afi.unida.gontor.ac.id- Ketika  kami duduk dibangku KMI, dalam banyak event dan perkumpulan beliau ayahanda KH Abdullah Syukri Zarkasyi (syifaahu Allahu) memberikan kami pesan seperti ini “kalian dididik di Gontor  untuk menjadi kader kader pemimpin umat”. Karena memang betul bahwa Gontor adalah lembaga kaderisasi pemimpin umat dan Gontor sengaja di bentuk untuk menjadi tempat berlatih hidup yang ideal. Serasa kepercayaan diri muncul karena perkataan beliau yang disampaikan kepada santri santrinya di waktu banyak acara perkumpulan di Gontor, seakan datang setruman kuat yang membangun jiwa kami untuk terus memantapkan langkah belajar di Gontor. Lantas bagaimana tugas dan apa yang harus dilakukan sebagai kader, tentu sebagai kader harus mempersiapkan diri dalam berbagai hal, terutama dalam hal spiritualitas diri, kematangan diri, penyesuaian diri. Jadi memang setiap kepala dari kita sebagai alumni gontor mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar dalam menghadapi tantangan hidup di masa depan.

Baca juga: Guru ngaji versi falsafah gontory

Menjadi pemimpin bukanlah impian setiap orang, tetapi setiap orang haruslah mempunyai bekal bagaimana cara memimpin, karena yang diatur bukan saja hal hal yang bersifat materil yang penyelesaianya dengan kemampuan mekanik, tetapi ada yang lebih rumit dari pada itu yaitu pola fikir, sikap dan perilaku manusia yang dipimpin. Siap memimpin dan siap dipimpin adalah salah satu filosofi pondok modern gontor yang sudah tertanam disetiap jiwa jiwa santri Gontor. Apalagi di setiap kegiatan yang ada di gontor pasti sarat akan pembelajaran kepemimpinan. Katakan saja kepramukaan, menjadi ketua rayon, pengurus rayon, ketua kamar hingga pada lingkup yang lebih kecil yaitu ketua kelas.

Berikut beberapa pemaparan ayahanda kyai Abdullah Syukri Zarkasyi untuk menjadi pemimpin yang tangguh dan prima, diharapkan seorang pemimpin mempunyai hal hal berikut yaitu daya dorong, daya tahan, daya juang, daya suai, dan daya kreatif. Daya dorong adalah inti dari kepemimpinan, karena setiap orang harus mempunyai tekat yang besar, semangat dalam belajar sepanjang hayatnya. Tidak hanya untuk dirinya tetapi yang lebih penting adalah bekalnya untuk mendorong kekuatan orang-orang yang dipimpin.

Baca juga: Hindari riya’ tampilah dengan akhlaq dan ilmu

Kedua yaitu daya tahan, ketika seorang pemimpin dituntut untuk mempunyai daya dorong, ketika itu juga dia tertuntut untuk mempunyai daya tahan, karena daya dorong akan kuat jika daya tahanya baik, untuk apa? untuk memperkuat dirinya dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Dengan daya tahan maka problema dan tantangan akan mudah di hadapi dan dicarikan solusi, bertahan yang baik adalah dengan menyerang maka tidak boleh bertahan yang pasif tapi haruslah bertahan yang aktif. Pak Sahal, salah satu pendiri Gontor bila sedang menghadapi berbagai cobaan, beliau akan selalu  berkata ”Eee.. koyo ngono to, ayo,  jajal awak, tak hadepane, mendaho mati, rawe-rawe rantas, malang-malang putung.. (Eee.. begitu to, ayo, mencoba diri, saya akan hadapi, saya tidak mungkin mati…)”. 

Ketiga adalah daya juang, perjuangan adalah tanda kehidupan, dengan berjuang dan bersungguh sungguh akan mendapatkan solusi dalam permasalahan, karena yang terpenting dalam setiap pekerjaan adalah kesungguhanya من جدّ وجد. Perjuangan di muka bumi ini amat sangat banyak sekali, tetapi perjuangan yang akan menjadi sulit adalah perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah SWT, tentunya ini penuh tantangan. Maka solusi terbaik adalah pendekatan kepadaNya dan hanya bersandar kepadaNya. Yakin akan kebesaraNya dan selalu bertawakkal kepadaNya, hilangkan prasangka buruk dan yakin akan segala kebaikan dan hikmah dariNya من عرف الله أزال التهمة وقال كل فعله بالحكمة

Keempat adalah daya suai, yaitu kemampuan seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang luwes, tidak frontal, selalu menyesuaikan keadaan dalam menghadapi berbagai macam dan karakter manusia, menggunakan soft power (kekuatan lunak). Daya suai ini tidak akan dimiliki seorang pemimpin jika tidak mempunyai pengetahuan yang luas, serta menguasai permasalahan. Disinilah pentingnya seorang pemimpin untuk terus belajar menambah wawasan, terus berfikir, mencari pengalaman dan memperbanyak pergaulan. Sehingga mampu menghadapi berbagai bentuk manusia baik yang ia sukai atau yang tidak ia sukai.

Baca juga: Hakekat sukses dalam islam

Kelima adalah daya kreatif, penting adanya daya kreatif bagi seorang pemimpin apalagi didalam kehidupan yang penuh kompleks ini. Maksud disini adalah seni memimpin, agar dengan mudah mengajak dan mengarahkan kepada apa yang dituju. Kepemimpinan yang pasif akan menimbulkan kejenuhan. Contohnya dalam hal berbicara, harus dapat mengajak dan membangun, tidak monoton, tidak tegang selalu, tidak terus bernada tinggi dan menggebu gebu tetapi diberi variasi humor untuk memancing perhatian mereka. Contoh lain dalam hal pendekatan terkadang sesekali kita perlu marah tetapi marah yang dikuasai harus tetap terkendali, harus disupport dan  dimotivasi bahkan dihargai. Maka siapa yang paling kreatif dia akan bertahan dan menang.

Disamping itu semua ayahanda KH Abdullah Syukri Zarkasyi selalu mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus bertindak tegas, berani mengambil resiko dan selalu mengambil langkah perbaikan. “Kalian ini mau ngikuti kata hati apa kata orang? Kalau nuruti kata hati jangan pedulikan kata orang, sebab kita mau bergerak bagaimanapun pasti akan dikomentari orang”. Tutur kyai Syukri kepada santri santrinya.

“Maka jika kamu ingin maju jangan dengarkan kata orang, mau bagus atau jelek sudah jalani saja, jika jelek dievaluasi di tengah jalan dan jika bagus maka ya harus di syukuri. Dengerin kata orang itu tidak ada habisnya, bahkan jika kita tidak bergerak sekalipun pasti akan tetap dikomentari, ini orang masih hidup atau mati kok hidupnya diam saja, terlebih jika kita bergerak pasti lebih banyak cuitan orang”. Kata Kyai Syukri.

Oleh karena itu ikutilah kata hatimu, percaya. Kata Rosulullah “ istafti qolbak” jadilah pemimpin yang percaya diri, teguh keyakinan, berhati mulia, dan tinggi akan cita cita, sebesar keinsyafanmu sebesar itupula keuntunganmu.
Rep: Yazid Zidan Prabowo, Mahasiswa Prodi AFI UNIDA GONTOR
Dikutip dari buku Bekal Untuk Pemimpin Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.

One Comment

  1. Pingback: Telaah Said Nursi, Kajian Menarik Dalam Fokus Terakhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *