Oleh: Muhammad Faqih Nidzom
Dosen Islamisasi Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id-Di dapan para mentor diskusi mahasiswa, Jum’at malam (23/08/2019), Ust. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menegaskan kembali makna gagasan Islamisasi ilmu, yaitu proses yang dimulai dengan Islamisasi cara berfikir dan cara pandang terhadap segala sesuatu. Sebab yang dimaksud ilmu pengetahuan adalah apa yang terdapat dalam hati dan pikiran, bukan yang berada di luar keduanya (al-‘ilmu fi al-sudur la fi al-sutur).

Dalam salah satu makalahnya, Ustadz Hamid juga mengutarakan pendapat Prof. al-Attas bahwa ilmu merupakan suatu sifat jiwa yang rasional (al-nafs al-nāthiqah), ketika jiwa itu memahami makna dari suatu obyek pengetahuan, yaitu pada saat orang yang mengetahui itu dapat meletakkan obyek itu secara benar atau menghubungkan secara tepat dengan elemen-elemen kunci dalam pandangan hidupnya.

Konsekuensi logisnya, jika asumsi dasar dan cara berpikir saintis itu sekular dan dualistis, misalnya, maka makna realitas yang tertangkap di jiwanya pun akan sekular. Seperti yg terlihat dlm konsep manusia, konsep jiwa, konsep alam dsb di Barat. Inilah yang perlu diislamkan.

Baca Juga: Mengkaji Asas Peradaban Ilmu dari Ismail Raji al-Faruqi

Senada dg itu, Prof. Al-Attas pernah manyampaikan: “Kami tegaskan bahwa agama tidak bertentangan dengan sains. Tetapi ini tidak berarti bahwa agama menyetujui metodologi dan filsafat sains modern. Dikarenakan tidak ada ilmu yang bebas nilai, maka kita harus cerdas meneliti dan mempelajari kesimpulan-kesimpulan dan nilai-nilai yang melekat pada, atau disesuaikan dengan, presuposisi dan interpretasi sains modern.”

Dalam kerangka ini definisi Islamisasi Prof. Al-Attas menjadi mudah untuk kita mengerti posisinya. Yaitu sebagai pembebasan akal-pikiran manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dg Islam), serta membebaskan manusia dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakekat diri atau jiwanya.

Ustadz.-M.-Faqih-Nidzom-sebagai-pembawa-acara-diskusi-tentang-Islamisasi-bersama-Dr.-Hamid-Fahmy-Zarkasyi

“Dengan demikian, Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asal atau fitrahnya, sehingga darinya akan keluar produk konsep dan ilmu yang benar”, imbuh direktur INSISTS ini.

Ya, akal pikiran manusia lah yang akan bertindak sebagai cara pandang dan yang menginterpretasikan realitas dan fakta. Untuk itu ia harus jernih, sesuai fitrahnya, dan terbebas dari gangguan yang bisa membuat keliru dan menyimpang dari aslinya, sehingga darinya akan keluar produk konsep dan ilmu yang sejati.

Baca Juga: Tawaran Solutif Menjawab Problematika Umat di Era Kontemporer

Karena kini ilmu yang berada dalam pikiran umat Islam diwarnai oleh pandangan hidup Barat, maka proses Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer berarti memasukkan pandangan hidup dan konsep-konsep penting dalam pandangan hidup Islam ke dalam pikiran umat Islam, untuk menggantikan konsep-konsep Barat yang tidak sejalan dengan Islam.

Dari sini juga bisa dimengerti bahwa gagasan ini bergerak pada ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer, dan ia tidak bisa diartikan sebagai Islamisasi teknologi atau produk teknologi.

Contoh Kasus Islamisasi Ilmu

Bisa kita simpulkan, secara teknis Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer akan berfokus pada Islamisasi worldview; berupa asumsi dasar, presupposisi dan metodologi kajian sains dan ilmu-ilmu sosial.

Sebagai contoh, Ustadz Hamid menggambarkan penelitiannya tentang konsep Kausalitas Imam al-Ghazali, dimana beliau berfokus pada pengislaman asumsi dasar, presupposisi dan metodologi salah satu kajian sains alam. Beliau dengan teliti menghadirkan pemikiran religio-saintifik Imam al-Ghazali, dan ditelaah dengan perspektif Worldview Islam Prof. al-Attas. (Lihat di buku Kausalitas: Hukum Alam atau Tuhan, Ponorogo: Unida Gontor Press, 2018)

Dalam kasus api membakar kertas, misalnya. Apakah itu merupakan hubungan sebab-akibat yang pasti (necessary)? Lantas, apakah api berkehendak, seperti yang diasumsikan saintis Barat? Tentu tidak. Hal itu, menurut Ustadz Hamid, adalah sunnatullah yang dititipkan dalam alam. Adapun kausalitasnya, tetap bergantung dan sesuai kehendak Allah swt. Seperti dalam kasus api yang tidak dapat membakar Nabi Ibrahim, yang menunjukkan adanya sebab tanpa akibat, juga kasus Siti Maryam yang hamil, dimana ada akibat tanpa sebab.

Baca Juga: Mother Of Sciences

Banyak tawaran lain terkait agenda Islamisasi ilmu ini. Dalam Psikologi, seperti yang Ustadz Hamid sebut dalam beberapa kesempatan, Sigmund Freud dengan teori seksualnya sangat problematis. Semua aktifitas manusia dia gambarkan sebagai bagian dari orientasi seks, dari bekerja, masuk kuliah, berbisnis, bergerak di bidang politik dan seterusnya. Teori yang berkembang dari asumsi sekularistik semacam inilah yang perlu diislamkan.

Bisa kita baca, ketika saintis melihat manusia hanya dengan epistemologi rasionalisme-empirisisme, maka manusia hanya akan dimaknai sebagai realitas fisik, dan mengkajinya pun dengan metode empiris-kuantitatif. Bahkan ujungnya, lanjut Ustadz Hamid, epistemologi itu akan menafikan aspek non-fisik manusia seperti jiwa, hati, akal dan ruh, dan menafikan metode khabar shadiq berupa wahyu untuk mengkajinya.

Dalam ilmu sosial-humaniora, misalnya, perlu kita analisa dan kritisi, apa makna kemajuan? Benarkah indikator utamanya berupa kesejahteraan ekonomi dan berkembangnya teknologi, seperti di Barat? Apa hakikat bahagia? Bagaimana konsep masyarakat ideal? dan seterusnya.

Untuk menggambarkan urgensinya, Ustadz Hamid mengingatkan pentingnya memahami setiap kata, sebab setiap kata mengandung makna tertentu, setiap makna terkandung konsep yang mencerminkan worldview, ideologi dan keyakinan tertentu, yang sekali lagi, semakin menegaskan sifat ketidaknetralan ilmu. Itulah diaantara proyek islamisasi ilmu, yaitu islamisasi konsep-konsep yang berkembang di keilmuan Barat, sebagai manifestasi dari worldview-nya yang sekular.

Bagaimana mengislamkan Teknologi?

Itulah salah pertanyaan yang dilontarkan mentor diskusi tadi malam. Ustadz Hamid memulai jawabannya dengan menjelaskan bahwa teknologi adalah sains terapan, produk yang aplikatif, sehingga kita tidak bisa mengislamkannya secara layaknya sains.

“Kita tidak bisa mengislamkan komputer, HP dan lainnya. Disini ia bisa kita sebut netral, manusialah yang menentukan, akan digunakan untuk sesuatu yang baik atau tidak. Untuk itu, islamisasinya adalah cara menggunakannya (aspek aksiologi), dengan asas maqashid Syari’ah”, kata beliau.

Asas yang dimaksud adalah rumusan para ulama dari wahyu, bahwa yang menjadi tujuan utama ditetapkannya Syariah adalah terjaminnya maslahat berupa jiwa, akal, harta, keturunan dan kehormatan manusia. Maka dalam penggunaan teknologi, harus berdasarkan tadi, ditambah dengan prinsip adab dan etika Islam, sehingga mendatangkan kebaikan, dan bukan sebaliknya.

Jawaban Ustadz Hamid ini, jika kita telaah, sesuai dengan uraian Prof. Alparslan Acikgence terkait makna sains Islam. Yaitu, sebagai disiplin ilmu yang memancarkan Worldview Islam, dimana unsur dan komponen utamanya adalah hal-hal prinsip Islam berupa bangunan metafisika (konsep Tuhan, konsep agama dsb), epistemologi (konsep ilmu dan kebenaran), hukum (Fiqih, Maqashid Syariah), dan aksiologi berupa adab-etika (tata nilai kebajikan, konsep baik dan buruk, akhlak sehari-hari, dan lainnya).

Baca Juga: Kurikulum Islamisasi Sains: Realisasi dan Harapannya

Definisi di atas, selain sebagai pra-syarat islaminya sebuah sains, tentu juga bisa diterapkan dalam teknologi. Indikator islaminya adalah jika terpenuhinya unsur dan nilai-nilai tadi dalam tujuan penggunaannya. Jika itu tidak dipenuhi, maka akan terjadi kekacauan pada alam, hewan dan mineral, seperti yang diingatkan Prof. Al-Attas berpuluh tahun lalu.

Kasus yang kita lihat, berapa banyak kecanggihan teknologi namun digunakan untuk kemaksiatan, merusak sistem negara, memanipulasi data, dan lainnya. Para ilmuan bekerja bukan atas nama kebenaran dan maslahat, tapi demi materi dan kepuasaan pemilik modal, tidak perduli untuk apa nanti produk yang ia ciptakan. Bisa untuk membunuh manusia, mengeksploitasi alam dan lainnya.

Sampai Jurgen Habermas pun mengkritik tajam terhadap saintis pada masanya, yang takluk pada ideologi Nazi, dan tidak bisa berbuat banyak kecuali memenuhi kepuasan politik pemerintah. Semua itu ia tuangkan dalam karya monumentalnya, Knowledge and Human Interest. Inilah yang turut menjadi perhatian Ustadz Hamid. Maka, dalam kerangka ini, islamisasi teknologi dengan prinsip Maqashid menemukan relevansinya.

Dr.-Hamid-Fahmy-Zarkasyi-M.A.-M.Phil_.-menjelaskan-tentang-Islamisasi-di-UNIDA-Gontor

Penutup

Masih banyak isu, tantangan dan peluang Islamisasi yang disampaikan Ustadz Hamid tadi malam. Karena terbatasnya ruang, reportase ini kami cukupkan sampai disini. Setidaknya, catatan sederhana dari uraian panjang beliau ini turut menambah keyakinan kita bahwa Islam telah telah memberikan ketetapan kepada pemeluknya berupa aturan dan arahan yang komprehensif, mencangkup seluruh aspek kehidupan manusia. Maka, meminjam penjelasan Alparslan, Islam pun sejatinya juga telah memberikan pedoman dan panduan kepada kita bagaimana seharusnya berilmu, untuk kemudian kita gali dan terapkan dalam pegembangan sains dan teknologi. Wallahu A’lam.

One Comment

  1. Pingback: Kajian Eksklusivisme : Bagaimana Menjadi Pribadi yang open minded?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *