Oleh: Muhammad Faqih Nidzom
Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gontor

UNIDA Gontor – Salah satu peneliti INSISTS, Dr. Adian Husaini mendapati temuan menarik tentang sejarah sains. Sejarawan Irlandia, Tim Wallace Murphy, dalam bukunya “What Islam Did For Us; Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” mengakui jasa besar keilmuan Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern di Barat. Murphy menggambarkan bahwa kehidupan di wilayah Muslim Spanyol canggih, terpelajar, dan rezim toleran. Sedangkan kehidupan bagi sebagian besar Kristen Eropa singkat, brutal, dan biadab.

Di buku itu, Murphy juga menyatakan bahwa Kristen Eropa mengenal ilmu pengetahuan bukanlah langsung dari warisan tradisi Yunani, tetapi melalui buku-buku berbahasa Arab para ilmuan muslim dan Yahudi. Mereka belajar dan menerjemahkan secara bebas pada pusat-pusat pembelajaran Islam di Spanyol. Karena itulah, ia menyatakan bahwa Barat mempunyai hutang yang sangat besar dan tak ternilai terhadap kaum muslim. Hutang itu selamanya tidak akan pernah bisa dibayar.

Baca Juga: Mengkaji Asas Peradaban Ilmu dari Ismail Raji al-Faruqi

Dari hasil bacaan sementara saya, banyak sejarawan Barat lainnya yang menulis serupa. Jonathan Lyons misalnya, seorang peneliti di Global Terrorism Reseach Center Melbourne-Australia. Dalam bukunya “The Great of Bait al-Hikmah”, ia mengakui peradaban Barat mustahil ada tanpa sumbangsih sains Islam. Untuk sedikit mengambarkan, Jonathan menyebutkan kontribusi pengetahuan alJabar al-Khawarizmi, pengobatan dan filsafat Ibnu Sina, warisan geografi dan perpetaan al-Idrisi yang tak lekang oleh waktu, rasionalisme cermat Ibnu Rusyd.

Adapun kontribusi paling penting yang diberikan Arab dan Islam secara keseluruhan di jantung dunia Barat kontemporer, masih menurut Jonathan, adalah kesadaran bahwa ilmu pengetahuan dapat memberikan kuasa atas alam kepada manusia. Keengganan Barat mengakui warisan Arab (Islam) awalnya dimulai beberapa abad lalu, seiring propaganda anti-Muslim yang disebarkan di bawah panji perang Salib. Hal ini menguat di era Renaisans dimana saintis Barat sengaja meminggirkan peran Islam. (Lihat: The Great Bait al-Hikmah, terj. Maufur, hal. 6-8).

Apa yang bisa kita catat? Tentu kita tidak bermaksud mengglorifikasi kejayaan masa lalu. Tapi peringatan Muhammad Asad (Leopold Weiss) “No civilization can prosper or even exist, after having lost this pride and the connection with its own past” ini perlu kita hayati. Bahwa kita punya akar sejarah yang kuat, yang harus dimengerti dan diambil hikmahnya. Tak kalah penting, bahwa disana banyak sekali agenda sains Islam, terutama riset-riset dengan pendekatan historis seperti yang disarankan Prof. Paul Lettinck, kesadaran inilah yang semestinya kita hadirkan.

Baca Juga: Mother Of Sciences

Dalam salah satu wawancara dengan Direktur INSISTS, Dr. Syamsuddin Arif, Prof. Paul menjelaskan fakta bahwa saat ini banyak orang tidak tertarik pada sejarah sains, walaupun seseorang tetap bisa menjadi saintis yang ahli di bidangnya tanpa paham sejarah sains sama sekali. Namun, lanjutnya, dengan mengetahui sejarah, seseorang akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tetang apa sebenarnya sains itu, apa hakikat dan tujuannya. Ia juga akan mendapat gambaran yang jelas dan akan semakin memahami bagaimana orang pada zaman yang berbeda dan kultur yang berbeda ternyata bisa memiliki pandangan dan pendekatan yang berbeda dalam mempelajari alam ciptaan Tuhan.

Dr. Syamsudin Arif (Kiri) bersama dengan al-Ustadz. Moh. Faqih Nidzom (Kanan)

Dengan urgensi seperti ini, Prof. Paul kemudian menjelaskan beberapa tantangan dan peluang yang bisa diambil para peneliti muslim sebagai agenda Islamisasi Ilmu dengan pendekatan ini. Ia memulai dengan memaparkan fakta bahwa disana masih banyak sekali karya-karya saintis Muslim dalam bentuk manuskrip yang tersebar dan tersimpan di perpustakaan di seluruh dunia, baik perpustakaan universitas maupun lembaga-lembaga swasta dan milik pribadi. Tidak ada yang tahu persis berapa jumlahnya dan apa isinya. Untuk itu, agenda pentingnya adalah seperti yang disampaikan beliau berikut:

“The challenge is first to discover these manuscripts, to edit, print, and publish them. Then, to study the text, to find by which previous texts these works were influenced, and what was their influence on other works in their time and later times. For this a knowledge of Greek and Latin may be needed. A translation into English would make the text available to a larger public worldwide.”

Baca Juga: Kurikulum Islamisasi Sains: Realisasi dan Harapannya

Jadi, Secara praktis menurutnya ada beberapa langkah yang bisa diambil. Pertama, melacak keberadaan karya-karya tersebut, mendata dan mengedit seta menerbitkannya. Kedua, meneliti dan menguraikan isinya, membandingkan dengan teks-teks sejenis dari periode sebelum maupun sesudahnya, menentukan hubungan atau keterkaitan di antaranya, dari segi apa, sejauh mana, dan seterusnya. Untuk inilah diperlukan penguasaan bahasa Yunani (Greek) dan Latin, disamping penguasaan bahasa Arab dan latarbelakang pendidikan sains yang memadai.

Ketiga, mempublikasikan hasil riset tersebut, terutama dalam bahasa Inggris, karena akan memperluas cakupan manfaat maupun dampaknya kepada masyarakat pembaca di tingkat Internasional. Dari sini bisa kita lihat, masih banyak yang perlu dikerjakan oleh mereka yang memiliki perangkat-perangkat linguistik dan saintifik.

Setelah kita telaah, pendekatan historis secara sederhana bisa juga disebut dengan studi tentang sejarah keilmuan, yang oleh Dr. Adi Setia lihat sebagai salah satu makna sains Islam, yaitu disiplin ilmu yang mengkaji sejarah perkembangan sains dan teknologi dalam peradaban Islam serta kaitannya dengan perkembangan sains dan teknologi di dunia barat. Perkembangan ini, lanjutnya, menjadikan Sains Islam sebagai salah satu cabang dari sejarah Sains (History of Sciences) yang lebih luas.

Terkait agenda dalam pendekatan ini, Dr. Adi memberi beberapa contoh karya hasil penelitian, seperti; George Saliba dengan bukunya Islamic Science and the Making of the European Renaissance, Donald R.Hill dengan Islamic Science and Engineering, Noor Zakiyah binti Saparmin dengan Qutb al-Dīn al- Shīrāzi’s Nihāyat al-Idrāk fi Dināyat al-Aflāk, Nurdeng Duerseh dengan Al-Biruni’s Fihrist al-Razi’s Biodata and his Medico-Philosophical and Educational Contributions, dan banyak lagi lainnya. (Lihat di buku Islamic Science: Paradigma, Fakta dan Agenda, hal. 44-46).

Baca Juga: Tawaran Solutif Menjawab Probematika Umat di Era Kontemporer

Dua artikel Dr. Syamsuddin Arif dengan judul “Sains di Dunia Islam: Fakta Historis-Sosiologis” dan “Transmigrasi Ilmu Dari Dunia Islam ke Eropa” adalah diantara karya bermutu yang tidak bisa dilewatkan dalam bidang ini. Semestinya ia menjadi stimulus para peneliti berikutnya untuk menggali lebih jauh.

Secara lebih konkrit dan sederhana, Dr. Syamsuddin dalam seminar kelas pernah menyarankan agar ada mahasiswa di bidang kedokteran misalnya, yang meneliti satu pohon atau tanaman yang disebutkan Ibnu Sina dalam al-Qānūn fi-t-Tibb, digunakan untuk mengobati penyakit apa dan bagaimana metodenya. Begitu juga dengan mahasiswa di jurusan lain, bisa menerapkan pendekatan ini untuk penelitiannya. Demikian sekelumit tentang Aaenda dan peluang riset Islamisasi Ilmu dengan pendekatan historis. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *