afi.unida.gontor.ac.id Mengapa Belajar Filsafat? Sebuah pertanyaan yang diangkat menjadi tema pada diskusi “Ngopi” atau Ngobrol Pemikiran Islam sebuah kegiatan diskusi antar mahasiswa yang diorganisir oleh HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Aqidah dan Filasafat Islam. Kegiatan mingguan ini dilakukan secara rutin dan dengan tujuan melatih mahasiswa dalam berargumentasi dalam penyampaian opini, melatih mental mahasiswa dalam membangun dan menerima kritikan serta masukan yang diberikan oleh teman-teman serta menumbuhkan sikap saling mengerti.

Rabu, 4 September 2019 Ngopi kali ini mengangkat tema “Mengapa Belajar Filsafat ?” Pertanyaan ini menjadi pembuka pintu diskusi pada pertemuan kali ini. Mawardi mahasiswa AFI semester I berargumentasi bahwa prilaku manusia didasari oleh pola pikir untuk itulah kenapa kita mempelajari filsafat. Ditambah dalam berpikir dikoridor filsafat, pola pikir kritis menjadi salah satu cirinya sehingga dengannya manusia bisa mengevaluasi segala prilaku keseharaiannya.

“Berargumentasi bahwa tidak hanya kritis, berfilsafat juga harus berpikir secra mengakar atau bahasa ilmiahnya radikal
Haikal (AFI I)

Selain Mawardi, Said (AFI 1) tidak kalah dalam berargumentasi bahwa yang mempengaruhi prilaku manusia tidak hanya pola pikir namun ada juga nafsu atau kehendak yang dengannya pola pikir terbentuk dan lahirlah prilaku manusia.

Selain apa yang menjadi dasar dari pola prilaku manusia, Haikal (AFI I) berargumentasi bahwa tidak hanya kritis, berfilsafat juga harus berpikir secra mengakar atau bahasa ilmiahnya radikal (terma dari kata radic). Kritis tidaklah cukup dalam memahami dan menelaah sesuatu namun perlu dan harus sampai ke akar.

Memang secara teori berfilsafat itu berpikir secara kritis, logis, radikal, dan menyeluruh. Lantas kenapa orang yang bisa berpikir semacam ini atau sudah mengaplikasikan filsafat tidak dikatakan sebagai filosfof?

Beda Berfilsafat dan Seorang Filosfof?

Hal ini bisa dianalogikan dengan semua orang bisa menedang bola namun kenapa ada yang bernama atlet bola? Hal ini sama dengan filosof. Seperti yang diungkapkan oleh Choirul Ahmad (AFI V) Filosof dikatakan filosof jika ia mempunyai main idea atau pemikiran utama yang mempengaruhi orang dan dengannya membuat aliran atau pengikut yang besar, Ia mempunyai suatu pemikiran kreatif dan inofatif yang menjadi ide barunya.

Dan walaupun ada kesamaan pada tataran tertentu, ada karakteristik yang berbeda di sisi yang lain. Lebih jauh lagi dengan aliran pemikirannya filosof itu bisa dikatakan seorang Mujadid. Dengan artian memperbarui di eranya dan tidak hanya menemukan teori-teori yang sempit saja. Seperti ilmuwan yang berimplikasi pada tatanan yang sempit. Dan bisa dikatakan bahwa seorang ilmuwan dipengaruhi oleh seorang filosof.

Reporter: Hanif Maulana Rahman AFI V

Baca Juga

One Comment

  1. Pingback: Sambut Tahun Baru Hijriah Dengan Gebyar Muharram Gebyar Muharram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *