allah.  Inilah pendidikan jihad yang sebenarnya, bukan hanya teori tetapi Siti Hajar dan putranya benar-benarnya terjun ke medan seperti shafa dan marwah. Disisi lain, mereka tetap menegakkan shalat. Keluarga Ibrahim benar-benar mampu merubah kondisi makkah menjadi daerah berpengaruh.

Senjata pendidikan terakhir Ibrahim adalah doa. Al-Qur`an menyebutkan banyak sekali doa-doa beliau. Hanya do`a  yang selalu ia panjatkan. Jika diperhatikan, Ibrahim selalu menyapa keturuanya dalam kebanyakan permohonanya.“Jadikanlah kami berdua orang yang  berpasrah kepada-Mu, juga keturnan kami”, “Jadikanlah aku pendiri Shalat juga keturunanku”, “Jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala”, “ ya Tuhanku, jadikanlah negeri  ini negeri yang makmur, berikanlah rizki yang melimpah”. Do`a adalah permintaan yang berisi kepasraan, pengaharapan dan optimisme tinggi.

Begitulah secuil potret pendidikan keluarga Nabi Ibrahim, maka pantaslah Allah swt meminta menjadikanya contoh ideal. “Sungguh telah ada untuk kalian teladan yang baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya” (al-Mumtahanah: 4)

Pen : M. Isom Mudin, M.Ud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *