Selasa, 3 September 2019 Mahasiswi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam mengunjungi Kantor Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jakarta. Para mahasiswa langsung disambut oleh Ibu Maya Sephana, S.Kom,  MM selaku Kasubag Perencanaan Deputi Bidang kesetaraan Gender dan Ibu Siti Mardlyyah sebagai Kabag perencanaan data dan pelaporan.

Dalam pemaparanya, Ibu Mardliyah menyatakan pihak kementrian sulit mensosialisikan program pemberdayaan karena Istilah Gender yang difahami  KPPPA berbeda dengan pemahaman masyarakat luas.  “Istilah kesetaraan gender selalu saja mengusung hal-hal negatif dan sulit diterima oleh masyarakat pada umumnya. Karena kebanyakan lebih merujuk pada paham feminisme dan isu-isu LGBT” papar Ibu Deputi.

baca juga RUMAH RAMAH PEREMPUAN CEGAH PEREMPUAN ALAMI KEKERASAN BERBASIS GENDER DALAM BENCANA

Kesetaraan gender yang dimaksud oleh KPPPA memiliki makna yang cukup luas,  bukan hanya mencakup isu hak-hak laki-laki dan wanita,  tetapi mencakup pemenuhan hak semua segmen masyarakat, seperti lansia, disabilitas, sampai anak-anak.

Khusus wanita, Kesetaraan yang dimaksud bukanlah Gender perspektif feminisme dan LGBT yang memandang Gender sebagai ajang yang menjadikan perempuan perkasa atau super woman dan menginjak-injak martabat laki-laki. Melainkan, kesetaraan gender yang diperjuangkan oleh KPPPA adalah kesetaraan hak wanita dalam berpolitik, bernegara, dan lain sebagainya dalam hal pembangunan.

Gender dan Pemberdayaan Wanita Perspektif KPPPA

“Kami lebih memilih mengurus kesetaraan hak-hak perempuan dan perlindungannya dalam hal pembangunan negara dibandingkan mengurusi masalah feminisme dan LGBT yang tidak ada habisnya itu”. Lanjut Beliau Sang Deputi.

Dalam hal ini, KPPPA telah memberikan peluang untuk para perempuan Indonesia. Maka, harapan KPPPA untuk perempuan Indonesia adalah agar perempuan menjadi lebih cerdas dalam menghadapi era globalisasi, khususnya era 4.0 saat ini.

baca juga MEMAKNAI ISTILAH “SINGA BETINA”

Sebagai contoh, Wanita harus memaksimalkan penggunaan teknologi hingga mencari solusi terhadap suatu masalah dengan teknologi. Karena pada hakikatnya, perempuan adalah fondasi keluarga dan fondasi generasi selanjutnya bukan masyarakat level kedua yang selalu dipandang sebelah mata. Dalam kaca mata pesantren Al-Ummu madrosatu-l-ulaa, ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Berhubungan dengan hal ini, tidak ada salahnya bagi perempuan untuk berkarir dan meningkatkan kapasitas untuk kepentingan dirinya dan anak-anaknya. Justru ibu yang baik akan melahirkan generasi yang baik pula. Oleh karena itu, perempuan dituntut untuk menjadi wanita hebat dalam karirnya, istri yang baik bagi suaminya, dan ibu yang cerdas bagi anaknya, dengan tidak menyalahi kodratnya sebagai wanita.

Rep :Alifia Kurnia Zainiat
Mahasiswi Sem V Program Aqidah dan Filsafat Islam – Kampus Mantingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *