afi.unida.gontor.ac..id – Bukan hal yang asing ketika istilah “singa betina” dikaitkan dengan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Tentunya terminologi tidaklah bersifat “suka-suka” atau hanya sebutan istilah tanpa makna. Mengapa harus singa dan mengapa dikaitkan dengan betina?, beberapa dari kami pun tidak tahu secara pasti makna dan alasan mengapa alumni Gontor Putri dikaitan dengan istilah tersebut.

Seperti yang kami pernah tahu dan dengar, bahwa para pendahulu dan perintis Gontor Putri diberi amanah untuk mengelola Pondok Modern Gontor versi Putri. Mengelola dan membentuk sistem pesantren putri tanpa melepaskan atau mengubah nilai-nilai inti dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Bukan hal yang mudah akan tetapi jika semua dikembalikan kepada ibadah, maka beban seberat apapun akan tetap ringan dan penuh berkah.

Al-Ustadz KH. Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A pernah menasehati kami bahwa sebutan paling tepat bagi para alumni Gontor Putri adalah “Singa Betina”. Mengapa demikian?, “Karena Singa Betina diciptakan untuk Singa Jantan, bukan biri-biri” pernyataan ini sekaligus sebagai nasehat bahwa jadilah “Singa Betina” agar mendapatkan “Singa Jantan” bukan “Biri-Biri. Lalu beliau meneruskan “walaupun kalian Singa, kalian tetap betina yang bertugas mendidik, mengasuh dan mencetak generasi singa; akan tetapi … ketika kalian harus mengaum dan menerkam, kalian tetap harus siap dan mampu melaksanakannya.”tegas beliau sembari menyelesaikan kalimatnya.

Baca juga : Ustadz Hidayatullah : Ilmu itu Penting

Begitulah santriwati, mahasiswi, dan segenap dosen-dosen putri bahkan sayyidat madamat yang ada dibawah naungan Pondok Modern Darussalam Gontor. Para Srikandi-srikandi pejuang yang berjuang diladang perjuangan yang bermacam-macam. Selalu diingatkan dengan istilah Singa Betina, disatu sisi Singa tapi juga Betina, disatu sisi Betina tapi tetap Singa. Sehingga para alumni tidak akan lupa dengan fitrahnya sebagai perempuan yang notabene “Arrijalu qowwamuna ala-nisa”. Se-singa apapun akan tetap selalu betina yang ada dibawah perlindungan Singa jantan. Maka, akan sangat mudah digambarkan bahwa Pondok Modern Darussalam mencetak kader-kader pejuang umat, bangsa dan Negara baik putra atau pun putri sesuai ladang perjuangan masing-masing.

Jika dicermati lebih jauh lagi, Istilah Singa Betina mempunyai visi dan misi luar biasa bagi pembangunan sebuah peradaban. Karena ikatannya erat dengan seorang “tokoh” “pendidik” “pejuang” “pengasuh” dan “ibu”. Seperti yang kita banyak belajar, ibu adalah “madrasah al-ula” bagi para anak-anaknya. Maka, seorang ibu harus “baik” secara lahir dan batin. Mengapa? Karena anak-anak akan bersekolah, meniru, mencontoh dan menuntut ilmu darinya.

Baca juga PARA SUAMI, DI MATA PARA ISTRI

Mental dan karakter seorang ibu akan berpotensi besar terhadap kecenderungan-kecenderungan anak-anaknya. Ibu yang baik akan melahirkan anak-anak yang selalu berpotensi untuk menjadi baik. Ibu yang rajin shalat tahajud akan menghasilkan generasi-generasi yang betah bangun malam. Ibu yang gemar puasa maka akan menciptakan anak-anak yang hobi puasa. Ibu yang dekat dengan Al-Qur’an maka akan mencetak generasi-generasi yang nyaman dekat dengan Al-Qur’an.

Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan tumbuh dan berkembangnya anak juga turut mempengaruhi pembentukan mental dan karakter. Akan tetapi “kecenderungan” tersebut hanya bisa diturunkan dari kedua orangtua, baik sosok ayah ataupun ibu. Ikatan seorang ibu dan anak bukanlah ikatan biasa yang bisa diterangkan dalam satu lembar artikel ilmiah semata. Ikatan yang dimulai dari sembilan bulan kandungan, dua tahun masa menyusui ditambah masa-masa tumbuh berkembang seorang anak; akan menghasilkan ikatan kuat yang tidak akan mampu dijelaskan secara singkat. Maka tidak heran Ibu memberi banyak pengaruh kepada pembentukan karakter dan mental seorang anak.

Maka tidak heran, jika para alumni putri kerap dikenalkan dengan istilah “Singa Betina”, selain sebagai doa dan motivasi. Hal tersebut juga menjadi “alarm” bahwa menjadi perempuan berarti mempunyai banyak hal yang harus diperjuangkan dan dipertanggungjawabkan. Maka, harus selalu berhati-hati ketika bersikap, bercakap dan berbuat. Mengapa? Karena “Singa” selalu berhati-hati dalam menentukan langkah dan sikap. Wallahu A’lam Bisshawab

Pen : Nabila Huringiin

4 Comments

  1. Pingback: Gender dan Pemberdayaan Wanita Perspektif KPPPA

  2. Pingback: Bahas Papua dan Ibu kota, Mahasiswa AFI langsung ke Istana Wapres

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *