afi.unida.gontor.ac.id Tidak ada yang meragukan akan manis dan indahnya cinta, begitu juga pahit dan getirnya perjuangan. Dua kekuatan inilah yang Mbah Pram coba adukan untuk menarik jiwa dan akal budi para pembacanya dalam serial tertraloginya yang diawali oleh Bumi Manusia.

Novel yang dulu pernah dilarang di Orde Baru ini, dimana kemudian diangkat ke layar lebar memang mempunyai kesan tersendiri, mengingat perbedaan antara bacaan dan tontonan. Disinilah sejatinya letak titik krusial sebuah karya yang bergantung pada otoritas sang maestronya untuk dapat menyusun alur cerita dan adegannya agar dapat membawa penikmatnya masuk kedalam dunianya.

“Orang yang beadab tak melulu lahir dari orang yang beradab”
Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

Dengan disutradai oleh Hanung Bramantyo, sebuah nama yang cukup masyhur dalam dunia perfilman negeri ini tentu para pembaca Mbah Pram bisa sedikit lega. Mungkin sebagian anak muda ada yang sedikit gusar dengan Iqbal sebagai pemeran Minke dalam film tersebut, mengingat karakternya yang sudah begitu lekat dengan sosok Dilan. Namun, terlepas dari itu Iqbal sudah cukup profesiaonal untuk dapat memerankan sosok Minke yang lugu dan cerdas.

Dalam narasinya, Mbah Pram menggambarkan pergulatan dua insan yang berpadu kasih (Minke dan Annelies) dengan berbagai kompleksitas, kontradiksi, ambiguitas dan problematika hukum lokal, Islam dan kolonial.

Ada juga tokoh kunci lain dalam film ini yaitu sosok Nyai Ontosoroh sang ibu Annelies sebagai orang berwibawa, kaya raya yang bersuamikan orang eropa, namun juga hina disisi lain dengan gelar Nyai yang dalam stigma masyarakat pada zaman tersebut adalah seorang gundik. Disinilah problem itu muncul dimana Minke yang kemudian jatuh cinta dengan sang Annelies, dihadapkan dengan kematian mengenaskan sang ayah Annelies.

Mengingat besarnya nama keluarga ini, maka banyak tuduhan-tuduhan yang kemudian menyerang tiga tokoh ini, dimana Minke dianggap bersekongkol dengan sang Nyai yang bertanggung jwab atas kematian korban. Disinilah watak ketokohan Minke kemudian ditampilkan sebagai seorang pribumi terpelajar untuk dapat menyeleasikan fitnah yang telah menyebar, isu ini juga semakin memanas karena Minke sendiri juga merupakan anak dari sang bupati.

Baru sejenak masalah ini tuntas dengan pengakuan kupu-kupu malam, Minke pun melangsungkan pernikahannya dengan bahagia, namun bola barupun segera datang, dimana setelah mereka sah, sang anak dari istri pertama sang ayah Annelies ingin mengajukan gugatan atas hak milik berbagai properti peninggalannya, bahkan malangnya hal ini juga berimplikasi pada hak asuh Annelies yang dianggap tidak sah dengan ibu pribuminya. kisah di novel pertama ini kemudian berakhir dengan hengkangnya sang Annelies yang baru saja menjadi pengantin baru ke negeri belanda mengikuti surat hukum dan keputusan yang digugatkan.

Film yang diadaptasi dari novel ini memang cukup menggugah para penikmatnya, meski juga tidak lepas dari kekurangan. Seperti halnya improvisasi atau adegan tambahan yang tidak ada di novel, seperti adengan tidak senonoh sang Minke dan Annelies. 

Sebuah karya yang berkualitas tidak hanya menghibur penikmatnya tapi juga memberikan pelajaran dan memperdalam pemahaman mereka. Diantara pelajaran yang bisa diambil dari film ini adalah, gagasan sang penulis mengenai makna kemodernan yang termanifestasikan dalam sosok manusia yang beradab (civilized person) dan berpikiran luas. Dengan demikian kemodernan sebenarnya bukanlah dinilai dari pakaian, teknologi, budaya yang lahir dari rahim orang eropa yang identik dengan superioritas dan rasisme.

Inilah yang dimaksudkan oleh Mbah Pram dengan pernyataannya yang berbunyi “orang yang beradab tidak harus lahir dari orang beradab (Eropa)”. Setidaknya meski makna adab yang dimaksudnya masih terkesan humanis, ia dapat menyadarkan kita bahwa Eropa dan Barat tidak lepas dari barbarianisme, seperti halnya yang paling menonjol yaitu rasisme.

Pelajaran lain yang bisa kita ambil adalah mengenai makna orang berilmu yang dikatakan oleh Jean teman dekat minke bahwa “orang yang berilmu adalah orang yang sudah suci dari perkataanya dan perbuatannya”.      

Nasehat Nyai Ontosoroh juga patut diambil hikmah yaitu saat ia mengatakan pada Minke “berbahagialah orang yang makan dari keringatnya sendiri”.

Ibu Minke juga punya kata-kata inspiratif saat menasehaati Minke yaitu: “Dunia akan memberi apapun kepada siapa yang ingin tau dan menerima”.

*Review ini telah didiskusikan bersama oleh mahasiswa AFI/5 (Choirul Ahmad, Hanif Maulana Rahman, Riza Reyhan Fairuzzaman, Gigih Nuriel Kautsar, Maulidin Baharsyah, Abdul Fattah bin Kamaruddin, Happy Johan, Alfi Huda dan Muhammad Yusuf) setelah menonton film yang berkaitan. 

Baca Juga :

3 Comments

  1. Pingback: Dilema Film Religi Tantangan bagi Sineas Muslim: Sebuah Opini

  2. Pingback: Film Islami itu Islami? Dilema Film Religi, Tantangan bagi Sineas Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *