Oleh: Muhammad Faqih Nidzom

afi.unida.gontor.ac.id – Nilai kebebasan yang diajarkan dan diamalkan oleh Gontor itu -sebagaimana sering disampaikan para guru kami dan sepemahaman saya- bermuatan filosofis tinggi, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.Jiwa kebebasan ini lahir dalam kerangka epistemik Islami, dengan landasan utama Al-Qur’an dan Sunnah, dengan trilogi iman-ilmu-amal sebagai penopangnya. Selain mengajarkan memilih yang baik (ikhtiyar), ia juga selaras dengan fitrah manusia, dan mengakui adanya kemampuan dan kehendak manusia untuk memilih dan berbuat, tapi hendaknya memilih yang baik dan benar.

Mari kita simak penjelasan dari Trimurti tentang makna kebebasan berikut: “Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan.” (Lihat https://www.gontor.ac.id/panca-jiwa)

Baca juga Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi: Kompetensi yang Dibutuhkan Dunia ada dalam Panca Jiwa

Adapun terkait makna motto berpikiran bebas, Gontor dengan tegas menyebut, “Berpikiran bebas tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan di sini tidak boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk ilahi (hidayatullah). Motto ini ditanamkan sesudah santri memiliki budi tinggi atau budi luhur dan sesudah ia berpengetahuan luas”. (Lihat: https://www.gontor.ac.id/motto).

Menggali Sebongkah Makna Kemerdekaan dari Jiwa Kebebasan Gontor
Pasukan Pengibar Bendera, Resimen Mahasiswa dan Segenap Jajaran Rektor bersama Prof. Martin berfoto bersama

Jika konsep seperti ini diamalkan dengan baik, maka akan membawa pada kemaslahatan kepada kita, terutama penghuni dan alumni pondok. Namun jika salah dipahami, maka akan lahir kerancuan dan kerusakan, baik dalam aqidah, pemikiran, dan perbuatan.

Untuk itulah dalam penjabaran makna motto berpikiran bebas, Gontor mengingatkan sebagai berikut:

“Maka kebebasan ini harus dikembalikan ke aslinya, yaitu bebas di dalam garis-garis yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat.”

Baca juga KEMERDEKAAN INDONESIA DITINJAU DARI FILOSOFI JAROSY

Saat ini Gontor telah dan terus berusaha untuk menjamin konsep kebebasan ini selalu dipahami secara Islami. Pondok secara kelembagaan juga mengatur agar konsep tadi diamalkan dengan benar oleh segenap santri dan alumninya, dimana ia didukung dengan disiplin dan kurikulum, tertulis maupun tidak, yang mandiri dan kokoh.

Disini tepatlah Dr. Syamsuddin Arif ketika menulis, “Dalam tataran praktis, kebebasan sejati memancarkan hikmah (kebijaksanaan) dan memantulkan ilmu dan adab. Kebebasan individu seyogyanya dipandu oleh hukum dan hikmah, agama dan etika supaya tidak merusak tatanan kehidupan. Supaya membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat”. (Islam dan Diabolisme Intelektual, hal. 170).

Jiwa inilah yang membuat Gontor merdeka. Dalam artian ia mampu secara mandiri untuk memilih falsafah dan praktik pendidikannya sendiri, tentu yang terbaik sesuai dengan ijtihad para pendiri dan penerusnya, dan tidak mudah diintervensi oleh pihak luar.

Dalam hal ini, bapak Pimpinan Gontor, Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal dalam beberapa kesempatan sering mengingatkan, “Keterbukaan yes, Intervensi no!”. Prinsip ini tentu merupakan manifestasi kongkrit dari makna kebebasan dan kemerdekaan yang benar, jasmani dan rohani, fisik dan pikiran, sehingga sangat relevan untuk kita hayati dan amalkan. Wallahu A’lam.

One Comment

  1. Pingback: Nasionalisme : 17 Agustus Harga Mati !! Peringatan 17 Agustus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *